
Samuel rupanya sama sekali tidak peduli dengan pria yang berdiri di samping Yuri. Mungkin karena sangat senang bisa bertemu dengan Yuri di sini. Ini pertama kalinya Samuel masuk ke area perkantoran, biasa nya Samuel hanya berada di area gudang.
"Yuri.., ternyata kau bekerja di sini ya? Ya ampun Yuri. Pertama masuk ke area perkantoran aku beruntung bisa langsung bertemu dengan mu." Samuel merengkuh pundak Yuri dan hampir saja memeluk nya. Beruntung Yuri segera menahan tubuh Samuel dan mendorong dengan kuat.
'Aduh, pergi dari kak Sam, pergi. Kalau tidak kau akan mati.' Seru Yuri tanpa suara, mata nya berkedip kedip memberi kode pada Samuel. Tapi Samuel tidak mengerti.
"Kak Samuel kerja di sini ya?" tanya Yuri , tapi matanya melirik Sekretaris Ang yang sudah mengepalkan tangan nya.
"Iya Yuri, aku bekerja di sini. Kamu.." tangan Samuel yang hampir kembali menyentuh tangan Yuri namun langsung di tangkap oleh sekretaris Ang tepat di lengan nya.
"Singkirkan tangan mu dari wanita ku atau tangan mu akan patah sekarang juga..!!" Ang menatap tajam Samuel dan mencengkeram lengan pria itu.
"Hei, kamu siapa? Wanita mu, maksudnya.?" Samuel menoleh pada Yuri yang sudah pias.
"Yuri, dia siapa sih?" melepaskan tangannya yang langsung terasa sakit, padahal hanya di cengkeraman sedikit. Tapi rasanya tulang nya sudah retak saja.
"Aku calon suami nya. Jika kau masih sayang dengan nyawamu sebaik nya jangan pernah memanggil namanya lagi!" sahut Sekretaris Ang. Langsung menarik tangan Yuri.
"Eh, eh. Tunggu tunggu. Mana mungkin kau calon suami Yuri? Aku tidak percaya!" ucap Samuel. Menahan sebelah tangan Yuri.
"Bukan nya kau sekretaris nya Yuri? Kau pikir hanya karena aku karyawan magang di sini lalu aku akan takut padamu , begitu? Meskipun kau seorang sekretaris atau senior sekalipun, Hahaha.. Aku tidak takut padamu bung! Kecuali kalau kau itu adalah sekretaris utama yaitu Tuan Ang, baru aku akan takut." dengan satu tangan berkacak pinggang.
Ang ingin tertawa sebenarnya, tapi begitu melirik tangan Yuri yang sudah di genggaman Samuel, darah Ang mendidih. Ia memutar tubuhnya.
Sadar jika hal buruk bakal terjadi, Yuri tak tinggal diam. Melepaskan tangan Samuel dan menangkap dada Ang yang sudah bergerak mendekati Samuel dengan kedua tangan nya. Tak peduli jika tangan satunya masih menenteng rantang.
"Sayang... Kita, kita makan saja yuk. Nanti Makanan ini keburu dingin lho." merayu. Panggilan asing Yuri sedikit menggelitik hati Ang, yang langsung mampu membuat sekretaris Ang mengerem emosinya.
Lalu Yuri menoleh pada Samuel. "Kak Samuel, maaf ya.. Saya harus menemani calon suami saya makan siang. Maaf ya.. Kak Samuel sebaiknya lanjut kan pekerjaan nya saja. Oke?"
"Jadi dia benar calon suamimu?" Samuel bengong.
"Eh, iya. Benar kok. Tuan Ang, memang calon suamiku. Bukan sekretaris ku."
"Tuan Ang, maksudmu? Dia , dia Tuan Ang.. Tuan Ang.."
"Iya kak Sam, Tuan Ang. Sekretaris Tuan muda Garra." sahut Yuri.
Glubrak!!!!!
Dunia hampir runtuh bagi Samuel, tapi belum sempat bertanya lagi Sekretaris Ang sudah menarik tangan Yuri untuk melangkah. Meninggalkan Samuel dengan sejuta keterkejutan nya.
"Tuan Ang, sekretaris utama? Tidak, mana mungkin. Mana mungkin?? Yuri pasti berbohong!" menoleh ke sekeliling. Seluruh mata milik karyawan yang kebetulan memang berada di situ , yang sedari tadi sudah menonton darma gratis mereka tertuju pada Samuel. Belum juga rasa kaget nya hilang, seseorang menghampiri nya.
"Kau ini? Anak magang kan? Apa kau sedang demam?" menyentuh dahi Samuel dengan tangan nya.
" Tidak demam, tapi Suhu badan nya dingin sekali." ucap nya menoleh pada teman nya yang juga mendekat. Hingga beberapa karyawan pria dan wanita mengerumuni Samuel.
"Benar , dia anak magang. Berani sekali kamu. Punya nyawa berapa hah?!" ucap salah satu dari mereka.
"Kau tidak tau Pria tadi siapa? Sekretaris Utama Perusahaan ini!" tambah nya.
"Berani menyinggungnya sama saja masuk ke kandang serigala." menyentuh bahu Samuel.
Samuel semakin lemas.
"Apa ini? Apa ini? Mana mungkin?? Matilah aku!" Samuel tersandar di tembok.
Melihat keadaan Syok Samuel , mereka Satu persatu malah pergi meninggalkan Samuel dengan berbisik bisik.
[ Anak magang yang terlalu percaya diri. Kasian sekali, bagaimana kelanjutan nya hari esok.]
[ Hanya satu kata , pasti di tendang oleh sekretaris Ang.]
[Ku rasa sebelum itu terjadi, dia sudah kena mental duluan.]
Samuel semakin Frustrasi, bayangan buruk menghampiri pikirannya.
"Kenapa Aku ceroboh? Kenapa tidak bertanya secara jelas dulu pada Yuri? Terlambat , terlambat.!" berjalan lunglai dengan menggunakan sisa tenaga nya untuk kabur dari pandangan asing mereka yang masih ada di sana.
'Tuan Ang.. Tuan Ang..! Sekretaris Utama! Apa yang sudah ku lakukan...?? Ah...!!' nampak frustrasi sekali.
"Apa aku mati saja ya? Atau mengundurkan diri cepat cepat! Tidak...!! " Samuel benar benar putus asa.
"Aku harus minta bantuan pada Yuri. Jika benar Tuan Sekretaris adalah kekasihnya, Yuri pasti bisa merayunya agar mau mengampuni ku." terus saja meracau.
**
Ang sudah ada di ruangannya bersama Yuri , duduk berhadap hadapan tanpa suara.
Sekretaris Ang masih menatap tajam Yuri dengan tatapan yang menusuk hati Yuri, makin membuat Gadis kecil itu pucat dan tak berani mengangkat wajahnya sedikit pun.
__ADS_1
'Aduh, bagaimana ini? Kenapa matanya seram sekali? Seperti hendak menelanku saja.' hati Yuri kecut.
' Kak Samuel, kenapa harus bertemu kak Sam di sini? Kacau semua khayalan ku gara gara nya. Awas saja, jika hubungan yang baru ku mulai ini berantakan, aku bersumpah akan mencekik mu!'
Ang bergerak. Kini berpindah duduk di sebelah Yuri. Masih dengan tatapan mematikan miliknya.
Lalu mengangkat dagu Yuri dengan telunjuknya.
'Mati aku, mati aku!' Yuri gemetaran saat beradu mata dengan Sekretaris Ang.
"Aku ingin bertanya! Kau sengaja kemari untuk bertemu denganku atau sampah itu?"
'Mana mungkin, mana mungkin? Aku bahkan tidak tau jika dia bekerja di sini?'
"Jawab Yuri!"
"Anda Tuan. Jelas Anda!" cepat menjawab dengan tegas.
"Jangan memanggilku Tuan! Kau baru saja memanggilku dengan sebutan lain di depan si sampah tadi. Baru beberapa menit kau sudah melupakan nya?"
'Hah! Apa, apa? Panggil apa?'
sungguh Yuri saat ini seperti ingin lari saja.
"Kau tadi panggil apa? Aku belum lupa lho?"
"Sayang Tuan. Eh iya Sayang." untung Yuri segera ingat. 'Aduh.. panggilan apa sih ini?'
"Bagus, mulai sekarang panggil aku begitu." melepaskan telunjuknya.
"Huh!" Yuri menghela nafas.
"Kau senang kemari?"
"Tentu saja. Saya senang Tuan!"
Sekretaris menoleh.
"Ah, iya. Saya senang, sayang. Iya Sayang... Saya senang sekali bisa kemari. Dan bisa bertemu.._"
"Dengan nya begitu?"
"Tidak!!!" Yuri berteriak.
"Ya Tidak."
"Tidak senang bertemu dengan ku?"
"Aduh..! Kok salah terus sih? Saya senang bertemu dengan anda sayang...Dan tidak senang bertemu dengan kak Samuel. Saya juga tidak tau jika dia bekerja di sini."
Sekretaris Ang mendekat, mendekatkan wajahnya pada wajah Yuri.
"Bisa tidak , untuk tidak memanggilnya kakak. Kak.. kak.. kak..kak.. Aku tidak suka mendengarnya! Dan jangan lagi menyebut nama nya. Telinga ku sakit!" menarik tengkuk Yuri.
"Panggil kakak hanya padaku saja!"
"Ayo panggil!!" meremas tangan Yuri.
"Iya.. iya."
"Apa?"
"Kakak!"
"Kakak sayang. Panggil begitu. Ingin menjadi kekasih ku bukan?" masih menatap tajam.
"Kan sudah memang? Baik Lah. Kakak sayang? Kakak ku sayang? Puas!!"
"Lepaskan saya sekarang! Jangan menatapku seperti itu lagi. Saya takut Tuan."
"Apa kau bilang!"
"Ah, kakak sayang. Jangan menakuti ku. Aku takut melihat mata mu!" Yuri mendorong wajah sekretaris Ang yang makin mendekat.
"Maaf, jika sudah menakuti mu. Tapi aku memang ingin menghukum mu karena banyak nya kesalahan mu hari ini." kini menempelkan keningnya di kening Yuri.
"Apa lagi kakak?? Kan sudah jelas jika ini semua hanya kesalah pahaman saja. Tolong lepaskan saya." rengek Yuri.
"Tidak bisa! Selain si Samsul tadi, kau juga sudah menganggu waktu ku. Pekerjaanku dan juga konsentrasi ku sepanjang pagi ini bocil."
"Tapi tapi, saya tidak tau jika sudah mengganggu anda sayang??" elak Yuri.
__ADS_1
Sekretaris Ang tak peduli. Mendorong pelan tubuh Yuri sampai terbaring di sofa, kemudian mengunci tubuhnya.
"Kau sudah menggodaku. Kau sendiri yang sudah memilihku menjadi kekasih mu. Jadi terimalah resikonya berpacaran dengan pria dewasa seperti ku Yuri!"
"A..a .. aku."
Sekretaris Ang tak membiarkan Yuri bersuara lagi. Segera membungkam mulutnya dengan bibirnya.
Menciumi bibir Yuri dengan lembut dan dalam. Dan tak membiarkan Yuri bergeser sedikit pun dari tubuhnya.
Yuri yang tadinya berusaha berontak, pelan pelan tumbang juga. Pertahanannya mulai melemah. Pikirannya terobrak ambrik sudah. Kini bukan hanya pasrah, namun membalas ciuman bibir Sekretaris Ang , membuat pria dewasa itu semakin brutal dengan bibirnya.
Lama mereka berciuman, mengambil jeda waktu untuk menarik nafas lalu mengulangi lagi dan lagi. Tangan sekretaris Ang terlihat gemetaran ingin bergerak menelusup ke baju Yuri. Namun masih bisa menahannya dengan mencengkram kuat sisi sofa dengan satu tangan mencengkram pinggang Yuri dengan kuat. Perlahan menenggelamkan wajahnya di leher si bocah.
Mungkin ada sesuatu yang memuncak yang sedang ia tahan sekuat tenaga, hingga sekretaris Ang menggigit bahu Yuri karena tidak tahan lagi.
"Aaa.. Kenapa menggigit ku Tuan?" Yuri mendorong wajah sekretaris Ang.
"Maafkan aku. Maaf, tidak sengaja." ucap sekretaris Ang mengusap usap bahu Yuri. Lalu mengusap bibir dan wajah Yuri yang memerah itu.
"Kau manis sekali." sekali lagi mencium Yuri.
"Aku takut tidak tahan jika berdekatan dengan mu." keluh Sekretaris Ang.
"Jika tidak tahan bagaimana?" kembali menyambar bibir Yuri.
"Tuan. Ah, kakak sayang... Kita makan saja yuk! Keburu basi masakan saya nanti." ajak Yuri ingin menyudahi perilaku sekretaris Ang.
"Ah, iya. Sampai lupa." Sekretaris Ang menarik tubuhnya dan kembali duduk.
Lalu mengusap wajah nya dengan telapak tangannya, kemudian merapihkan rambut Yuri juga baju Yuri yang hampir saja tertarik oleh tanganya tadi.
Sekali lagi menatap wajah Yuri yang tersipu itu.
"Kau sudah berani memasuki hatiku. Kau sudah nekad menembus pertahanan ku. Jadi, jangan pernah berpikir untuk pergi dari ku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau mengerti bocah?"
"Iya, Tuan. Iya.. Saya tau. Saya memang yang datang, dan saya berjanji tidak akan pergi kok. Tidak akan. Saya akan tinggal di sini. Selamanya. Jangan khawatir." sahut Yuri menunjuk dada Sekretaris Ang.
Sekretaris Ang tersenyum, lalu merengkuh tubuh kecil Yuri dan membawanya dalam pelukannya.
"Jangan melirik pria manapun? Atau aku akan menendang pria itu. Tidak peduli siapapun dia. Termasuk anak magang itu."
'Hah! Tuan Ang masih kesal dengan Kak Sam. Bagaimana nasib kak Sam setelah ini? Jangan jangan sekretaris Ang akan memecatnya? Jika itu terjadi, kasian sekali kak Sam. Bekerja di perusahaan ini adalah impian nya.' pikiran Yuri bergelut, antara senang dengan cinta Sekretaris Ang yang akhirnya ia menangkan dan memikirkan nasib Samuel yang di ujung tanduk.
Sampai sekretaris Ang melepas pelukan nya dan meraih rantang milik Yuri yang terletak di atas meja.
Lalu membuka nya , mulai menyuap dirinya sendiri dan juga menyuap Yuri dengan makanan itu.
"Enak sekali. Kau memasak ini semua sendiri?" tanya sekretaris Ang.
Yuri menggeleng. " Hehe, bukan Kakak!"
Sekretaris Ang seketika menoleh.
"Siapa?"
"Maafkan saya kakak. Saya belum bisa memasak. Ini tadi , Mia yang memasak, saya hanya membantu nya saja. Ah, tapi saya berjanji akan belajar memasak untuk kakak."
Sekretaris Ang tergelak. " Tidak perlu, kau tidak perlu belajar memasak kalau begitu. Biar saja. Kita bisa menyuruh pelayan nanti, atau makan di luar jika kau mau."
'Aa.. Dia ngomong apa barusan? Romantis sekali sih??'
"Tuan tidak marah karena ini bukan masakan hasil tangan ku sendiri?" tanya Yuri.
"Tidak, kenapa harus marah? Aku senang kau sudah mau mengantar makan siang untuk ku, tidak peduli ini bukan masakan tangan mu. Lebih berterimakasih lagi karena.."
Sekretaris Ang menghentikan suapannya, lalu menyentuh bibir Yuri.
"Karena ini. Itu tadi sungguh membuatku bersemangat sekali. Apa lagi, kau mau membalas nya. Aku bahagia sekali."
Yuri tertunduk, sungguh malu hati Yuri saat ini.
"Kau juga suka kan?" bisik Sekretaris Ang.
"Tuan kakak sayang.. Jangan mengungkit nya. Saya kan jadi malu."
Sekretaris Ang tergelak, kembali meneruskan makan nya.
Yuri sendiri menekan dadanya. 'Ya ampun.. Kenapa aku bahagia sekali ? Aaaa... Aku bahagia!!' melirik wajah tampan yang baru saja mengobrak abrik pikiran dewasanya.
__________________
__ADS_1
bersambung...!!?