Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Edisi kebersamaan Mia dan Yuri.


__ADS_3

Saat Mia membuka pintu, mbk Endang langsung menunduk hormat pada Mia. Tapi kali ini Mbk Endang ternyata tidak datang seorang diri. Di belakang Mbk Endang ada Yuri juga.


"Masuk Mbk Endang." Mia mempersilahkan Mbk Endang masuk, lalu melirik pada Yuri yang juga melirik padanya.


"Maaf Nyonya. Apa kami mengganggu?" mbak Endang bertanya.


"Ah, tidak. Masuk saja Mbk?" jawab Mia langsung menghampiri Yuri dan menarik tangan nya.


"Yuri.. kau ikut kemari?"


"Nyonya sudah mengenalnya ya? Syukurlah. Saya bermaksud mengenalkan pelayan baru ini pada Nyonya. Tuan Sekretaris yang membawa nya. Apa Nyonya tau itu juga?" tanya mbak Endang.


"Ah iya Mbk Endang . Saya sudah mengenalnya dengan baik. Dia ini..."


"Ehem...!!" deheman panjang dari Garra membuat mereka semua menoleh.


Saat ini bulu kudu Yuri terasa berdiri ketika melihat Garra. Terlebih ketika Garra beranjak menghampiri mereka.


Baik Yuri dan Mbk Endang sama sama tidak tau jika masih ada Garra di kamar itu. Mereka menyangka jika Garra sudah berangkat ke kantor. Menyangka jika Mia hanya sendirian di kamar.


"Tuan Muda. Maafkan saya... Saya tidak tau jika Tuan muda masih ada di kamar. Saya kira tidak ada tuan muda." ucap mbak Endang merasa bersalah karena berpikir sudah menggangu mereka.


'Sudah mengganggu ku, enak saja minta maaf!!' Maki Garra, tapi hanya di dalam hati.


"Tidak apa Mbk Endang. Aku juga akan segera pergi. Syukurlah Mbak Endang sudah datang. Tolong jaga istri ku dengan sebaik baiknya. Dan jangan biarkan setan mendekatinya." jawab Garra sambil melirik Yuri. Yang di lirik langsung menunduk. Lalu Garra menghampiri Mia dan memeluk nya.


"Sayang... baik baik di rumah ya. Bang Garra harus ke kantor dulu. Sebentar saja." ucap Garra lalu mendaratkan kecupan panjang nya di pucuk kepala Mia.


Mia nya tersenyum.


Adegan romantis mereka itu jelas di lihat oleh mbak Endang dan juga Yuri. Mbk Endang yang sudah mulai terbiasa melihat keromantisan mereka tidak lah terkejut. Hanya tersenyum ikut merasa kebahagiaan mereka.


"Bang Garra juga hati hati ya." sahut Mia dengan sangat manis.


Garra mengangguk, "Mia jangan nakal. Dan jangan terbujuk rayuan setan yang ingin mengajakmu kabur dari ku." ucap Garra melirik lagi pada Yuri, kali ini dengan lirikan yang cukup sadis.


"Bang Garra, jangan begitu donk. Tidak akan ada setan yang bisa menggodaku. Tenang ya??" jawab Mia berusaha menenangkan hati suami nya. Mia paham sikap Garra, mungkin Garra masih ingat kejadian kemarin, di mana Yuri mengajak Mia kabur dari rumah ini.


"Bang Garra percaya padamu Mia ku?? Tapi bagaimana dengan tengil itu." bisik Garra.


"Hus... sudah. Jangan berburuk sangka terus. Cepat pergi lah. Mungkin sekretaris Ang sudah menunggu mu di bawah."


"Baik lah Mia sayang.. I love You..!!" sekali lagi Garra mencium kening Mia. Bukan hanya kening saja. Tapi cipika cipiki dan kemudian kedua tangan Mia. Membuat dua jomblowati di belakang mereka semakin iri saja.


Garra akhirnya melangkah. Tapi sebelum Garra benar benar meninggal kan kamarnya, ia sempat berhenti di samping Yuri berdiri. Berbicara dengan berbisik.


"Dengar kau tengil ya? Sampai kau berani menghasut istriku , lihat saja. Aku akan menjual mu ke pasar gelap.!" ancam Garra.


Yuri, jangan kan menjawab. Menoleh pun tak sanggup. Hanya berani mengangguk berat.


Akhirnya, baik Yuri maupun Mia bisa bernafas lega ketika Garra keluar dari kamar. Sementara mbak Endang yang tidak mengerti apa apa hanya bisa menyimpan pertanyaan di hati. Lalu mendekati Mia.


"Nyonya .. Sarapan dulu ya??" Mbak Endang menaruh nampan sarapan untuk Mia di meja. Lalu segera mempersilahkan Mia untuk sarapan.


"Nyonya silahkan. Apa mau saya suapin?"


"Ah, tidak mbak Endang. Seperti nya hari ini aku ingin pelayan baru ini yang melayani ku. Mbak Endang boleh istirahat dulu. Biar dia yang menggantikan mbak Endang untuk hari ini. Bagaimana mbak Endang?"


Tentu saja mbak Endang senang mendengar nya. Dengan begitu, arti nya mbak Endang hari ini bersantai ria.


"Terimakasih Nyonya.. Terimakasih." jawab spontan Mbk Endang, lalu menoleh dan mendekati Yuri.


"Yuri, kau sudah paham kan apa apa yang harus kau lakukan, dan apa saja kegiatan Nyonya muda kita hari ini?"


"Tentu mbak Endang. Tentu saja. Mbak Endang tidak perlu khawatir. Saya akan bekerja sebaik-baiknya. Janji tidak akan mengecewakan." jawab Yuri mantap.


Mbak Endang tersenyum senang lalu segera permisi. Walau di otak nya ada pertanyaan yang hebat. Ada hubungan apa sebenarnya Yuri dengan Nyonya muda Mahendra? Kenapa Nyonya tampak begitu senang dengan kehadiran pelayan baru itu. Jika hanya karena sudah kenal sebelumnya itu mustahil, atau .. apa karena yang membawa Yuri adalah Tuan Sekretaris. Tapi kenapa tatapan Tuan muda seperti sangat membenci nya. Tidak menyukainya dan Nyonya malah sebaliknya.


'Huh, Aku pasti akan menanyakan suatu hari nanti.'


Setelah Mbak Endang keluar, Yuri langsung menutup pintu dan menguncinya rapat rapat. Yuri mendekati Mia dan menarik tangan Mia untuk duduk di sofa.

__ADS_1


"He Mia.. Cepat kau sarapan dulu. Ayo..!"


"Kau mau apa? Roti atau Bubur ini?" Yuri segera meraih mangkok bubur itu.


"Cepat Mia... Aku akan menyuapimu!" Yuri menyendok bubur itu dan menyodorkan nya ke mulut Mia.


"Aku bisa sendiri Yuri.. Tidak perlu menyuapiku.!"


"Aduh! Kau ini bagaimana sih. Mau .. aku di pecat sama suami galak mu itu kalau aku tidak melayani mu dengan baik."


"Dia kan tidak ada, mana melihat?"


"Ah, kau benar. Tapi aku ingin menyuapi mu. Jarang jarang terjadi kan... Ayolah..!!" Yuri memaksa.


"Tidak Yuri.. meskipun semua orang tau nya kamu itu pelayan di sini. Tapi bagiku kau tetap saudara ku. Jadi di belakang mereka jangan memperlakukan aku sebagai majikan mu." jawab Mia, membuat Yuri terharu dengan kebaikan Mia yang masih mau menganggap nya saudara.


"Baiklah, kalau begitu cepat kau makan sendiri. Jangan lupa buah nya. Dan minum susunya. Aku sudah tidak sabar ingin memelukmu." ucap Yuri.


"Apa?? Memeluk ku? Memang kenapa?"


"Mia.. kau tidak tau ya. Aku tu selama ini sebenarnya memikirkan mu terus. Aku merindukanmu. Tapi apalah dayaku , kau tau sendiri bagaimana Ibu singa dan saudara singa itu."


"Jangan bilang begitu Yuri. Bagaimana pun bentuk mereka, mereka tetap Ibu dan saudara kita." sahut Mia sambil menikmati bubur nya.


"Kau ini, terlalu polos apa bagaimana sih? Memang kamu tidak sakit hati pada Jihan dan ibu. Mereka tidak pernah baik padamu lho. Tidak seperti ku, yang sebenarnya hanya berpura pura jahat padamu. Tapi kau tidak akan percaya jika aku sebenarnya baik padamu."


"Siapa Bilang. Aku percaya kok. Aku juga tau kalau kau itu sebenarnya menyayangi ku." jawab Mia tanpa menoleh pada Yuri.


"Hah , kau tau itu?"


"Tau lah.. Hanya aku mengikuti cara main mu saja. Pura pura tidak tau. Biar kau juga aman."


"Benarkah..? Ya Tuhan... kau benar benar saudara baik ku Mia...!" seru Yuri, menepuk nepuk bahu Mia.


Yuri berdiri, lalu menghampiri rajang luas milik Mia. " Wah... ranjang mu besar sekali. Kau tidur di sini bersama tuan muda Garra?" tanya Yuri menoleh pada Mia.


Mia hanya tersenyum saja. Lalu Yuri membanting tubuhnya di kasur itu, berguling guling ke sana kemari.


Mia semakin bersyukur dengan keadaan nya sekarang, lalu tak lupa ingin mengucapkan terimakasih sebanyak banyaknya pada Garra. Semua ini pasti sudah rencana Garra untuk mendekat kan dirinya dan Yuri, Seperti keinginannya yang pernah di utarakan pada Garra tempo lalu.


Mia cepat menghabiskan sarapan nya dan meneguk susu hangatnya. Lalu menghampiri Yuri dan membanting tubuhnya di sebelah Yuri.


"Apa kau betah di sini Yuri?" tanya Mia, menatap langit langit kamar.


"Tentu saja." jawab Yuri, melakukan hal sama . Menatap langit langit kamar itu.


"Meskipun kau hanya di jadikan pelayan di rumah ini?"


"Tidak masalah Mia.. Bagiku, bisa bersama mu itu lebih baik. Terlebih bisa lepas dari ibu dan Jihan. Itu sudah menjadi cita cita ku dari dulu." jawab Yuri.


"Hahaha.. kau lucu sekali. Masa cita cita kok seperti itu?? Tidak ada yang lain?"


"Ada. Ingin seperti mu. Mendapatkan suami yang baik dan kaya seperti suamimu." jawab Yuri.


"Benarkah?" Mia kini menoleh pada Yuri yang tersenyum padanya.


"Aku akan mendoakan mu kalau begitu."


"Sungguh?" kini Yuri pun menoleh pada Mia. Mia mengangguk.


"Senang nya...!!" seru Yuri , memeluk Mia.


Mereka tertawa bersama.


Tapi tiba tiba Mia berhenti tertawa.


"Yuri.. bagaimana dengan Ayah dan ibu. Apa mereka jadi di usir dari rumah?"


"Mungkin saja. Setahuku hari ini adalah batas waktu mereka." jawab Yuri.


"Kalau begitu kita harus membantu mereka."

__ADS_1


"Tidak perlu di pikir kan Mia . Biar kan saja dulu. Siapa tau dengan begitu, mereka akan sadar dan merenungi kesalahan mereka." jawab Yuri enteng.


"Tapi aku kasian. Aku kepikiran terus."


"Sudah lah.. Mereka pasti baik baik saja. Kau tau Ibu kan? Ibu itu pintar. Pasti bisa mencari jalan keluar. Lagian , aku masih malas memikirkan mereka." sahut Yuri.


"Jangan begitu Yuri. Walau bagaimana pun juga, Mereka itu keluarga kita. Dan ibu itu orang yang sudah ngebrojolin kamu."


"Hah.. ngebrojolin? Tidak ada kata kata yang lebih bijak apa? Ngebrojolin.. Emangnya kebo." ucap Yuri.


Lalu kedua nya kembali tertawa bersama.


Setelah cukup lama bercengkrama dengan obrolan hangat, Yuri segera mengingat pesan mbak Endang untuk tidak lupa mengajari Mia ilmu pengetahuan.


Yuri segera bangun. Dan mengajak Mia untuk membaca buku buku tebal yang di ambil Yuri dari dalam lemari. Buku buku yang seperti nya sengaja sudah di siapkan oleh mbak Endang dari kemarin kemarin.


Dengan telaten kemudian Yuri membimbing Mia belajar. Di sela sela belajar nya, Mia juga sempat bertanya pada Yuri tentang apa itu Cinta.


Dengan semangat 45, Yuri menjelaskan pada Mia. Jika cinta itu adalah perasaan bahagia ketika kita dekat dengan seseorang. Kita akan berdebar jika sedang bersama nya , lalu akan rindu jika orang itu jauh dari kita. Menatap nya akan terlihat indah, lalu menyentuh nya akan terasa nyaman.


"Apa kau sedang merasakan itu Mia..?" tanya Yuri.


Mia tidak menjawab, malah memegangi dadanya.


'Ternyata benar kata bang Garra. Aku bukan terkena serangan jantung. Tapi sepertinya sedang jatuh cinta padanya. Semua yang di katakan Yuri terjadi pada ku saat ini.' batin Mia.


'Ah, aku akan membuktikan nya lagi nanti setelah bang Garra pulang. Benarkah yang aku rasakan ini cinta.' Mia kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Mia, boleh tidak meminjam Hpmu. Aku tidak membawa hp milik ku. Aku ingin mengambil foto kebersamaan kita ini." ucap Yuri mengagetkan Mia yang tengah asik melamun.


"Aku tidak punya hp. Kecuali hp yang dulu itu. Hp tanpa kamera. Itu pun entah di mana aku menyimpan nya ." jawab Mia.


"Hah.. Jadi kau tidak punya hp baru? Memang suamimu tidak membelikan hp untuk mu?"


"Tidak, tapi mungkin dia akan membelikan nya jika aku mau meminta padanya." jawab Mia.


"Kalau begitu, minta saja."


"Tapi buat apa?? Punya hp untuk menghubungi siapa juga."


"Mia.. hp itu bukan hanya untuk menelpon seseorang. Dari hp kau bisa belajar banyak hal. Bisa tau seluruh isi dunia. Dari hp juga kau bisa menonton Drakor apapun yang kau inginkan dan membaca novel romantis, agar pengetahuan mu lebih cepat meningkat."


Mia terdiam mulai berpikir jika apa yang dikatakan Yuri ada benarnya.


"Baiklah, aku akan meminta suamiku untuk membelikan aku HP kalau begitu. Kau mau mengajari cara menggunakan nya?"


"Tentu Mia..!" jawab Yuri. Mereka kembali saling melempar senyuman.


Itulah, obrolan hangat serta kebersamaan Mia dan Yuri. Sampai setengah hari mereka saling berbicara dan tertawa. Hingga suara ketukan pintu terdengar dan ketika Yuri berlari kecil untuk membuka pintu. Garra sudah berdiri di sana.


"Tuan muda.." Yuri segera menunduk hormat dan mundur beberapa langkah.


Garra hanya memasang wajah datar lalu bertanya pada Yuri.


"Apa saja yang kau ajarkan pada istri hari ini. Kau sedang tidak mengajarkan sesuatu yang jelek padanya kan?" pertanyaan Garra seperti sebuah penekanan.


"Tidak tuan muda.. Saya tidak mungkin berani." jawab Yuri cepat.


"Bagus! Jika sampai aku tau kau mengajari nya yang macam macam, lihat saja kau! Sekarang kau boleh pergi." ucap Garra menyuruh Yuri untuk keluar.


Yuri mengangguk dan segera berlalu.


Di dalam hati ada kekhawatiran.


"Gawat..!! Kalau Mia benar benar meminta Hp pada tuan muda, dan mengatakan jika itu ide dari ku. Tuan muda pasti akan murka padaku. Aduh...!! Aku lupa berpesan pada Mia, supaya jangan mengatakan pada suaminya jika itu ide dari ku."


______


bersambung.....?


__ADS_1


__ADS_2