
Hari sudah berganti siang. Siang bahkan sudah lebih sedikit, bisa di namakan lebih dari setengah hari. Waktu merangkak terasa sangat lambat bagi Mia yang sedang gelisah, tak sabar menunggu kepulangan Garra.
Yuri juga sudah meninggalkan Mia setelah lebih dari setengah hari menemani Mia. Yuri sedikit khawatir melihat Mia. Mia yang tidak semangat makan. Tidak semangat dengan Hp barunya.
Padahal bagus, sangat bagus. IP punya.
Yuri saja ingin sekali memiliki hp seperti itu.
Tapi sudah lah, Yuri memutuskan untuk meninggalkan Mia sendirian. Untuk membahas masalah Junior, atau setidaknya memberi sedikit penjelasan atau gambaran tentang Junior, Yuri takut. Yuri ragu. Nanti malah jadi masalah.
Itu namanya ikut campur pribadi Mia. Mia memang tidak pintar. Mia memang polos terlalu polos. Bodoh, mungkin iya. Yuri tau itu. Yuri sadar itu.
Memberi tahu tentang lain nya mungkin Yuri bisa. Tapi untuk yang satu ini, Yuri harus berpikir Seribu kali.
Masalahnya juga menyangkut tentang Junior. Junior lain mungkin masih bisa di toleransi. Lha ini, Junior milik Tuan muda Garra. Mana sanggup! Mana berani Yuri.
Tidak..! Yuri memilih diam. Pura pura tidak tau saja. Pura pura ikut bingung, lalu bertanya tanya. "Siapa itu? Coba tanya yang jelas nanti pada suami mu. Mungkin benar , kau ada salah dengan nya."
Lalu Yuri berpikir, bukan berpikir. Tapi kepikiran. Jangan jangan Mia selama ini belum tersentuh oleh suaminya. Jangan jangan mereka belum pernah belah duren..
'Ahhh...... mana mungkin. Mia... kau ini. Melewatkan kesempatan emas...!! Kau ini bodoh apa bagaimana?? Suami mu itu tampan... Sangat tampan... Macho....!!' hati Yuri menjerit.
'Berarti, semenjak menikah. Semenjak tuan muda Garra sembuh total, Mereka belum melaksanakan Malam pertama. Sudah pasti ini. Sudah pasti! Semua karena kepolosan Mia yang terlalu. Sampai sampai, Junior pun tak tau.' Yuri frustrasi memikirkan Mia. Berjalan lesu melangkah menuju kamarnya.
"Ampuni kedua orang tua ku Ya Allah... ampuni dosa dosaku. Ampuni kami. Ya Allah... maha pengampun. Ini semua bukan salah Mia. Tapi salah rumah itu, salah penghuni rumah itu, yang memperlakukan Mia tidak baik. Sehingga Mia bisa setidak pintar itu." Yuri ambruk di kasur nya. Menenggelamkan wajahnya di bantal.
Mengutuk keluarga nya. Tak lupa berdzikir memohon ampunan pada Allah SWT.
Sementara Mia.. Masih saja melamun di sofa. Sambil masih sesekali melirik jam dinding. Bukan hanya sesekali, tapi sesering mungkin. Padahal HP ada di tangan nya. Aneh kan?
Tidak terpikir oleh Mia, ada jam di sana. Masih saja menoleh ke dinding.
Junior .. Junior..!
Masih saja kepikiran sang Junior.
Junior.. Junior..!
Masih saja memikirkannya.
Lalu menyentuh HP nya. Ada aplikasi berwarna biru impian nya. Kirain mau mencoba membuka nya. Tapi jarinya malah menggeser nya.
Memilih aplikasi berwarna hijau dengan simbol panggilan.
__ADS_1
Mencoba meneliti, lalu melakukan sama persis seperti yang di lakukan Yuri pagi tadi.
Lalu menunggu.
"Salah tidak ya?"
"Benar begini tidak sih?"
Bicara sendiri, bertanya sendiri. Di jawab sendiri juga. Sambil tengak tengok. Mau tanya sama siapa? Mia sendirian. Tidak ada orang.
'Masa iya mau keluar.'
Sambil berdebar debar.
Menunggu panggilan tersambung. Sambil kembali bertanya. "Benar begini tidak sih?"
Lalu mengulangi nya lagi.
Maklum , panggilan pertama yang ia lakukan dengan Hp baru. Dengan Hp semahal itu yang belum pernah ia miliki sebelum ini.
Mia tersenyum lebar ketika panggilan pertama nya berhasil. Wajah tampan nan rupawan terpampang jelas di layar Hp nya.
"Banga Garra...!" pekik Mia.
Mia mengangguk. Menampakkan wajah yang begitu serius.
Melihat itu, Garra tergelak. Lalu menunduk.Tak kuat menahan Garra terbahak, kali ini parah! Sampai memegangi perutnya.
Tapi segera sadar. 'Kenapa menertawakan Mia! Tidak boleh. Harusnya malah kasian. Istriku tidak pintar. Tidak seberuntung gadis lain. Jangan menertawakan nya. Itu sama saja mengejeknya.'
Garra beristighfar. Mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Lalu menarik nafas dalam dalam. Menguatkan hati, menguatkan diri. Kembali menatap layar Hp nya.
"Bang Garra tertawa? Memang ada yang lucu?" Tanya Mia sedikit kesal.
"Mia memang lucu. Lumut pokok nya.!
"Lumut.??"
"Lucu dan imut Mia.?"
"Oh..!" Mia mendengus.
"Bikin bang Garra kangen terus?"
__ADS_1
"Kalau begitu pulang donk? Katanya kangen?"
"Iya sayang. Sabar ya. Baru saja selesai dengan pertemuan penting nya. Tunggu ya? Dua jam lagi." jawab Garra.
"Yeah.. benar ya? Dua jam lagi???" Mia senang , berteriak bahagia.
"Iya sayang. Mia bobok siang dulu aja. Nanti bangun bangun bang Garra sudah ada di kamar." ucap Garra.
"Iya bang Garra sayang.... Sampai jumpa ya??" Mia menutup panggilan nya.
Lalu merentangkan kedua tangan nya. Bernafas lega.
Dua jam lagi. Pikirnya. Lalu melangkah mendekati ranjang. Merangkak ke tengah dan merebahkan diri.
"Tidur siang dulu. Bangun bangun, bang Garra sudah pulang. Sebentar lagi berkenalan dengan Junior. Siapa tau dia baik. Dan mau memaafkan kesalahan ku." bergumam sendiri.
"Tapi, dia siapa sih? Kok bisa aku punya salah dan menyiksanya. Kenal saja tidak." kembali penasaran. Lalu memilih memejamkan matanya.
Garra di sana tersenyum sendiri. Menatap foto Mia di galeri nya. Garra banyak menyimpan foto Mia. Ada yang di ambil secara sengaja. Ada juga yang di ambil secara diam diam.
"Manis sekali istri ku. Aku benar benar mencintai mu Mia. Kamu tau tidak. Jiwa ragaku ini, lahir batin ku ini, ku persembahkan untuk hidup mu. Untuk mu saja. Hanya untuk mu. Selama nya." bisik Garra, mengusap foto Mia.
Garra menghela nafas.
Seperti apapun Mia bagi Garra ,tetap lah hal paling berharga. Tanpa kehadiran Mia di hidupnya. Mana mungkin Garra bisa berdiri gagah lagi? Jika Mia tidak pernah hadir, tidak mungkin saat ini Garra bisa duduk kembali di kursi kebesaran nya ini.
"Aku mencintaimu mia. Aku ingin kita bersama selamanya. Dan malam ini, usaha ku tidak boleh gagal lagi. Aku akan membuat diri kita menyatu. Lahir dan batin kita. Akan ku buat sebuah ikatan dan rantai kuat untuk membelenggu mu. Hingga kau tidak bisa pergi dariku. Dan aku tidak bisa pergi darimu. Sudah saat nya. Waktu nya sudah tiba. Kau sudah mencintai ku. Hanya perlu menunjukan padamu saja. Kau akan merasakan bagaimana di cintai. Bagaimana rasanya mencintai." gumam Garra. Pikiran nya sudah Traveling kemana mana.
Membayangkan bercinta dengan Mia. Membayangkan usaha nya berhasil. Berjalan lancar. Berhari hari, lalu berjalan seminggu. Kemudian berbulan.
Membayangkan perut Mia buncit karena hasil kerja keras nya. Lalu teriakan Mia menggelegar, di susul tangisan bayi yang lucu. Yeh... Cicit kakek jadi!
Garra tersenyum. Bayangan nya melambung jauh... Jauh. Kejauhan!
Byiar.....!!!
Ambyar seketika semua lamunan Garra, ketika seseorang mendorong pintu nya dan masuk tanpa permisi.
Lalu sekretaris Ang ikut masuk menyusul dengan wajah panik.
bersambung.....!!!!!!
[ Hayo.. jangan marah karena ke gantung. Hari ini up satu bab lagi. Biar gak penasaran. Tunggu saja ya?? ]
__ADS_1