Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Cinta telat pria dewasa.


__ADS_3

Saat ini masih di area perkantoran milik perusahaan Mahendra Group.


Di ruangan milik Presdir sesekali terdengar gelak tawa dari sepasang suami istri.


Sang istri terlihat memeluk pinggang suami nya dengan mesra. Sang suami pun terlihat asyik menyusuri wajah manis istrinya.


"Mia.. Terimakasih untuk makan siangnya ya?" mengecup berkali kali pucuk kepala istrinya.


"Tidak masalah bang Garra. Tadinya Mia takut bang Garra akan marah karena Mia kemari?"


"Tidak apa apa Sayang? Mia boleh sering sering kemari kok. Tapi, besok besok tidak perlu memasak sendiri. Mia bisa menyuruh pelayan untuk memasak makan siang kita dan mengantar nya kemari. Kita malah bisa sering sering makan siang bersama di sini." sahut Garra.


"Tidak bang Garra? Mia juga ingin sesekali memasak untuk suami Mia tercinta."


"Ya Tuhan.. bahagianya hati bang Garra , Mia .." merengkuh tubuh Mia.


Padahal Garra ingin marah karena bisa bisanya pak Abu mengantar Mia ke kantor nya hanya untuk mengantar makan siang. Seperti tidak ada kerjaan saja. Belum lagi Mia harus memasak makanan sendiri. Berhubung Mia sudah menjelaskan, bukan nya marah, Garra hati nya malah berbunga bunga. Mendapatkan begitu besar perhatian dari istrinya. Sampai dibela belain masak dan datang ke kantornya.


"Maafkan Mia ya? Selain ingin memberimu kejutan, aku juga penasaran sekali seperti apa sih tempat kerja bang Garra? Padahal cuma duduk duduk sambil marah marah, tapi kok bisa menghasilkan banyak uang yang membuat Bang Garra kaya raya. Itu bagaimana caranya?" tanya Mia, polos nya kumat.


Garra tergelak mendengar pertanyaan dari istri nya. Lalu Garra membuka sebuah laptop milik nya. Mengulik nya sebentar.Menunjukkan sesuatu pada Mia.


"Lihat lah Mia. Perusahaan ini memiliki beberapa cabang. Bukan hanya satu bidang saja. Perusahaan yang memproduksi beberapa properti, seperti Rumah, apartemen, ruko kios dan perkantoran. Bukan hanya itu, di kota sebelah bang Garra punya beberapa perusahaan yang memproduksi keramik, sepatu dan masih banyak lagi. Dan di kantor ini bang Garra menerima laporan nya saja. Menghandle pekerjaan para karyawan dari sini. Bukan berarti hanya duduk manis sambil marah marah." jelas Garra .


"Jadi maksudnya, bang Garra juga membangun rumah dan apartemen untuk di jual pada orang lain?"


"Betul sekali. Contohnya perumahan indah permai yang salah satunya di tempati Ayah mu, itu adalah rumah buatan bang Garra."


"Bang Garra membuatnya sendiri? Kapan membuatnya? Memang ada waktu?" tanya Mia lagi.


Garra tergelak, mencubit hidung Mia.


"Tidak donk, yang membuat para pekerja dan Bang Garra yang mengeluarkan modalnya dan membayar mereka."


"Oh.. Mia paham. Berarti Bang Garra bos nya begitu ya?"


"Cakep! Istri ku pintar sekarang."


Mia tersenyum dan memeluk Garra.


"Senang nya, Mia punya Suami seorang bos. Banyak uang nya, jadi Mia bisa sering sering shoping dan ke salon. Mia jadi ingat dulu. Mau makan coklat saja Mia harus tunggu Yuri melempar Mia duluan." ucap Mia.


"Yuri. Anak itu menyayangiku dengan caranya sendiri. Kadang menyelinap tengah malam ke kamar ku hanya untuk tidur bersama ku." tambah Mia.


"Sudah Mia. Jangan mengungkit masa lalu mu lagi. Yuri juga sudah bersama kita kan? Sekarang saatnya aku akan menyenangkan hidup mu. Dengan uangku dan juga hatiku. Kau tidak boleh bersedih lagi. Mia boleh membeli apapun yang Mia inginkan. Berjanjilah untuk bahagia terus denganku." Garra mempererat pelukannya.


Kedua insan itu tenggelam dalam keindahan hidup yang dulu belum pernah mereka rasakan. Garra merasa bahagia bisa bersama Mia. Membahagiakan Mia. Mia pun sangat merasa beruntung bisa memiliki suami Garra. Apapun yang dulu hanya angan dan mimpi sekarang bisa terwujud hanya dengan modal senyum lalu bicara pada Garra untuk meminta. Apapun itu, Mia pasti dapatkan dari Garra.


Jika di ruangan ini Mia tampak begitu manja pada suaminya, meminta peluk, meminta cium, merebahkan kepalanya di pangkuan Garra, sementara di ruangan sebelah sama persis yang terjadi. Hanya saja pelaku manja nya dari pasangan prianya.


Sekretaris Ang, bocah dewasa itu sangat menikmati kebersamaan nya dengan kelinci manis nya. Lupa pekerjaan, lupa berkas yang menumpuk. Sudah melupakan si Samsudin dan lupa dua pria yang seharusnya ia adili karena membuat kesalahan.


Ang merebahkan kepalanya di pangkuan Yuri, dengan mengangkat tangan Yuri dan meletakkannya di kening nya. Sesekali menciumi tangan milik gadis kecil itu. Sambil menatap wajah si pemilik tangan yang terus diremasnya itu.


"Tuan Kakak, awas dulu. Paha ku ngilu..." rengek Yuri tak tahan harus berlama lama memangku kepala si bocah dewasa.


Ang sebenarnya masih ingin berlama lama di tempat hangat itu, tapi melihat Yuri yang terus menggerakkan bokong nya yang mungkin sudah terasa panas, Ang jadi tidak tega. Lalu bangun dan duduk di samping Yuri. Menyandarkan kepalanya yang sengaja ia miringkan agar tetap bisa menatap Yuri.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat manis , kelinci?"menyentuh dagu Yuri.


"Kemarin memanggilku bocah, sekarang kelinci. Besok jangan jangan memanggil ku cicak!" seru Yuri tak terima dengan panggilan Ang.


"Tidak mungkin akan ku panggil cicak. Kalau kelinci kan memang manis. Pantas untuk mu, kalau cicak itu, kecil kecil juga najis."


"Hahaha. Tuan kakak sayang benar juga." Yuri tertawa.


"Panggil yang benar kenapa? Tuan kakak sayang. Apa itu? Kakak atau sayang, begitu saja."


"Ah ia kalau begitu saya panggil kakak saja ya?"


"Em , tapi aku iri Yuri.?" Ang merengek.


"Iri.. Iri kenapa? Pada siapa kakak?"


"Kau berbicara dengan baik pada mereka."


"Mereka siapa? Saya seperti nya selalu berbicara baik dengan siapa pun?" Yuri jadi bingung dengan maksud Sekretaris Ang. 'Iri apa sih. Apalagi?'


"Kau berbicara dengan Si Sam dan juga dengan Nyonya muda dengan mesra. Tapi dengan ku yang jelas jelas sudah menjadi kekasihmu, kenapa masih menggunakan bahasa formal?"


"Ah, iya. Maafkan saya. Eh, maafkan aku Kakak. Aku ,hihi. Benar benar kaku ya. Sebab kan, Kakak tadinya atasanku. Majikan ku begitu. Dan sekarang.."


"Dan sekarang apa?" Ang mendekatkan kembali tubuhnya.


"Apa ya? Emm, kekasih ku bukan?" Sambil bergeser.


"Kita memang sudah menjadi sepasang kekasih. Tapi kenapa kau masih takut padaku? Tiap saat aku mendekat kau menjauh begini."


"Malu? Malu pada siapa? Tidak ada orang lain di sini selain kita ?" meraih tubuh mungil itu dan kembali memeluk nya.


"Apa kau ragu Yuri? Masih ragu dengan hatimu?" tanya Sekretaris Ang, berbisik di telinga Yuri.


"Tidak. Saya.. Aku tidak pernah ragu dengan hatiku." Yuri mendongak. Melepaskan pelukan sekretaris Ang.


"Apa kau benar benar mencintaiku?"


"Iya kakak, aku berani bersumpah demi apapun." jawab Yuri.


"Berapa usiamu sekarang?"


Deg.. Yuri terkejut dengan pertanyaan sekretaris Ang.


"Kenapa kak? Apa kakak masih mempermasalahkan usia ku?"


"Jawab saja."


Yuri masih diam.


"Apa sudah ada sembilan belas tahun?"


Yuri menggeleng.


"Ya Tuhan.. Delapan belas?"


Yuri menggeleng lagi. Sekretaris menarik nafas berat.

__ADS_1


"Jangan bilang jika usiamu masih lima belas tahun."


Yuri tersenyum. "Tidak semuda itu juga kakak.. Dulu ibu memasukan aku SD masih usia dini. Umur lima belas aku sudah kelas 12. Dan aku sudah lulus setahun yang lalu. Seharusnya aku kuliah. Tapi pas aku mau masuk kuliah, Ayah bangkrut. Ibu tidak mengijinkan aku dan menyuruhku bekerja saja." jelas Yuri.


Sekretaris Ang menghela nafas kembali, kali ini ia mengusap wajahnya dengan kasar berkali kali.


"Belum juga genap 17 tahun?" kembali bertanya.


"Tiga bulan lagi." jawab Yuri.


"Ya Tuhan... Bisa bisa nya aku pacaran dengan bocah. Kau tau Yuri, kau pantas menjadi keponakan ku." ucap gusar Ang.


"Kakak tidak percaya dengan perasaan ku karena aku masih bocah?" Kini Yuri mendekat.


"Seharusnya pertanyaan itu milik ku. Apa kau tidak ragu menyukaiku?" Ang pun tak mampu bergerak ketika Yuri memegang pipinya.


"Tidak! Dari awal saja , aku tidak pernah ragu. Usia bukan alasan untuk tidak bahagia dalam mencintai.Jika kakak ragu dengan cinta kakak, aku tidak akan memaksa. Setidaknya aku sudah berjuang untuk mencintai mu dan memenangkan hatimu." ucap Yuri.


Ang terdiam, tak bisa lagi memungkiri jika memang dia menyukai gadis kecil ini. Semakin hari perasaan Ang pun semakin besar. Bahkan sekarang Ang sungguh takut kehilangan.


Ang meraih tangan Yuri.


"Kau tidak akan menyesal jika menikah dengan ku?"


Yuri menggeleng. "Tidak akan. Aku ingin segera. Aku tidak ingin berlama lama di dunia luar. Aku takut salah pergaulan. Jika sudah menikah aku hanya akan mengurus suami dan masa depan keluarga kecil ku. Tak ingin banyak permasalahan dan pikiran seperti yang di hadapi kebanyakan wanita dewasa. Bingung menjalin cinta dan mencari pasangan. Ujung ujungnya gonta ganti pasangan saja. Nikah mah enggak. Lebih baik menikah usia dini asal saling mengerti. Pasti akan indah dan bahagia." ucap Yuri .


Ang terpaku dengan ucapan Yuri. 'Kenapa pemikiran bocah ini begitu dewasa. Aku saja tidak pernah sejuah itu berpikir?'


"Yuri. Usia kita jauh berbeda, apa kau tidak malu?"


"Kenapa mesti malu?"


"Kakak, aku tidak akan macam macam. Jika kita sudah menikah nanti, aku akan di rumah saja menunggumu. Aku tidak akan melirik siapapun. Kakak itu, sudah tampan baik hati, dan yang terpenting aku mencintaimu, tapi pertanyaannya, apa kakak juga mencintaiku seperti aku mencintai kakak?"


Ang cepat merengkuh tubuh Yuri.


"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Yuri. Tidak lagi peduli kau bocah. Aku akan melamar mu. Aku akan segera menemui Gani Kuncoro dan memintamu langsung padanya. Berjanjilah, tetap di sampingku. Apapun yang terjadi. Berjanji lah , untuk bahagia bersama ku..!"


Yuri terisak dengan ucapan Sekretaris Ang.


"Terimakasih kakak. Terimakasih." hati Yuri sungguh berbunga bunga.


"Iya. Sama sama Yuri. Terimakasih juga sudah mengenalkan aku dengan cinta.Maafkan aku jika selama ini sering membuatmu sakit hati. Maafkan aku. Aku mencintaimu." Ang berkali kali mengecup pucuk kepala Yuri.


"Aku juga kakak." memeluk erat.


Ang benar benar sadar, jika kehadiran bocah ini sudah membawa warna di hidupnya yang hampa. Ketika ia merasa sendiri, dan selama nya akan sendiri , Yuri hadir mengisi hati nya, Yuri hadir mengenalkan perasaan cinta yang selama ini belum pernah Ang rasakan.


Ang bahkan hampir putus asa, karena selama ini tidak bisa merasakan hati resah karena memikirkan wanita. Tidak pernah berdebar saat menatap atau pun di tatap wanita. Apakah aku tidak mempunyai jodoh? Pemikiran Ang.


Dan semua terjadi saat bersama Yuri. Debaran , desiran , Ang rasakan ketika di dekat Yuri. Resah ketika memikirkan Yuri. Rindu ketika jauh dari Yuri. Bahagia setelah bertemu. Ini kah cinta..??? Cinta pria dewasa yang telat!


"Aku jatuh cinta padamu Bocah ..!!! Aku mencintaimu...!!" hati Ang berteriak.


____________________


bersambung.......!!!

__ADS_1


__ADS_2