Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
111. Satu masalah terselesaikan.


__ADS_3

Viona tidak percaya dengan pemandangan yang ada didepannya tersebut.


Morgan dan Andreas terkenal di kota mereka sebagai Ceo yang disegani dari antara sekian banyaknya orang kaya.


Dan sekarang didepannya berlutut karena takut pada adik tirinya yang ternyata seorang yang sangat ditakuti.


Gara-gara tindakan mereka sendiri mencoba mengganggu adik tirinya yang telah dibuang oleh Ayah mereka sendiri.


Mencoba mengganggunya karena ternyata memiliki harta yang berlimpah, dan ingin mengendalikan adiknya tersebut.


Dan yang diluar dugaan, ternyata mereka lah sekarang yang ada dalam kendali Bernard.


Dia masih ingat dengan jelas bagaimana arogannya mereka kepada suaminya, menghina, dan menindas dengan kata-kata yang menyakitkan.


Dan mereka sekarang ketakutan sampai gemetaran pada Bernard, sungguh ironis.


Diamnya Bernard sangat menakutkan, dia paling tidak suka disinggung dengan mencoba bermain-main dengan nyawanya.


"Maafkan kami Nyonya Bernard...kami bersalah, kami sungguh keterlaluan ingin menculik mu, maafkan kami!" kata mereka.


Viona tidak menyangka saudara tiri suaminya itu sangat takut kalau diri mereka celaka, tapi sewaktu mereka mengambil tindakan nekat ingin membunuh Bernard dengan menyewa para Bodyguard tersebut, mereka tidak punya rasa segan sedikitpun.


Viona semakin mengenal sifat saudara tiri suaminya itu, memiliki hati yang licik.

__ADS_1


Bisa jadi mereka nanti akan melakukan balas dendam dengan cara yang lain.


Bernard kemudian berjongkok didepan kedua saudara tirinya tersebut.


"Kalau lain kali aku mengetahui kalian mencoba berbuat sesuatu yang menyinggungku, jangan harap aku berbelas kasihan pada kalian!" kata Bernard dengan nada mengancam.


Bernard kemudian bangkit berdiri.


Dipandangnya Ayahnya dipojok agak jauh dari medan aksi Bernard tadi.


Dia menggenggam tangan istrinya dan berjalan agak mendekat pada Ayahnya tersebut.


"Tuan William, kedepannya tolong jaga putra-putra anda jangan berbuat yang memalukan lagi!" kata Bernard dengan nada datar kepada William.


"Aku yang sengaja memanggil anda kesini, agar anda melihat dengan mata kepala anda sendiri, seperti apa sikap dan perilaku putra-putra kesayangan anda sebenarnya!" kata Bernard dengan dinginnya kepada Ayahnya tersebut.


Bernard tidak menunggu jawaban dari Ayahnya tersebut, dia menarik tangan istrinya untuk meninggalkan lantai 25 tersebut.


Menekan lift khusus pelanggan VVIP.


Ting!


Bernard dan Viona masuk kedalam lift yang terbuka, mereka melihat suasana lantai 25 tersebut terlihat mencekam dengan beberapa pria kekar yang terkapar kesakitan sebelum lift tertutup.

__ADS_1


Bernard meninggalkan gedung Mall dengan tenang bersama istrinya, perasaannya sudah tenang menyelesaikan satu masalah.


Dia membiarkan para anak buahnya untuk mengurus semua kejadian yang ada di lantai 25 tersebut.


Karena Jos mengurus keributan dilantai 25, akhirnya Bernard sendiri yang mengemudikan mobilnya.


"Suamiku, tanganmu terluka" kata Viona melihat biku tangan Bernard yang memegang setir mobil.


"Tidak terasa sakit" kata Bernard tersenyum, satu tangannya mengusap kepala Viona dengan sayang.


"Walaupun tidak sakit, perlu diobati juga, agar tidak infeksi" kata Viona.


"Baik, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, istriku" kata Bernard tersenyum senang.


Viona ikut tersenyum juga.


"Sebagai pasangan suami-istri kita harus saling memperhatikan kak" kata Viona.


"Iya sayang" kata Bernard tersenyum senang, matanya terlihat berbinar-binar.


"Oh iya, apakah kamu mau kita berlibur keluar negeri?" tanya Bernard.


"Berlibur ke pantai saja, bukankah Resort di pantai sudah dibuka untuk umum, pasti sangat ramai sekarang banyak pengunjungnya, menginap di sana pasti asyik" kata Viona bersemangat.

__ADS_1


"Baiklah sayang, apa yang dikatakan istriku, itulah yang terbaik" kata Bernard mengelus kepala Viona.


Bersambung....


__ADS_2