Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
78. Tekad Bernard.


__ADS_3

Bernard membawa Viona keruang kantornya.


Kamar kantor Bernard sangat mewah, bisa dengan jelas melihat pemandangan laut lepas.


Viona sangat menyukai lokasi ruang kantor suaminya tersebut, desainnya sangat mewah.


Suaminya memang pandai memilih warna dan tata letak setiap sudut ruang kerjanya.


Jadi tidak bosan berlama-lama duduk di sana.


Ada balkon yang langsung bisa menikmati angin pantai.


"Wah..indahnya!" kata Viona menatap lautan dari dinding kaca.


"Kamu suka desainnya istriku?" tanya Bernard bergumam dibelakang Viona.


"Iya suamiku, kamu sangat pandai memilih warna dan tata letak ruangannya, aku suka!" kata Viona tersenyum.


Kemudian dia berbalik menghadap Bernard, meletakkan tangannya di dada suaminya tersebut.


Menatap mata Bernard dengan lembut.


"Suamiku, kamu sangat pandai dalam mengelola suatu usaha, aku mengagumimu!" gumam Viona dengan mata berbinar.


Bernard senang melihat tatapan mata istrinya, terlihat begitu indah dan semakin cantik.


Tangannya mengelus pipi istrinya dengan punggung tangannya.


"Aku bahagia kamu menyukai hasil kerja kerasku, aku sayang padamu istriku!" gumam Bernard juga dengan mata berbinar.


Viona memeluk suaminya dengan sayang, lalu menempelkan wajahnya di dada suaminya.

__ADS_1


"Aku juga sangat sayang padamu suamiku, dan juga sangat mencintai suamiku" kata Viona.


Bernard membalas pelukan Viona dengan erat, dia sangat bahagia mendengar apa yang dikatakan istrinya itu.


Dia selalu merasa selalu bahagia walaupun mau berapa kali istrinya mengatakan cinta atau sayang padanya.


Kalau bisa dia ingin istrinya mengatakan kata-kata itu setiap hari.


Saat bangun tidur, saat siang hari, saat malam hari dan saat mereka memadu kasih, dia ingin kata-kata cinta dan sayang selalu diucapkan istrinya kepadanya.


Bernard mengecup puncak kepala istrinya, dia sangat mencintai istrinya.


Dia sangat bahagia bisa menikah dengan Viona Natasya.


Viona sekarang adalah satu-satunya keluarganya.


Ayahnya tidak mengakuinya sebagai anak.


Kakeknya yang menyayanginya juga sudah tiada.


Keluarga tirinya sangat membencinya, tidak ada keluarga jasmaninya yang menyayanginya.


Istrinya lah sekarang tempat dia bersandar akan perhatian dan kasih sayang.


Sejak dia melihat bagaimana menderitanya Ibunya karena kebencian Ayahnya, karena menjadi wanita kedua.


Bernard sudah bertekad dalam hati, bahwa bila kelak dia memiliki istri, tidak akan pernah untuk membagi cintanya pada wanita lain.


Memang Ibunya pernah bercerita padanya kalau dia tidak pernah menjebak Ayahnya, dia tidak tahu kenapa peristiwa itu bisa terjadi.


Ibunya juga berpikir bahwa dia telah dijebak seseorang.

__ADS_1


Kalau Bernard mengingat betapa pedihnya kehidupan yang dijalani ibunya, dia juga bertekad tidak ingin menyakiti perasaan istrinya.


Setiap hari terasa hampa dan tertekan dengan keadaan, Bernard telah merasakannya bersama Ibunya.


Bernard semakin erat memeluk istrinya, dia tidak ingin ada perpisahan diantara mereka.


Sementara itu didasar hati Viona, dia pun merasa bahagia.


Dia akhirnya dicintai oleh pria pujaan hatinya, dan dia sendiri merasa ini bagaikan mimpi.


Mimpi yang menjadi kenyataan.


Viona tersenyum senang memikirkannya, dia pun semakin erat memeluk tubuh kekar suaminya.


Mereka berpelukan beberapa saat sambil melamun dengan pikiran masing-masing.


Setelah itu Bernard pun melepaskan pelukan mereka, menatap wajah istrinya yang cantik.


Viona juga membalas tatapan mata suaminya tersebut.


Dan beberapa saat mereka saling bertatapan mengagumi wajah pasangannya.


Jemari jempol Bernard mengelus sudut bibir istrinya.


Perlahan dia menundukkan kepalanya, lalu mencium bibir istrinya yang merekah.


Viona merasakan bibir suaminya menempel di bibirnya, berlahan dipejamkannya matanya untuk merasakan bibir kenyal suaminya yang mulai mengulum bibirnya.


Terasa sangat menyenangkan, dia selalu menyukai cara suaminya mencium bibirnya.


Perlahan dia menyambut ciuman suaminya, mengulum bibir suaminya yang terasa enak juga di lidahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2