
Siang ini juga,
Sekretaris Ang sudah berada di dalam mobil bersama Yuri. Tanpa percakapan selain bahasa mata dari keduanya dan Ang mulai menjalankan mobilnya menyelusuri jalanan yang tetap selalu padat itu.
Yuri yang merasa heran karena Sekretaris Ang tidak mengatakan mau kemana ketika mengajaknya keluar, akhirnya bertanya juga.
"Kakak, sebenarnya kita mau kemana?"
Sekretaris Ang menoleh, lalu meraih tangan Yuri dengan satu tangan nya, sambil masih mengendalikan setir dengan tangan kanan nya.
"Kita akan menemui kedua orangtuaku. Apa kau sudah siap?"
"Orang tua? Bukan nya kakak mengatakan jika mereka sudah tidak ada?"
Ang hanya tersenyum sambil menyelipkan rambut Yuri ke balik telinga nya. Lalu kembali fokus pada kemudi.
Suasana kembali hening. Memikirkan ucapan Sekretaris Ang, hati Yuri mendadak tegang. 'Mana mungkin ini? Aku akan bertemu dengan Calon mertua? Tapi jika mereka masih hidup, kenapa kakak mengatakan jika mereka sudah tidak ada?'
Tidak bisa di pungkiri jika Yuri begitu gugup. Membayangkan bertemu dengan calon mertua. Kalimat apa yang pertama akan ia ucapkan ketika bertemu dengan mereka nanti.
'Huh' tegang.
Hingga beberapa saat lamanya, sekretaris Ang membelokkan mobilnya di sebuah pemakaman keluarga dan memarkir mobilnya rapih di sana lalu mengajak turun Yuri dan menggandeng nya untuk melangkah.
Langkah Sekretaris Ang berhenti tepat didepan dua buah batu nisan yang berdampingan lengkap dengan nama dan hari lahir serta wafatnya. Lama keduanya terdiam di sana. Lalu terlihat sekretaris Ang duduk bersimpuh di antara dua batu nisan itu.
"Ayah , ibu. Aku datang!"
"Maafkan aku sudah lama tidak mengunjungi kalian. Tapi lihatlah siapa yang ku bawa kali ini?" Ang tersenyum menoleh pada Yuri dan menarik tangan Yuri agar duduk disebelah nya.
"Aku membawa calon menantu kalian!"
" Ayah..! Maafkan aku, jika aku akan menikahi gadis kecil. Aku tidak bisa menjaga pesan Ayah untuk tidak mengikuti jejak Ayah. Aku tidak bisa lagi menahan perasaan ku. Aku terlanjur jatuh cinta padanya Ayah."
" Aku kemari ingin meminta restu pada kalian, Minggu ini aku akan menikahinya.Tapi Ayah dan ibu jangan khawatir. Aku akan menjaga menantu kalian dengan nyawaku. Dengan badanku, percaya lah Ayah, kisah kalian tidak akan terulang pada kami. Ayah harus percaya itu. Tenang lah kalian di sana. Aku akan sering sering kemari bersama menantu kalian nantinya." ucap Sekretaris Ang, menoleh pada Yuri yang masih menatapnya.
Tak ada suara dari mulut Yuri. Seperti nya hati gadis kecil itu ikut merasakan kepedihan hati kekasih nya, meskipun pria itu tak menunjukkan sedikitpun rasa sedihnya.
"Yuri, ucapkan sesuatu pada kedua calon mertua mu."
"Ah, iya kakak." Yuri tergagap lalu menoleh kepada dua batu nisan itu secara bergantian.
Ia sempat membaca nama yang terukir di sana.
'Anggita dan Sebastian!'
" Paman , Bibi. Namaku Yuri. Aku.., Aku calon menantu kalian. Aku tau, mungkin aku tidak sempurna untuk menjadi istri Putra kalian. Tapi percayalah, aku akan menjadi istri yang baik untuk Putra kalian dan akan menemaninya sepanjang hidupku. Semoga Paman dan Bibi Tenang di sana. Jangan khawatir, sekarang ada Yuri yang akan selalu di samping kak Ang."
Ang, menepuk nepuk halus punggung Yuri, kemudian meraih kedua pundak Yuri untuk mengajaknya berdiri.
Lalu mereka melangkah meninggalkan dua nisan itu dan duduk di bangku panjang yang ada di pinggiran pemakaman.
Keduanya masih membisu. Mulai terlihat gurat kesedihan di wajah sekretaris Ang.
Hati Yuri pun sama, tadi Yuri sempat menyangka jika kedua orang tua sekretaris Ang benar benar masih ada. Tapi ternyata.
"Kakak?" Yuri ingin bertanya.
"Aku tidak pernah mengenal ibu ku." sekretaris Ang sudah menjawab pertanyaan yang belum sempat keluar dari mulut Yuri.
Deg...!!! Hati Yuri terasa teriris mendengar ucapan sekretaris Ang.
"Kata ayahku, ibu meninggal saat melahirkan aku. Bahkan sampai saat ini, aku belum pernah melihat wajah wanita yang sudah berkorban nyawa demi kehidupan ku. Ayah tidak pernah menikah lagi. Ayah, memilih membesarkan aku seorang diri." Ang, mengusap setitik air bening yang menetes di ujung matanya.
"Selain Tuan Muda Garra, kau satu satunya yang pernah ku ajak kemari." sekretaris Ang menoleh Yuri.
Yuri meraih tengkuk Sekretaris Ang, lalu menaruh kepala pria itu di bahunya. Mengusap lembut kepalanya. Hati nya benar benar merasakan kesedihan hati sekretaris Ang saat ini. Yuri tidak pernah menyangka jika Kisah hidup sekretaris Ang begitu pilu, tidak pernah bertemu ibunya sejak lahir. 'Kenapa bisa sama dengan Mia?'
__ADS_1
"Jika kakak sudah mempercayai ku, maka ceritakan semuanya padaku. Aku juga ingin tau apapun tentang hidupmu!"
"Kau mau mendengarkannya?"
Yuri mengangguk.
Sekretaris Ang menarik kepalanya, kini menggenggam erat tangan Yuri.
"Menurut cerita Ayahku, Ayah menikahi gadis di bawah umur seperti mu. Bahkan ibu ku pada saat melahirkan ku , usianya belum cukup tujuh belas tahun. Menurut medis, Tulang Pinggul Ibu ku belum kuat untuk mengeluarkan seorang bayi, sedangkan untuk melakukan operasi itu sudah sangat terlambat, tidak bisa lagi. Dan ibu mengalami pendarahan hebat, lalu akhirnya ia meregang nyawa setelah berhasil mengeluarkan aku."
"Sejak saat itu Ayah sangat terpukul dan menyesal. Dia benar benar menyesal. Bahkan berpesan padaku agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti nya. Dan aku malah melanggar pesan nya."
Yuri tercengang, 'Ternyata ini yang membuat Kak Ang selalu meragukan usiaku. Dia trauma dengan masa lalu Ayahnya.'
"Kau tidak salah kakak! Bukan kah kakak pernah bilang, jika pertemuan kita ini takdir?"
"Kau benar Yuri, kau benar. Ini takdir. Aku tidak bisa memungkirinya." sekretaris Ang segera meraih tubuh Yuri dan memeluk nya dengan erat.
"Jangan takut, jangan takut. Jangan khawatir, kita akan baik baik saja. Aku akan menjagamu, Kisah mereka tidak akan kubiarkan terulang pada kita. Aku sudah memikirkan itu. Aku tidak akan membiarkan mu melahirkan anakku di usia mudamu. Tidak akan!"
"Kakak, semua akan baik baik saja, asal kita tetap bersama."
"Kau benar, selagi kita bersama semua akan baik baik saja!"
"Lanjutkan cerita mu kakak, aku ingin tau lebih banyak lagi."
Sekretaris Ang mengangguk, melepaskan pelukannya.
"Ayah, mengabdi pada keluarga Mahendra sejak dulu. Sejak aku masih duduk di sekolah dasar. Ayah menemani Tuan Besar Abian sebelum Tuan Bastian sukses besar. Hingga pada saat di mana Tuan Bastian sukses , Ayah ditunjuk untuk mendampingi Tuan Bastian, menjadi sekretaris utamanya. Dan aku di didik sejak dini untuk menjadi pengganti Ayah. Hingga sekarang, hingga Tuan Bastian tiada aku tetap setia untuk mendampingi Tuan Muda Garra."
"Ayahku meninggal dua tahun sebelum kepergian Tuan Bastian dan istri. Nama ayah ku Sebastian, karena hampir mirip dengan Tuan Bastian, Ayah ku di panggil Tuan Tian oleh semua orang. Lalu aku, kau penasaran dengan nama panjangk ku?"
"Ah, iya. Tentu saja."
Sekretaris Ang tersenyum,
"Anggara?? Tapi kenapa .._"
"Kenapa di panggil Ang? Karena Nama Tuan muda Adalah Garra." potong sekretaris Ang.
"Dulu, setiap Tuan Abian memanggil Gara, kami berdua menyahut bersamaan. Bingung siapa yang sebenarnya di panggil olehnya. Terkadang jika aku menyahut, Tuan Muda Garra lah yang sebenarnya di panggil , begitu juga sebaliknya. Hingga Tuan Muda Garra Marah dan mulai tidak menyukai namaku, lalu tidak mengijinkan namaku. Bahkan demi menyuruhku mengganti nama , Tuan Muda sempat melakukan mogok makan. Sejak saat itu, semua sepakat untuk memanggil ku Ang saja. Hingga saat ini seluruh dunia luar mengenalku hanya sebagai Ang. Tanpa Gara."
"Ya Tuhan, Anggara?? Nama yang bagus. Tapi di panggil Ang, begitu ganjil. Ternyata begitu cerita nya. Padahal, aku sempat penasaran setengah mati siapa nama panjang Kakak! Aku tidak pernah berpikir jika nama kakak ternyata begitu mudah. Tapi aku susah menebak. Hihi.. " Yuri tertawa.
"Semua orang tidak menyangka, tapi pasti adalah salah satu dari mereka yang sudah menebak jika namaku adalah Anggara."
Keduanya kini tertawa tawa kecil.
Lalu Ang mengajak Yuri untuk kembali ke mobil.
"Kita harus pulang sebelum sore."
"Iya Kakak." Yuri segera bangun. Mereka melangkah ke mobil dengan bergandengan tangan. Lalu masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.
"Yuri, tolong ambilkan sapu tangan ku di laci itu." ucap sekretaris Ang menunjuk laci mobilnya.
Yuri mengangguk, mengulur kan tangannya untuk meraba.
"Tidak ada!" ucap Yuri merasa tidak menemukan sapu tangan milik sekretaris Ang.
"Ada! Cari yang benar!"
Yuri kembali meraba. Tapi benar benar tidak ada yang ia cari, jemari Yuri malah menyentuh sesuatu yang lain. Seperti sebuah kotak. Lalu Yuri mengambil nya.
"Apa ini?" ia menoleh pada sekretaris Ang.
Belum sempat sekretaris Ang menjawab, Yuri sudah membukanya sendiri.
__ADS_1
"Cincin? Ini punya siapa?" mengamati sepasang cincin bermata huruf Y Dan A itu, lalu menoleh lagi.
"Pakai saja. Yang satu tolong pakaikan di jariku." ucap sekretaris Ang mengulurkan tangan kirinya.
Yuri diam saja. Masih mengamati kedua cincin itu.
"Saat kita sepakat mengundur hari pernikahan kita, Aku membeli cincin itu. Ku pikir tiga bulan ke depan aku masih bisa mengikat diri kita dengan cincin pertunangan yang sebenarnya sengaja tidak ingin ku beli saat Melamar mu. Aku tidak tau jika pernikahan kita akan di undur. Karena pada saat Melamar mu, pikiran ku hanya satu, segera menikahi mu, tentu saja kita tidak butuh benda itu. Karena yang akan ku pasang di jarimu adalah cincin kawin peninggalan Ayahku."
"Lalu kenapa kakak membelinya sekarang?"
"Karena kita sudah sepakat untuk mengundur hari pernikahan kita kan?"
"Lalu kenapa kakak malah menyimpannya di sini, bukannya langsung memberikan cincin ini padaku?"
"Karena aku sengaja menyembunyikan cincin itu darimu dan berniat mengembalikan cincin itu ke tokonya., eh..kau malah menemukan nya."
"Maksudnya apa sih? Menyembunyikan dariku? Lalu mau mengembalikan cincin yang sudah kakak beli?"
"Sudah pakai saja. Sudah terlanjur ku beli, dan sudah terlanjur kau melihatnya."
"Kakak!!"
"Yuri, pakai saja. Meskipun tiga hari lagi kita akan melepasnya kembali." ucap sekretaris Ang mengulurkan kembali tangan nya.
"Maksudnya, hanya tiga hari saja memakai cincin ini lalu melepas nya lagi?" Yuri rupanya semakin tak paham.
Sekretaris Ang menarik nafas.
"Pakailah. Tiga hari lagi, kita akan melepasnya dan mengganti nya dengan cincin kawin milik Ayahku." ucap sekretaris Ang.
"Kita tidak jadi memundurkan hari pernikahan kita. Minggu ini kita tetap akan menikah seperti rencana awal." tambah sekretaris Ang.
Yuri terkejut, " Benarkah?"
Sekretaris Ang mengangguk.
"Bagaimana dengan Tuan Muda Garra?"
"Ini perintah darinya."
Yuri masih seperti belum percaya. Hatinya mendadak berdegup kencang, membayangkan tiga hari lagi akan menikah dengan pria pujaan hatinya itu. Sebenarnya, saat itu Yuri sudah bisa melupakan ketegangan nya ketika Ang memundurkan hari pernikahan mereka. Tapi saat ini rasa tegang yang menguasai diri Yuri dari hari hari kemarin yang sempat terlupakan kembali menderanya.
"Kau tidak mau memakai cincin itu walau untuk beberapa hari ini? Baiklah, simpan saja lagi, aku akan mengembalikannya kalau begitu!"
"Jangan!" jawab cepat Yuri dengan cepat memakai cincin yang bermata huruf A dan memakaikan cincin yang berhuruf Y pada jari Sekretaris Ang yang masih setia mengulurkan tangannya.
"Kau suka?"
"Eh, iya. Suka sekali. Setelah melepasnya aku akan menyimpannya sebagai kenang kenangan pertunangan kita." jawab Yuri senang. Dengan cepat Yuri menggeser duduknya untuk lebih mendekat pada sekretaris Ang dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang pria itu, menarik kuat tubuh sekretaris Ang agar bergeser sedikit. Lalu merebahkan kepalanya di dada sekretaris Ang.
"Kakak! Aku bahagia sekali. Ternyata kakak bisa romantis juga ya??"
"Apa? Kau bilang seperti itu romantis?"
"Bodo Amat! Bagiku romantis kok!"
Ang hanya tersenyum, membelai rambut Yuri dan menciumi pucuk kepalanya.
"Sudah , sudah. Kembali ke kursi mu. Kita harus pulang sekarang." ucap sekretaris Ang.
"Tidak mau! Diam lah kak Anggara?? Sebentar lagi. Aku masih ingin seperti ini? Tidak tau apa, aku kan sedang bahagia!!" seru Yuri semakin mempererat pelukannya.
___________________
bersambung....!!!!!!
[ Bagi yang penasaran dengan nama panjang sekretaris Ang. Sekarang sudah tau kan????] Ada yang pernah terpikir Anggara tidak????
__ADS_1