Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
112. Sayang...


__ADS_3

Sesampainya di Mansion, Viona membersihkan luka ditangan Bernard dan membalutnya dengan perban.


Setelah membersihkan diri, Viona memasak makan malam mereka.


Bernard menyuruh Viona untuk memasak makan mereka, dia ingin memakan masakan istrinya sesuai permintaannya.


Lima macam masakan telah disajikan Viona diatas meja.


Dua macam sayur, tiga macam lauk.


Viona membuat jus jeruk untuk mereka.


Mengambil nasi dan menaruhnya kedalam piring.


Bernard begitu memasuki ruang makan langsung merasakan wanginya masakan yang dibuat istrinya tersebut.


"Hemm...wangi sekali pasti enak, masakan istriku pasti yang paling enak!" kata Bernard sudah tidak sabaran ingin mencicipi makanan yang telah dimasak Viona tersebut.


Viona meletakkan piring berisi nasi dihadapan suaminya, dan juga padanya.


Kemudian merekapun mulai makan malam.


Bernard terlihat bersemangat menikmati masakan Viona.


Viona merasa kalau suaminya tersebut terlihat sangat kelaparan, mungkin karena menguras tenaga tadi menghajar para pria kekar yang mengganggu mereka.


Jadi dia sangat lapar.


Viona hanya memakan sedikit sayur dan lauk, selebihnya suaminya yang melahap sampai habis bersih.


"Terimakasih istriku, aku sangat kenyang, masakanmu sungguh enak" kata Bernard seraya mengelap mulutnya dengan tissue.


Viona membereskan meja dan membawa piring kotor ke wastafel pencucian piring.


Bernard bangkit dari duduknya.


Dia menghampiri Viona.


"Biar aku yang cuci piringnya!" kata Bernard mengambil spons pencuci piring dari tangan Viona.

__ADS_1


"Terimakasih suamiku sudah membantuku!" kata Viona tersenyum senang.


"Sama-sama sayang!" kata Bernard.


Viona membersihkan meja makan dan peralatan makan lainnya.


Selesai Bernard dan Viona membersihkan ruang dapur, Bernard mengatakan pada istrinya kalau dia akan keruang kerja dulu, ada yang ingin diselesaikannya.


Jos datang membawa laporan.


Bernard pun berkata pada Viona untuk beristirahat saja dulu, dia agak lama membahas masalah pekerjaan dengan Jos.


Viona menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.


Dia akan menonton televisi sebentar, setelah itu baru akan pergi beristirahat.


Satu jam Viona menonton, akhirnya dia mulai mengantuk.


Viona menguap dengan panjang, matanya sudah mulai berat.


Viona mematikan televisi.


Viona mencuci tangannya di wastafel kamar mandi, lalu masuk ke walk in closet mengganti bajunya dengan baju tidur.


Viona mematikan lampu kamar, lalu menyalakan lampu tidur di atas nakas.


Lalu diapun naik ketempat tidur, dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


Tidak berapa lama Viona pun tertidur.


Tengah malam Viona terbangun, dia merasakan tubuhnya meremang.


Ada yang mengelus perutnya dengan usapan lembut, dan lehernya basah oleh benda lembut yang perlahan menjalar dengan suara kecupan yang dalam.


Membuat Viona tanpa sadar mendesah.


Dan tangan itu mulai turun menelusuri bawah pusarnya, membelainya dengan lembut.


Tanpa sadar tubuh Viona menggeliat merasakan belain itu, membuat tubuhnya menikmati belaian sentuhan itu.

__ADS_1


Belaian itu pun terasa semakin mengelus daerah bawah pusarnya.


Tubuh Viona semakin mendamba, tanpa sadar kakinya dia buka agak melebar.


Membuat belaian itu semakin gencar menyentuh daerah sensitifnya, dan kembali Viona mengeluarkan suara mendesah.


"Sayang" Viona mendengar suara yang sangat lembut di telinganya, membuat tubuhnya bergetar sangat menyukai sensasi ini.


Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang memasuki dirinya, dan sontak dia pun membuka matanya.


Viona melihat suaminya berada diatas tubuhnya dalam keadaan polos, dan Viona pun tersadar memperhatikan kalau dirinya juga sudah polos.


Benda yang memasuki dirinya terasa sangat sesak dan penuh.


"Sayang, istriku" gumam suara itu begitu lembutnya ditelinga Viona.


"Iya kak..." jawab Viona dengan suara parau bergumam.


Bernard mengecup bibir Viona, lalu mengulumnya dengan lembut.


"Suamiku...kamu sudah selesai mengerjakan pekerjaanmu?" tanya Viona serak, setelah Bernard melepaskan ciumannya.


Viona mengigit bibir bawahnya, dia merasakan rasa geli yang sangat nyaman dibawah sana.


"Iya, sudah sayang" jawab Bernard sambil melakukan goyangan di pinggulnya.


"Ah...!" tanpa sadar Viona mendesah, rasa geli dibawah sana semakin menjadi-jadi.


"Kenapa sayang, apakah sakit?" tanya Bernard melambatkan goyangannya.


"Tidak suamiku, ini sangat nyaman, aku menyukainya" gumam Viona dengan suara serak.


Bernard memeluk tubuh Viona erat, ereksi nya semakin masuk lebih kedalam


Viona membalas pelukan suaminya tersebut, dan mengaitkan kakinya ke bokong suaminya.


Ini terasa semakin membuat mereka begitu menikmati rasa cinta mereka, sangat nyaman sekali.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2