Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
156. Viona bersemangat.


__ADS_3

Jos menunggu apa yang diinginkan oleh Lidia, jarak wajah mereka semakin dekat ditarik oleh Lidia.


Dan wajah Jos dengan Lidia hampir bersentuhan.


Lidia semakin menarik leher Jos.


Jos sontak terkejut, dia menahan tubuhnya agar tidak menyentuh wajah Lidia.


"Nona...anda mau apa? hentikan!" kata Jos reflek menekan tangannya keatas tempat tidur agar wajahnya tidak semakin mendekat pada wajah Lidia.


"Aku ingin memeluk kamu lagi" kata Lidia tersenyum.


"Sudah waktunya anda istirahat Nona"


Jos melepaskan tangan Lidia yang memeluk lehernya.


Dia sangat gugup mendengar Lidia ingin memeluknya lagi, dadanya semakin berdebar.


Dia harus cepat-cepat menyingkir dari sana, kalau tidak wajahnya yang sudah mulai memerah akan terlihat oleh Lidia.


"Saya permisi Nona, istirahatlah!" kata Jos setelah berhasil melepaskan tangan Lidia yang memeluk lehernya.


Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sopan, Jos berpamitan pada Lidia.


"Saya pergi dulu Nona, selamat beristirahat" kata Jos.


Wajah Lidia kecewa melihat Jos meninggalkan nya, dia ingin memeluk Jos sekali lagi.


Tapi Jos sepertinya tidak nyaman dengan apa yang ingin dilakukannya.


Jos membuka pintu kamar Double bed tersebut, dan menutupnya pelan.

__ADS_1


Jos bersandar untuk menetralkan debaran jantungnya yang begitu kencang dipintu kamar Lidia dan Anna.


Wajahnya semakin memerah, karena Lidia tidak merasa sungkan untuk ingin memeluknya lagi.


Jos memegang dadanya, dia belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini.


Apakah seperti ini rasanya dekat dengan seseorang? pikir Jos menekan dadanya yang semakin berdebar.


Dia begitu gugup melihat senyuman Lidia tadi, sangat manis dan Lidia tampak semakin cantik.


Dan aroma tubuh Lidia membuat Jos semakin terpesona dengan daya tarik Lidia.


Jos mengedipkan matanya, apa yang kupikirkan? bisik hatinya, dia merasa seperti lelaki mesum.


Jos menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang pikirannya tersebut.


Diapun bergegas dari sana, meninggalkan pintu kamar Lidia dan Anna.


Sementara itu dikamar suite, Bernard telah selesai membantu istrinya membersihkan diri.


Mereka sedang bersantai ditempat tidur menonton tv.


Bersandar dikepala tempat tidur.


Bernard membawa istrinya untuk duduk dalam pangkuannya, mendekap istrinya dari belakang.


Dan tangannya tidak bisa diam mengelus terus perut istrinya dengan lembut.


Dan sesekali mengecup puncak kepala Viona.


Semenjak Viona diketahui hamil, Bernard sangat berhati-hati sekali memperhatikan keadaan tubuh istrinya.

__ADS_1


"Sayang...kira-kira kamu mau anak lelaki atau perempuan?" tanya Bernard seraya mengelus perut istrinya.


"Dua-duanya aku mau, tidak perduli apa jenis kelaminnya, aku akan menyayangi nya kak!" kata Viona memegang tangan suaminya yang tengah mengelus perutnya.


"Iya, kamu benar istriku, aku juga sama seperti apa yang kamu pikirkan!" kata Bernard tersenyum senang.


Dipeluk nya tubuh Viona gemas, dia begitu senang sudah menjadi seorang Ayah.


Dia akan menyayangi keluarganya sama seperti menyayangi tubuhnya sendiri.


"Kak..aku lihat kamu tidak begitu bersemangat memakan masakan restoran, apakah aku perlu memasak untukmu?" tanya Viona.


"Tidak usah sayang, aku hanya tidak berselera saja, mungkin karena mengidam!" kata Bernard.


"Bagaimana kalau kita memanggang daging lagi?" tanya Viona mengusulkan.


Bernard tampak berpikir sebentar.


"Baiklah!" kata Bernard setuju.


Viona tampak begitu senang mendengar jawaban suaminya, dia akan membuat makan Suaminya meningkat lagi.


Viona berencana akan membuat bumbunya.


Malam ini mereka akan berpesta barbeque, dia akan membeli daging sapi yang bagus di mini market Resort.


"Baiklah kalau begitu, aku sekarang akan kekamar Lidia dan Anna, kami akan mempersiapkan untuk makan malam kita!" kata Viona dengan bersemangat.


Dia melepaskan pelukan suaminya tersebut dari pinggangnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2