
Setengah hari sudah merangkak, begitu cepat bagai aliran air sungai yang deras. Tanpa bendungan atau apapun yang menghalanginya.
Hari ini, mendung. Matahari seperti tak ingin menampakkan sinar nya sama sekali. Angin semilir semakin meratakan awan hitam yang nampak menebal, namun tak juga kunjung jatuh rintik hujan ataupun hanya sekedar gerimis nya saja.
Cuaca terasa dingin di luar, namun tidak terasa dingin sedikitpun di dalam kamar Garra. Cuaca hari ini begitu bersahabat atau memang sedang mendukung kedua insan yang masih tertidur pulas karena mungkin kelelahan setelah perjuangan hebat mereka demi sebuah tujuan yang mulia.
Tertidur bebas di siang bolong, masih tanpa pengganggu. Masih tanpa mbak Endang yang biasanya jam segini sudah ketuk ketuk pintu, mengantar makan siang untuk Nyonya Mahendra.
Semua seperti nya sudah di atur oleh sekretaris Ang sebelum pergi membawa Yuri.
"Jangan ke kamar Tuan Muda Garra untuk mengantar apapun. Jika Nyonya muda mau ada perlu, makan atau sebagainya, Tuan muda yang akan menghubungimu. Mengerti Endang??" pesan Sekretaris Ang, sesaat sebelum Sekretaris Ang beranjak.
"Mengerti Tuan Sekretaris!" jawab Mbk Endang. Itu memang sudah biasa terjadi ketika Tuan muda Garra ada di rumah dan tidak pergi. Semua keperluan Nyonya Mahendra akan di ambil alih oleh Tuan muda Garra sendiri. Mbak Endang paham nya begitu. Tidak tau, tidak pernah berpikir, jika hari ini bukan lah seperti hari hari kemarin.
Ketidak pergian Tuan Muda nya kali ini, ada nya Tuan muda di rumah hari ini , bukan sekedar untuk menemani sang istri tercinta. Tapi , karena adanya misi penting yang harus segera diselesaikan.
Garra membuka matanya, menggeliat. Lalu meringis, merasakan sedikit ngilu di anunya.
Kemudian menoleh ke sebelah bantal yang ia pakai. Wajah polos yang begitu manis itu tepat di hadapan hidungnya , masih terlelap.
Garra bergerak pelan, sambil bibirnya terus saja mengembangkan senyuman. Cepat menuruni ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tentunya membersihkan diri dari keringat Mia yang pastinya menempel di tubuhnya dan juga dari keringatnya sendiri.
Perasaan bahagia, perasaan puas, merasa bangga , merasa berhasil dengan usahanya yang sudah menjebol gawang pertahanan Mia, merasa semakin cinta, pokoknya beraduk tercampur baur menjadi satu di hati Garra. Jika tidak malu dengan dirinya sendiri, mungkin Garra sudah melonjak lonjak kegirangan saking senangnya.
Menepuk nepuk dada nya sambil cepat menyelesaikan mandinya. Terburu buru. Takut Mia keburu bangun. Khawatir Mia akan kaget mendapati ranjang yang berantakan. Takut Mia meringis perih karena sisa perbuatan nya.
Setelah selesai mandi dan memakai baju, Garra menghampiri Mia. Kembali menatap wajah istrinya.
Membelai dengan sangat hati-hati wajahnya.
Merasakan sentuhan, Mia menggeliat. Membuat selimut nya merongsot sedikit turun. Garra terbelalak, menatap tubuh atas Mia yang polos. Jiwa nya kembali meronta ronta. Junior nya kembali menuntut. Hampir Garra menerkam Mia lagi.
Tapi segera menahan nya.
"Tidak! Kasihan istriku. Ini baru permulaan. Jangan rakus kau Junior! Belum waktunya dobel up. Apalagi untuk crazy up. Slow update saja. Pelan asal pasti. Malah akan memuaskan hasilnya." Garra berbicara pada dirinya sendiri sambil membetulkan selimut Mia.
Mia perlahan membuka matanya. Langsung menangkap wajah tampan yang sedang menatapnya penuh cinta.
"Bang Garra." panggil Mia, mengulur kan tangan nya. Meminta tolong untuk duduk.
Garra segera menggapai tangan Mia. Merengkuh dua pundak istri nya.
"Sayang.. Sebaiknya jangan banyak bergerak dulu." ucap Garra menyandarkan Mia di tepi ranjang.
"Badan ku kenapa sakit semua.? Bang Garra, sakit.." Mia meringis saat akan menekuk lututnya.
"Tidak apa apa? Nanti sembuh sendiri."
"Bang Garra juga sakit begini ya?"
__ADS_1
"Tentu saja Mia. Bang Garra juga sakit. Sama saja. Namanya juga usaha. Butuh pengorbanan. Perjuangan yang berat." jawab Garra, untuk menenangkan istrinya.
"Apa benar begitu?"
"Iya Mia ku.. Pertama memang begitu. Jika sudah biasa tidak akan sakit lagi."
"Hah... memang harus di ulangi lagi? Berapa kali?" Mia menggaruk kepalanya. Sambil memegangi selimut di dadanya.
"Sering kali Mia. Harus sesering mungkin."
"Yang benar saja bang Garra? Ini sakit lho.. Sakit sekali. Mana Mia tidak boleh mengeluh. Harus menahannya." protes Mia.
"Nanti tidak lagi. Percaya deh. Kalau masih sakit, Mia di perbolehkan untuk berontak. Lari juga kalau mau di perbolehkan." jawab Garra santai saja.
Mia terdiam, Seperti sedang berpikir. Lalu melirik ranjang. Begitu berantakan. Semua guling dan bantal sudah tidak ada, pindah ke lantai semua. Hanya tersisa satu yang ia pakai saja. Lalu sprei nya tak lagi menempel rapi.
"Ini? Kenapa seperti ini?" tanya Mia.
"Kau yang mengacak ngacaknya tadi. Tidak ingat?"
Mia menggeleng. "Tidak! Dan ini.. Apa ini??" Mia memekik ketika melihat banyak bercak darah di sprei.
Garra ikut terkejut, lalu segera menutup bercak darah itu dengan selimut.
"Darah siapa ini? Bang Garra..Kau terluka??" Mia sangat panik menarik pundak Garra untuk memeriksa.
"AW...! " tentu saja Garra mengerang ketika Mia menyentuh kasar pundaknya.
"Iya.. iya. Tidak apa apa!"
"Biar Mia periksa!" Mia membuka paksa baju Garra. Dan benar saja, kecurigaan Mia. Nampak sebuah luka gigitan yang cukup serius di bahu kanan Garra.
"Ya Tuhan.. Ini. Luka ini?" Mia menutup mulutnya. Mia masih mengingat kejadian perjuangan mereka pagi tadi, ketika ia tak mampu menahan diri, entah menahan diri dari apa, yang jelas saat itu Mia kelepasan menggigit bahu Garra tanpa perasaan.
"Tidak apa sayang... ini hanya luka kecil. Tidak apa-apa." Garra jadi serba salah.
"Tidak apa apa bagaimana? Sampai berdarah darah begitu. Luka nya cukup dalam bang Garra. Maafkan aku... maafkan aku. Tidak bermaksud melukai mu bang Garra??" Mia terisak, memeluk Garra dengan erat.
Niat Garra ingin menjelaskan itu darah , darah siapa. Tapi mendapat perlakuan Mia ,Garra jadi meleleh. Tak ingin melepaskan kesempatan. Di peluk Mia di tangisi Mia..
'Aaa.... senang sekali. Biar saja. Biar saja Mia salah paham. Di jelas kan pun percuma. Nanti saja. Jika sudah waktu nya. Sekarang belum. Ambil kesempatan dulu.' pikir licik Garra, meringsut di dada Mia yang terbuka secara tak sengaja.
"Maafkan Mia.. Mia obati ya?"
"Iya sayang .. iya. Sudah sudah. Mandi dulu. Baru nanti obati ini."
Mia mengangguk.
"Juniornya bagaimana? Apa dia terluka juga. Mia periksa ya?" Mia membungkuk ingin menyentuh Si anu.
__ADS_1
Namun Garra langsung mencegahnya.
"Jangan Mia. Jangan menyentuh nya!!"
"Kenapa? Sakit juga?"
"Tidak tidak. Pokoknya jangan di sentuh. Dia sedang tidur. Nanti dia bangun dan mengamuk bagaimana? Terus meminta lagi. Meminta ngulangi yang tadi." ucap Garra.
Mia kaget, langsung menarik tangan nya. Bersyukur tidak jadi menyentuh nya. Jika benar mengamuk itu bahaya. Akan semakin banyak yang terluka. Bahu kiri Garra bisa saja tergigit lagi. Belum lagi Mia memikirkan itu nya, kenapa terasa panas dan perih, pasti karena Si Junior pikirnya.
Mia mengangguk, lalu merangkak untuk turun.
"Tunggu sebentar bang Garra. Mia nanti obati ya? Tunggu sebentar. Mia mandi dulu ." ucap Mia dengan lembut pada Garra.
Mia menjajakan kakinya di lantai, lalu melangkah. Tapi baru saja satu langkah Mia merintih.
"Sakit?" Garra ternyata sudah siap menopang tubuh Mia dari belakang.
Mia mengangguk.
"Biar bang Garra bantu ke kamar mandi. "
Mia kembali mengangguk pasrah, dengan masih berbalut selimut lalu melangkah di bimbing Garra ke kamar mandi.
"Mau sekalian di mandiin?" tanya Garra, iseng.
"Boleh."
Garra terbelalak, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari Mia.
Melihat Garra tiba tiba terdiam, Mia menoleh.
"Kenapa? Tidak jadi mau memandikan Mia?"
"Jadi.. jadi kok. Tapi , ini serius? Mia tidak malu? Biasanya kan Mia malu."
"Sudah biasa bang Garra. Kenapa mesti malu. Ayo...!!"
'Aaa...' Garra menjerit lagi dalam hati.
Lalu mau tidak mau ikut melangkah masuk ke kamar.
'Awas kau Junior, jangan macam macam. Jangan Terpancing. Kau dengar..?' Garra menyentil anu nya .
Sesaat Garra terpaku , menatap tubuh polos Mia yang sudah basah oleh guyuran air.
"Tolong gosok punggung Mia bang Garra?"
Garra tersentak, lalu bergerak ragu.
__ADS_1
'Tahan Garra. Untuk saat ini tahan dulu. Jangan gegabah. Jangan Rakus...!!' hati Garra terus berontak menahan sesuatu yang makin memuncak sambil menggosok punggung Mia dengan sabun.
___________