Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
80. Telepon yang tidak terduga.


__ADS_3

Bernard membetulkan letak pakaian Viona, mengambil bra Viona yang dia lemparkan sembarangan kelantai.


Dan membantu istrinya tersebut untuk memakaikannya kembali.


"Tadi aku bertemu dengan Lidia adik tirimu suamiku, tadi saat selesai mengurus pengunduran diri!" kata Viona setelah selesai berpakaian rapi.


"Mau apa dia ke sana?" tanya Bernard bingung.


"Sepertinya ada yang merekam dirinya saat marah-marah di Mall Gold Star kemarin, dan mempostingnya ke media sosial, karirnya sekarang terancam dan menjadi bahan perbincangan di dunia maya!" kata Viona.


"Dia memang terlalu arogan, dari kecil sifatnya terlalu manja, dia pasti tidak terima sifat aslinya jadi sorotan publik!" kata Bernard dingin, dia tidak menaruh minat dengan masalah saudari tirinya tersebut.


"Dia menuduh bahwa rekaman itu kita yang menyebarkannya ke media sosial" kata Viona lagi.


"Jangan pedulikan, biarkan saja dia bicara sesuka hatinya, nanti juga akan ketahuan siapa yang merekam video itu" kata Bernard mengelus kepala istrinya dengan sayang.


Bernard memeluk Viona sejenak, lalu mengecup ujung kepala istrinya tersebut.


Ini menjadi suatu kebiasaan bagi Bernard selalu mengecup ujung kepala istrinya.


"Ayo makan siang, aku sudah pesan tempat untuk makan siang kita" Bernard menarik tangan istrinya untuk keluar dari ruang kantornya.


Bernard membawa Viona makan siang ke Restoran ternama di kota mereka.


Restoran mewah dan terkenal, harus melakukan reservasi terlebih dahulu sehari atau tiga jam sebelum datang ke restoran untuk menerima pelayanan.


Viona belum pernah makan di restoran mewah seperti ini, dia tidak percaya bisa makan di restoran mewah tersebut.


Makanannya juga sangat enak sekali, Viona rasanya sampai ingin melompat kegirangan merasakan makanan tersebut begitu lezat saat menyentuh lidahnya.

__ADS_1


Beda dengan Bernard, dia merasa makanan itu biasa-biasa saja.


Setiap makanan yang datang disajikan, dia hanya memakannya sedikit saja.


Sementara itu Viona memakan setiap makanan yang disajikan dengan lahap, dan sampai piringnya mengkilap bersih.


Ini enak sekali! pikir Viona begitu senangnya.


Bernard tersenyum melihat istrinya begitu menikmati makanan tersebut.


Dia ternyata tidak salah membawa istrinya makan di restoran ini, makanannya sangat cocok di lidah istrinya.


Dia senang melihat piring Viona habis bersih.


Drrrtt!!


Ponsel Bernard tiba-tiba bergetar.


Ayahnya, William Antonius.


Mau apa dia? pikir Bernard heran.


Seumur hidupnya Ayahnya tidak pernah menelepon dia.


Ini sangat mengejutkan, kenapa Ayahnya menghubungi nya.


Bernard tidak menanggapi panggilan tersebut.


Setelah getaran ponselnya berhenti, dia kembali memasukkannya kedalam sakunya.

__ADS_1


Dia tidak peduli, dia tidak ada urusan lagi dengan keluarganya.


Yang tepatnya bukan Ayahnya lagi, karena mereka telah membuangnya tanpa rasa kasihan.


Kembali ponselnya bergetar, Bernard melihat layar.


Nama yang sama lagi, dia mengabaikannya.


Membalikkan ponselnya diatas meja.


Kembali melanjutkan makan siangnya bersama istri tercintanya.


Kembali ponselnya bergetar.


Dan lagi-lagi nama yang sama, William Antonius.


Bernard mengabaikannya lagi.


"Siapa suamiku? kenapa tidak diangkat?" tanya Viona heran melihat suaminya tidak menanggapi teleponnya yang bergetar.


"Orang yang tidak penting istriku, biarkan saja, aku tidak ingin menjawabnya!" kata Bernard acuh tak acuh.


Viona pun tidak bertanya lagi setelah suaminya berkata seperti itu.


Setelah mereka selesai makan siang, Bernard membawa istrinya untuk melihat pembangunan Mall Gold Star dilantai dua puluh lima yang sedang direnovasi.


Viona ikut saja apa yang dikatakan suaminya, dengan begini dia bisa lebih mengenal suaminya lebih banyak lagi.


Suaminya ternyata sangat pandai dalam berbisnis.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2