Suamiku Bukan Pria Cacat

Suamiku Bukan Pria Cacat
Dua kesalahan besar Yuri.


__ADS_3

Setelah sekian lama melaju, Ang membelokkan mobil mereka memasuki gerbang yang di buka oleh seorang penjaga. Lalu mobil itu berhenti di halaman super luas milik rumah Garra.


Sudah bisa di pastikan saat ini kondisi Yuri terbelalak, kaget dan seketika lemas seluruh persendian nya, sesaat setelah mereka turun dari mobil dan beberapa pelayan dengan sigap menyambut Tuan muda dan Nyonya muda mereka yang baru pulang dari kencan pertama mereka.


Yuri mendengar secara langsung, ketika mereka menyapa Garra.


"Tuan muda Garra sudah pulang.?"


"Hah..!" menoleh pada Garra yang lagi lagi menggandeng tangan Mia dengan mesra.


Lalu berbicara pada Sekretaris Ang.


"Urus dia Ang, kau pasti tau dimana dia pantas untuk di tempatkan." ucap Garra sambil menoleh pada Yuri.


"Siap Tuan muda." jawab Ang.


Semakin lemas tubuh Yuri ketika mendengar jawaban sekretaris Ang. Yuri melihat Garra merangkul pinggang Mia dan membawa Mia masuk tanpa mengindahkan keberadaan Yuri.


Yuri beralih menatap Sekretaris Ang dengan tanda tanya besar memenuhi kepalanya, lalu menarik kerah kemeja sekretaris Ang agar mendekat dengan wajahnya.


"Pak sopir, kenapa kau tidak memberi tahu ku kalau dia itu..!"


"Tuan muda Garra. Anda tidak pernah bertanya nona Yuri." menepis tangan Yuri dan membetulkan kembali kemejanya yang lusuh akibat cengkraman Yuri.


"Tapi, bukan kah Rumor yang beredar Tuan Muda Garra itu cacat lumpuh.?" Yuri keheranan dan makin penasaran.


"Rupanya anda ketinggalan informasi penting. Sejak menikah dengan Nyonya Mia, dan mendapat kan perawatan yang baik dari Nonya Mia, tuan muda Garra bisa sembuh dari sakit nya. Sekarang mereka adalah sepasang suami istri yang bahagia. Apa sudah jelas..,!!" ucap Ang menekankan.


"Lalu, kenapa dia harus berbohong di depan kami?" tanya Yuri lagi.


"Mungkin, tuan muda ingin memberi kalian sedikit pelajaran. Anda harus tau, jika tuan muda sangat marah pada kalian akan perbuatan kalian pada Nyonya muda ketika dulu berada di sana." jelas sekretaris Ang.


Yuri terdiam, lidah nya mendadak kelu. Mengingat bagaimana Ibu dan Jihan sudah bicara aneh aneh tentang Tuan muda Garra pada Mia dan ternyata mereka berbicara tepat di hadapan tuan muda Garra sendiri. Belum lagi mengingat kelakuannya tadi yang telah memukul kepala Tuan muda Garra.


Yuri menggigit bibir, ada rasa takut yang tiba tiba mencengkeram bahu nya, dan terasa semakin kuat ketika membayangkan hukuman apa yang akan ia terima setelah ini. Lebih kuat lagi ketika Sekretaris Ang menepuk bahunya.


"Mari ikut saya nona. Saya harus menunjukkan di mana kamar nona dan apa pekerjaan nona."


Mia terperangah, "Tapi.." ada penyesalan yang dalam mengikuti Mia ke rumah ini.


"Bukan kah anda ingin menjadi pelayan Nyonya muda kami? Jadi menurut saja."


"Pak sopir, bisakah anda mengantar saya pulang saja. Seperti nya saya membatalkan niat saya untuk menjadi Pelayan Nyonya muda Mahendra. Biar Jihan saja, iya.. biar Jihan saja. Saya tidak jadi." rengek Yuri Menyesal sudah berada disini. Sepertinya ini adalah sebuah keputusan yang salah untuk nya.


"Sayang nya tidak bisa Nona. Siapapun yang sudah masuk kesini tidak akan bisa keluar dengan mudah. Mari..!!" ucapan Ang, semakin membuat Yuri ketakutan.

__ADS_1


"Pak sopir.. Saya mohon. Saya mau pulang saja." Yuri mengiba.


"Tidak bisa Nona. Apalagi ini adalah keinginan anda sendiri. Dan untuk apa nona memikirkan pulang. Sebentar lagi keluarga Kuncoro akan dalam masalah besar. Menjadi gelandangan dan hidup miskin. Lebih baik anda di sini, berbaik baik dengan Nyonya muda. Siapa tau dengan begitu, Tuan muda Mahendra berkenan memberi mu keringanan hidup."


Sekretaris Ang memutar tubuhnya.


Yuri masih kaku di tempat nya, sampai sekretaris Ang kembali menoleh padanya dan menarik ujung bajunya.


"Ayo masuk!"


"Ah, ba.. baiklah." Yuri pasrah dan mengikuti sekretaris Ang yang sudah berjalan dahulu.


"Pak sopir, tolong koper saya donk.. Masa tega sih melihat ku menarik koper sendiri..??" jerit Yuri menyusul sekretaris Ang.


"Bawa..!!" perintah Yuri melempar koper nya ke depan Sekretaris Ang.


Pria itu melirik, lalu tanpa berkata menarik koper itu. Yuri mengikuti langkah sekretaris Ang. Sepanjang melangkah Yuri merasa heran dengan sikap para pelayan yang mereka jumpai di rumah yang luas nan besar itu. Para pelayan itu langsung menundukkan kepala mereka untuk memberi hormat. Yuri tersenyum menanggapi mereka. 'Ku rasa mereka sudah tau jika aku ini saudara Nyonya muda. Makanya mereka menghormati ku.' batin Yuri , bangga.


Sekretaris Ang terlihat menghampiri seorang pelayan, meminta pada pelayan itu untuk memanggil kan Bu Asri. Yuri tidak mendengar itu.


Lalu kembali melangkah untuk membawa Yuri ke sebuah kamar.


"Ini kamar mu, dan nanti ada seseorang yang akan menunjuk kan apa yang harus kau kerjakan." ucap sekretaris Ang.


"Tunggu pak sopir! Bagaimana aku bisa bertemu dengan Mia?"


"Jaga cara bicara nona. Jangan menyebutkan nama Nyonya muda dengan sebutan nama. Anda harus ingat. Walau pun anda terikat saudara tapi Anda di sini hanya sebagai pelayan. Tidak lebih." sahut Sekretaris Ang, dengan nada marah karena Yuri menyebut nama Mia di hadapan nya.


"Maaf pak sopir.. Aku lupa. Baiklah, beritahu aku caranya bertemu dengan Nyonya muda Mahendra?"


"Tidak semudah itu. Siapapun di larang menemui Tuan muda dan Nyonya muda. Kecuali berkepentingan khusus."


"Tapi,bukan kah aku akan menjadi pelayan pribadi nya?" tanya Yuri.


"Untuk menjadi pelayan pribadi Nyonya harus melalui proses dan beberapa tahapan dengan tes serta ujian. Jika anda lulus, maka anda berkesempatan untuk menjadi pelayan pribadi Nyonya muda. Jika tidak, anda hanya akan menjadi pelayan biasa selamanya." sekretaris Ang kembali menjelaskan.


Yuri nampak menyeringai tipis. "Ribet sekali sih..??" gumam Yuri. Tapi dalam hati Yuri benar benar kagum dengan nasib baik yang berpihak pada Mia. Tidak menyangka jika takdir Mia kini berubah dengan begitu mudahnya.


Menjadi istri seorang Tuan muda yang kaya raya dan mendapatkan kehidupan mewah serta kasih sayang yang begitu besar dari suami jodohan orang tuanya.


Lalu merasa menyesal. ' Kenapa dulu tidak aku saja yang di jual ayah.'


Namun Yuri segera sadar , jika tidak boleh iri pada Mia. Mia anak baik yang sering dizolimi oleh keluarganya. Mungkin sudah saat nya Tuhan merubah hidup Mia.


'Mia memang pantas untuk bahagia.'

__ADS_1


Saat ini Yuri hanya berharap, jika Mia mau memaafkan segala kesalahannya dulu. Kesalahannya yang sering ikut andil memperlakukan Mia dengan tidak baik.


Yuri yakin, jika Mia pasti akan memaafkan nya, setidaknya Yuri merasa beruntung jika dulu sebenarnya Yuri hanya ikut ikutan ibu dan Jihan saja. Jika tidak, maka Yuri akan di benci mereka. Makanya, karena kasian pada Mia yang tidak pernah di beri yang uang jajan sepeser pun, Yuri sering bersandiwara di depan Jihan.


Ketika Mereka sedang membully Mia , kesempatan Yuri untuk melempar nya makanan ringan. Mia tau itu, Mia paham. Sebab itu lah, Mia mau membawa Yuri. Mia punya rencana lain untuk mengucap kan terimakasih nya pada Yuri.


"Kau melamun Nona?"


Yuri tersentak, ketika Sekretaris Ang menepuk bahunya.


"Tidak ,tidak.. hanya sedang memikirkan Nasib baik Nyonya muda." jawab Yuri menarik koper nya masuk.


Sekretaris Ang tersenyum simpul.


'Aku tidak yakin, jika tuan muda mau menerima anda dengan baik di sini nona. Bersiaplah. Neraka berikut nya mungkin untuk anda.'


"He pak sopir,. tolong bantuin donk.. bongkar koper ku ini." teriak Yuri.


"Aduh ... mana haus lagi. Kalau tidak , ambilkan aku minum dulu. Haus sekali." sambung Yuri memerintah Sekretaris Ang.


Yang di perintahkan langsung terlihat marah. Seumur hidup nya, mana ada pelayan yang berani menyuruh nya. Yang ada sekretaris Ang yang menyuruh dan memberi perintah pada mereka.


"Heh.. malah bengong.. Sini sini..!" Seru Yuri. Sekretaris Ang, tetap tak bergeming, berdiri depan pintu. Sampai Yuri menghampiri.


"Tidak dengar ya..? Bantu aku dulu??" kembali Yuri berseru pada Sekretaris Ang.


Sekretaris Ang masih tetap terdiam,


lalu menoleh ketika seseorang datang dan menyapanya.


"Tuan sekretaris. Ada perlu apa memanggil saya." Bu Asri sudah ada di depan mereka.


"Bu asri, tolong bantu dia membereskan barang barang nya ,setelah itu tunjuk kan padanya apa yang harus dia kerjakan." ucap Sekretaris Ang pada Bu Asri yang langsung menjawab.


"Siap Tuan!"


Lalu sekretaris Ang, terlihat membisikkan sesuatu pada Bu Asri yang mengangguk angguk, mengerti maksud Sekretaris Ang.


Bu Asri menoleh pada Yuri yang melangkah mundur hingga punggung nya terbentur dinding. Yuri melemas di sana sambil menutup mulut nya dengan tangan nya sendiri.


'Jadi pak sopir itu, Tu..Tuan sekretaris???'


Tubuh Yuri seketika gemetaran, mengingat dua kesalahan besar yang sudah ia lakukan.


bersambung....!!!!

__ADS_1


__ADS_2