Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Nama Tuan Muda Mahendra!


__ADS_3

Di depan Rumah keluarga Mahendra,


Puluhan Wartawan dan Reporter dari beberapa stasiun televisi sudah memadati depan gerbang milik rumah Mahendra.


Padahal kepulangan Mia dan Bayinya sudah sangat dirahasiakan dari publik. Ah, tapi dasarnya Wartawan dan Reporter sudah pasti bisa saja mendengar kabar walaupun sudah ditutup serapih mungkin.


Lagi lagi, sama saja seperti saat mereka berada di depan gedung Rumah sakit kemarin. Hasilnya masih nihil. Karena penjagaan disana malah semakin diperketat dibanding yang di Rumah sakit kemarin.


Mereka hanya bisa menunggu.


Sambil mengusap keringat di wajah mereka. Mengalir ke rahang rahang, terbakar terik Matahari.


"Huh..! Panas!" mengibas ngibaskan tangan ke arah leher.


Segera berkerumun ketika melihat seseorang Pria keluar melangkah kearah mereka.


"Tuan! Tuan!" memanggil.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Nyonya Mahendra. Apakah Nyonya Mahendra baik baik saja?" mengarahkan mikrofon ke dalam pagar.


"Apakah akan diadakan pesta besar untuk pemberian nama Tuan Putri, eh." menutup mulut.


"Eh, apa , apa Tuan Putri apa Tuan Muda penerus Mahendra Group Tuan?"


Entah sudah berapa ribu pertanyaan yang dilontarkan para Wartawan dan Reporter itu. Hanya dibalas seulas senyum dari Pria salah satu petinggi di Perusahaan Mahendra.


"Saya hanya akan menyampaikan pesan dari Tuan Muda Garra. Jika beberapa hari lagi, akan diadakan Pertemuan Jumpa Pers. Jadi harap saat ini kalian tenang dan lebih baik pergi meninggalkan tempat ini." berbicara tanpa membuka pagar.


"Karena kalian disini hanya akan percuma saja. Keluarga Tuan Muda sedang pada masa bahagia sangat yang tidak bisa terucap oleh kata apapun. Jadi untuk menjawab semua pertanyaan kalian akan diselenggarakan Pertemuan Pers yang akan diadakan beberapa hari lagi. Oke!"


Huh , huh. ******* kekecewaan terdengar dari mulut mereka. Namun sedikit lega karena setidaknya Tuan Muda Garra akan melakukan Pertemuan Pers untuk memberi jawaban pada rasa penasaran publik.


Akhirnya mereka satu persatu beranjak pergi.


Di dalam sana.


Bu Asri mendorong box meja yang dipenuhi dengan makanan sehat. Empat sehat lima sempurna untuk makan siang Mia.


Dua pelayan wanita sudah selesai membereskan kamar Garra yang kini sudah disulap menjadi kamar bayi itu. Ranjang bayi berukuran besar sudah ada disana sejak kemarin sebelum Mia masuk kembali ke dalam kamarnya.


Tiara dan Yuri sudah menyisih beberapa menit yang lalu dari kamar itu setelah memastikan keadaan Mia baik baik saja. Jihan, tentu saja sudah pulang dari kemarin karena saat ini Jihan adalah satu satunya yang harus dapat diandalkan Gani Kuncoro untuk mewakilinya di perusahaannya yang ditinggalnya dalam beberapa hari ini.


"Mia, Lihatlah! Tuan Muda Mahendra sangat tampan seperti ku ya?" mencolok pipi gembul bayinya.


"Lihat rambutnya Mia. Kenapa tidak mirip denganku?"


"Eh, dia memilih rambutmu Mia! Mungkin dia tidak suka dengan rambut keriting seperti milikku. Bagaimana bisa penerus Keluarga Mahendra tidak sama dengan Kakek dan Papanya sih? Kau ini, takut pada Mamamu itu ya??" menusuk pipinya kembali.


'Jelas saja dia berambut bagus seperti ku. Aku kan selalu berharap begitu. Mana ada yang suka rambut kriting seperti mu?'


Garra berdiri, setelah puas berjongkok di depan keranjang bayinya.


Terdengar suara isakan. Bukan Mia yang menangis.


"Mia.. Kau sungguh membuatku takut. Aku takut Mia!" Garra menangis mendekati Mia dan memeluknya.


"Tidak apa apa, tidak apa apa." mengelus punggung Garra seperti sedang menenangkan anak kecil yang sedang menangis.

__ADS_1


"Itu pasti sakit sekali ya?" mendongak, mengusap air matanya.


Mia tersenyum saja.


'Sakit, memang sakit sekali. Tapi jika diberi kesempatan, aku mau hamil lagi. Lima kali lagi juga masih mau.'


"Kau tenang saja Mia. Aku tidak akan menyuruhmu untuk hamil lagi. Tidak! Cukup kau membuatku takut dan kembali takut satu kali ini saja."


"Bang Garra , akan tetap mengangkat rahimku?" menatap wajah suaminya.


"Semoga Bi Sumi bisa menyembuhkan mu. Kau tidak akan kehilangan rahimmu."


"Tapi bukan berarti kau harus hamil lagi."


"Tapi aku masih ingin..."


"Cukup! Cukup Mia. Aku tidak mau. Biarlah ,biar saja Tuan muda Rayyan tidak memiliki saudara kandung. Biar Ang yang akan memberinya kelak!"


"Rayyan...??"


"Kau memberinya nama Rayyan?" Mia mengulang.


"Hehe, iya. Rayyan Miga Mahendra. Apa itu bagus? Kau suka?"


Mia tersenyum. "Apa itu perpaduan nama kita?"


"Tentu saja Mia? Karena dia bayiku dan juga bayimu. Rayyan bisa dibilang penggabungan namaku, Kakek dan Ayah. Sedangkan Miga Kau pasti tau. Mahendra hanyalah nama keluarga yang harus disertakan. Kita bisa memanggilnya dengan sebutan Ray, atau Mig. Bagus kan?"


Lagi lagi Mia tersenyum.


"Kau ini. Nama harus berhubungan dengan keluarganya. Itu bagus untuk hubungan keharmonisan sebuah ikatan Mia."


Lalu terdengar suara menangis.


"Rayyan kita menangis Mia. A.. dia menangis." Garra terburu menuju ranjang bayinya.


"Mungkin dia ingin menyusu Mia."


"Bawa kemari!" pinta Mia.


Garra Terburu mengulurkan tangannya.


Tapi saat ingin mengambilnya Garra bingung.


"Bagaimana? Aku takut." Gemetaran.


Bu Asri yang masih ada disana tersenyum melihat itu. Menghampiri Garra.


"Begini caranya Tuan Muda!" kemudian mengambil bayi itu dengan kedua tangannya.


"Ah iya Bu, terimakasih!" menyambut bayinya dari tangan Bu Asri. Membawanya pada Mia.


Dengan bimbingan Bu Asri Mia menyusui bayinya. Mia terlihat sangat kesusahan saat menyusui bayinya. Karena ini baru pertama kalinya ia mencoba menyusui bayinya sejak bayinya lahir, Mia belum sempat menyusui bayinya.


Saat Mia belum juga berhasil menyusui bayinya sekretaris Ang masuk bersama Bi Sumi.


"Ang, kalian sudah kembali? Bagaimana? Kalian mendapatkan benalu nya?" tanya Garra langsung.

__ADS_1


"Iya Tuan Muda. Kami mendapatkannya dengan jumlah banyak." jawab Ang.


"Non Mia. Bagaimana keadaanmu?" tanya bi Sumi mendekati Mia.


"Baik Bi. Aku sedang belajar menyusui Tuan Muda Mahendra. Tapi kenapa payah Bi?"


"Cukup Non. Anda tidak boleh menyusui nya!" tiba tiba bi Sumi berseru ,mencegah dan


melarang Mia menyusui Rayyan kecil.


"Kenapa Bi?" Garra dan Mia bertanya hampir bersahutan.


"Tidak boleh Tuan. Walau bagaimana pun juga kondisi Non Mia tidak seperti wanita sehat lain. Itu tidak baik buat kesehatan Tuan Muda Mahendra!"


Mia tersentak, segera mengingat jika dirinya sedang terinfeksi kanker.


"Bang Garra benar kata bi Sumi. Aku tidak boleh menyusuinya." raut wajah Mia berubah sedih.


"Tidak apa apa, tidak masalah Mia. Kita bisa melanjutkan susu formula lagi saja. Ya? Jangan bersedih." lalu menoleh pada. Bu Asri.


"Bu, tolong panggil perawat untuk membuat susu Tuan Muda."


"Baik Tuan." Bu Asri melangkah keluar.


Ang, hanya bisa menatap Tuan Muda Garra nya yang saat ini bukan Tuan muda lagi itu. Hatinya tidak luput dari rasa sedih. Dengan melihat kondisi Nyonya Mahendra saat ini Ang pun kembali berpikir jika keputusannya untuk menunda kehamilan istrinya benar benar tepat dan tidak salah.


Hamil dan melahirkan bukan perkara yang gampang rupanya.


Menghela nafas dan tiba tiba kepikiran Yuri yang ia tinggalkan dari kemarin pagi. Lalu sekretaris Ang permisi.


"Tuan Muda. Ah, Tuan Garra. Saya permisi dulu. Jika ada apa apa, tolong secepatnya hubungi saya."


"Tentu Ang, terimakasih sudah menemani Bi Sumi dan Ayah mertua kita."


Sekretaris Ang hanya tersenyum dan mengangguk lalu melangkah keluar bertepatan dengan seorang suster masuk.


"Berikan Rayyan padanya Mia. Biar suster yang memberi susu." Garra menyuruh Mia memberikan Rayyan kecil pada sang suster.


"Non Mia, ibu yang mengidap penyakit kanker dan yang sedang menjalani kemoterapi ataupun tidak , dilarang menyusui. Karena meskipun tidak menjalani kemoterapi sudah pasti tetap mengkonsumsi obat obatan dari rumah sakit yang dosisnya itu keras. Begitu juga saat Non Mia mengkonsumsi ramuan Benalu nanti. Hal ini disebabkan karena berbagai obat herbal juga dapat masuk ke dalam ASI dan dapat mengontaminasi ASI. Itu bisa membahayakan kesehatan bayi. Jadi, tidak mengapa. Demi kebaikan Tuan Muda, tidak perlu menyusuinya. Biarlah, biar Tuan Muda meminum susu formula saja." jelas Bi Sumi.


"Iya Bi. Aku tidak tau." jawab Mia menoleh pada suaminya yang mengangguk dan sepertinya setuju dengan pendapat Bi Sumi.


"Non Mia. Beristirahatlah dulu. Bi Sumi harus ke dapur untuk meramu Benalu, agar nanti malam Non Mia bisa langsung meminumnya." ujar bi Sumi.


"Iya Bi, iya."


Bi Sumi melangkah,


"Bi Sumi. Terimakasih. Terimakasih sudah mau berusaha untuk kesembuhan istriku." ucap Garra sebelum bi Sumi keluar dari pintu.


Bi Sumi tersenyum. " Tidak perlu berterimakasih Tuan Muda Garra. Non Mia sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Apapun akan saya lakukan untuknya." jawab Bi Sumi lalu melangkah.


Garra memandangi langkah bi Sumi sampai menghilang.


Ada rasa beruntung yang begitu banyak bertumpuk di hati Garra. Pertemuan nya dengan Mia, penyebab kesembuhannya dulu, semua tak luput dari kebaikan bi Sumi juga. Dan kali ini, pertemuannya dengan bi Sumi membawa banyak harapan pada kesembuhan istrinya.


__________________________

__ADS_1


__ADS_2