Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
104. Bernard menerima tantangan Morgan.


__ADS_3

Bernard menutupi tubuh istrinya dengan handuk.


"Sebentar sayang, sepertinya Jos mau menyampaikan sesuatu!" kata Bernard pada Viona.


Viona mengangguk.


Setelah mengecup kening istrinya, Bernard kemudian menghampiri Jos.


"Ada apa?" tanya Bernard sambil mengelap tubuhnya yang basah dengan handuk.


"Tadi Antonius bersaudara menemui Ramses dan Paul, mereka sudah menyusun rencana untuk bertemu dengan anda di Mall Gold Star besok siang, sepertinya Morgan yang akan menghubungi anda besok!" kata Jos menyampaikan laporannya.


"Oh, bagus! atur saja pertemuan itu, dan pastikan juga diakhir pertemuan tersebut Tuan William hadir!" kata Bernard.


"Baik Tuan!" angguk Jos patuh.


"Kerja bagus Jos!" kata Bernard memuji Jos.


"Sama-sama Tuan" kata Jos menundukkan kepalanya sedikit dengan sopan pada Bernard.


Pipi Jos merona karena pujian Bernard tersebut, dia terlihat senang karena mendapat pujian.


Setiap orang pasti merasa senang kalau hasil kerja kerasnya yang bagus dipuji, dan Jos si pria dingin dan kaku ternyata tersentuh juga karena dipuji.


Jos kemudian pergi dari sana untuk melaksanakan perintah yang diberikan oleh Tuannya.

__ADS_1


Bernard kembali bergabung dengan istrinya yang sedang santai berjemur di kursi malas di tepi kolam renang.


"Kamu begitu cantik istriku, tubuhmu sangat indah" bisik Bernard ditelinga Viona begitu dia berbaring disebelah istrinya tersebut.


Bernard mengelus perut rata Viona.


"Apakah sudah ada tanda-tanda Bernard junior disini sayang" gumam Bernard lagi ditelinga Viona.


Tangan Bernard mengelus kulit lembut istrinya tersebut, jemarinya menelusuri perut Viona.


"Belum kak!" kata Viona memegang tangan Bernard yang mengelus perutnya tersebut.


Bernard merapatkan badannya pada Viona.


"Sepertinya memang kita harus sering-sering melakukannya agar si junior cepat datang!" gumam Bernard seraya mengecup cuping telinga Viona.


"Kenapa tertawa?" tanya Bernard pura-pura tidak senang, dia tahu istrinya kegelian karena ulahnya.


Viona memiringkan tubuhnya menghadap suaminya.


"Aku bukan menertawakan mu kak!" kata Viona mengelus rahang suaminya itu.


"Oh, aku hampir merasa sedih ditertawakan oleh istriku yang imut" kata Bernard tersenyum, dia menoel ujung hidung Viona.


Bernard menarik tengkuk Viona, lalu mencium bibir istrinya itu dengan lembut.

__ADS_1


Viona membalas ciuman Bernard, lalu mengalungkan tangannya ke leher Bernard.


Kini posisi Viona dibawah kungkungan Bernard.


Dengan leluasa Bernard mengelus tubuh istrinya, jemarinya sangat menyukai kelembutan kulit istrinya itu.


Bernard melepaskan ciumannya, Viona kehabisan oksigen.


Bibir Viona merekah membengkak dan basah oleh air liur Bernard.


Wajahnya terlihat sangat merona, pemandangan yang menggairahkan.


Bernard mengelus pipi istrinya dengan lembut, lalu mengelap bibir Viona dengan jempolnya.


"Besok siang Morgan ingin bertemu denganku di Mall, istriku...apakah kamu mau ikut?" tanya Bernard.


"Apa kamu yakin mau bertemu dengan mereka kak? mereka nanti akan menghinamu lagi" kata Viona cemas.


"Jangan khawatir, selama ini aku hanya berpura-pura tidak peduli saja pada setiap perkataan mereka!" kata Bernard mengelus rambut istrinya yang tergerai.


"Dulu aku tidak peduli mereka mau mengatakan apapun tentangku, karena waktu itu aku sendiri tidak punya keluarga selain mereka"


"Tapi sekarang aku sudah mempunyai keluargaku sendiri, jadi aku sebagai lelaki dewasa dan kepala rumah tangga istriku, harus menunjukkan pada mereka bahwa aku tidak bisa ditindas!" kata Bernard dengan penuh semangat.


Viona memeluk suaminya itu dengan erat, dia sangat menyukai ketegasan Bernard.

__ADS_1


Dia mendukung apapun yang akan dilakukan suaminya.


Bersambung....


__ADS_2