
Bernard mematung mendengar perkataan jujur istrinya.
Apa katanya? bisik hati Bernard merasa tidak percaya dengan pendengaran nya.
Viona merasa pipinya sangat panas, dia tidak berani mengangkat wajahnya.
Dan dia tidak berani untuk memandang wajah suaminya.
Ternyata perasaan takut yang dikhawatirkan Bernard tadi adalah pernyataan cinta Viona padanya.
Dia benar-benar tidak percaya dengan pendengarnya, rasanya dia ingin merekam perkataan Viona tadi.
Beberapa detik mereka saling diam tidak bereaksi apa pun.
Bibir Bernard berlahan-lahan bergerak, dan kemudian menyunggingkan sebuah senyuman.
Dan senyuman itu semakin lama semakin lebar, dadanya rasanya di penuhi dengan kembang api yang berpendar-pendar berbentuk bunga yang mekar sekali.
Istrinya ternyata mencintai dia dari sejak lama sekali, dari semenjak masih remaja.
Bernard merasa ini bagaikan mimpi, di pandangnya Viona yang menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang malu.
Astaga dia terlalu takut sehingga mencurigai sesuatu yang tidak seharusnya terlintas dipikiran nya.
__ADS_1
"Istriku" panggil Bernard lembut.
"Iya" jawab Viona masih menunduk, dia sangat malu.
"Kemarilah!" Bernard mendekat pada Viona, menarik istrinya masuk kedalam pelukannya.
Bernard tersenyum senang, dipeluk nya Viona begitu eratnya. Dadanya rasanya mau meledak sanking senangnya.
Dikecup nya berkali-kali puncak Kepala Viona, dia sangat bahagia sekali. Istrinya mencintainya, ini luar biasa. Bahagianya.
"Kenapa aku tidak pernah melihat mu saat memperhatikan ku dari dulu?" tanya Bernard masih terus memeluk Viona.
"Suamiku tidak bisa melihatku, karena aku melihatmu dari jarak jauh suamiku" kata Viona malu.
"Tidak!" kata Viona merasa semakin malu.
"Biasanya kalau ada seseorang suka melihat dan mengikuti seseorang dari jauh disebut penguntit istrikuistriku!" kata Bernard semakin tersenyum, di kecupnya leher istrinya, senyuman nya terus merekah dibibirnya.
"Aku bukan penguntit!" kata Viona semakin malu.
Hampir saja tawa Bernard meledak mendengar perkataan istrinya itu, kalau bukan penguntit jadi apa namanya itu? pikir Bernard dengan tawa tertahan.
"Sial sekali, kenapa aku waktu itu tidak melihat istriku ya...rasanya kepingin waktu di ulang lagi!" kata Bernard menggoda Viona.
__ADS_1
Viona semakin membenamkan wajahnya ke dada Bernard.
"Sekarang aku mengerti kenapa kamu mau menerima pernikahan itu, ternyata kamu sudah menyukaiku terlebih dahulu" Bernard mengeratkan pelukannya.
"Saat suamiku tidak mencium aku disaat pernikahan kita, aku ingin sekali memajukan bibirku untuk menempelkan bibirku padamu suamiku" kata Viona malu.
"Oh..." Bernard tersenyum merekah mendengar penjelasan Viona, dikecup nya leher Viona bertubi-tubi.
Dia mengingat peristiwa itu, dia sebenarnya sangat gugup menikah dengan seorang gadis muda yang cantik.
Waktu itu dia pun ingin sekali mencium Viona, tapi dia tidak berani. Dia takut Viona tidak mau di cium olehnya.
Seandai dia tahu ternyata gadis yang menjadi pengantin nya waktu itu diam-diam menyukainya, pasti dia tidak akan melewatkan momen yang sangat sakral tersebut.
Dia pasti akan mencium dengan sepenuh hati.
"Aku sekarang jadi mengerti kenapa kamu bisa memanggil ku dengan lembut dengan panggilan 'suamiku' malam itu, dan menawarkanku untuk tidur di tempat tidur bersama mu" kata Bernard melepaskan pelukannya, dia menatap Viona dengan senyuman yang terus merekah.
"Maafkan aku istriku, aku memang tidak berguna" ucap Bernard lirih, dia membelai pipi Viona dengan lembut.
"Iya suamiku...jangan merasa bersalah terus, aku merasa suamiku lelaki yang berguna walaupun semua tahu dan aku pun tahu suamiku tidak bisa di harapkan, aku tetap menyukai suamiku" kata Viona memeluk wajah Bernard dengan kedua telapak tangannya.
Bernard menatap Viona masih dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
__ADS_1
Bersambung.....