Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
49. Mabuk.


__ADS_3

Morgan dan Andreas terdiam mendengar perkataan Marco.


Ini sangat memalukan, mereka tadi terlalu percaya diri mengejek Bernard.


Apakah benar Bernard pemilik gedung ini? sejak kapan?


Morgan dan Andreas merasa aneh, selama ini Bernard tidak punya kesibukan apa-apa.


Dia memang selalu pergi keluar rumah berjam-jam, tidak pernah berpakaian formal layaknya seperti orang pergi bekerja.


Kenapa sekarang menjadi seorang pemilik gedung?


"Tuan Bernard merintis usahanya dari delapan tahun lalu!" kata Marco mulai menjelaskan tentang si pemilik gedung.


"Apa??! " Morgan dan Andreas tidak percaya dengan penjelasan Marco.


Jadi Bernard selalu keluar rumah ternyata bekerja, bukan keluyuran.


William sudah sangat malu dengan sikap kedua putranya tersebut. Lisa pun jadi salah tingkah, kedua anaknya tidak bisa dibanggakan.


Ini benar-benar sangat memalukan.


"Suamiku..ayo kita pulang!" kata Lisa menarik tangan William. Wajahnya sudah hijau karena malu.


William pun menuruti ajakan istrinya.


"Tuan William...kenapa cepat sekali mau pulang?" tanya Marco.


"Istriku tiba-tiba sakit perut!" kata William.


William bergegas membawa istrinya pulang.


Sementara Morgan dan Andreas pun jadi salah tingkah dengan situasi yang mereka buat sendiri.

__ADS_1


Sementara Bernard masih tetap bersikap tenang, melayani beberapa para pebisnis mengobrol.


Dia tetap merangkul istrinya kemana pun melangkah.


Dia tidak membiarkan Viona berdiri sendirian menikmati pesta tanpa berdiri di sampingnya.


Viona dengan setia menemani suaminya mengobrol dengan para tamu undangan yang tidak dikenalnya.


Dia melihat Bernard sudah minum tiga gelas anggur, ternyata suaminya tersebut kuat juga terhadap alkohol.


Malam semakin larut, acara hari jadi Hotel berlangsung sepertinya hanya ditujukan khusus untuk Bernard.


Banyak yang ingin bekerja sama dengan Bernard.


Morgan dan Andreas tidak bisa untuk beradaptasi lagi dengan para rekan bisnis yang lain, di karenakan sikap mereka yang memalukan tadi.


Perhatian semua orang kebanyakan hanya tertuju pada Bernard.


Mereka juga memuji Viona sangat cantik, sangat cocok menjadi pasangan Bernard.


Bernard merasa sudah bosan berlama-lama mengobrol dengan para pebisnis itu, mata mereka selalu memandang Viona dan tersenyum ke arah Viona.


Bernard meneguk minuman anggur terakhirnya, dia tidak ingin lagi meladeni para tamu undangan tersebut.


Kepalanya mulai berat, karena sudah terlalu banyak minum.


Bernard kemudian permisi pada Marco.


Lalu Bernard pun menggenggam tangan Viona meninggalkan Aula Hotel tersebut.


"Halo Tuan Bernard..kenapa cepat sekali pulang?" seorang wanita menghalangi langkah mereka yang akan meninggalkan Aula Hotel.


Mata Bernard menatap tajam wanita itu, dia merasa wanita tersebut begitu lancang menghalangi jalan mereka.

__ADS_1


Tidak pernah ada wanita yang berani menegurnya.


Wanita ini tumben sekali menyapanya dengan memasang senyum manis pula.


Apa karena sudah mendengar siapa dia sebenarnya? ternyata seorang konglomerat super kaya?


Bernard mencibir tidak senang.


Matanya yang tajam sangat dingin memandang wanita tersebut.


Wanita itu jadi gemetar melihat tatapan mata Bernard yang begitu tajam, sangat menakutkan!


"Menyingkir dari hadapanku!" kata Bernard dengan tajam, matanya dengan pandangan yang menyeramkan menatap wanita itu.


"Ma...maaf Tuan!" wanita itu terlihat begitu ketakutan dan gugup, gagal sudah untuk berkenalan dengan Bernard.


Aura Bernard terasa sangat menakutkan.


"Lancang sekali!" kata Bernard kesal.


Viona juga heran dengan wanita itu, apa dia tidak lihat Bernard lagi bersama istrinya.


Bernard menggenggam tangan Viona keluar dari Aula.


Kepalanya sudah berat sekali, dirangkul nya pinggang Viona untuk menahan tubuhnya yang mulai tidak stabil.


"Suamiku..kamu kenapa?" tanya Viona heran dengan tubuh Bernard yang terlihat seperti sempoyongan.


Apakah suamiku mabuk? pikir Viona.


Mobil mereka sudah menunggu di depan lobby Hotel.


Bodyguard Bernard dengan cepat membuka pintu mobil untuk mereka.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2