
Bernard melihat berkas-berkas yang ada ditangannya tersebut, memperhatikan setiap barisnya dengan seksama.
Semuanya sempurna, dia pasti akan memenangkan kasus Lisa yang tidak diketahui oleh siapapun.
Dia akan membuat Lisa sengsara, seperti yang telah dilakukannya pada Ibunya.
Ibunya tidak pernah ada niat ingin menggoda Ayahnya, dan Ibunya juga tidak punya perasaan cinta pada Ayahnya.
Karena janin di rahimnya adalah benih Ayahnya, maka dari itu dia meminta pertanggungjawaban Ayahnya.
Dan mengenai kematian Ibunya dan Kakeknya, Bernard tidak menyangka berkaitan juga dengan Lisa.
Wanita itu ternyata iblis.
Bernard menghela nafasnya dengan berat, untung Kakeknya sangat pandai dalam menilai seseorang.
Karena itulah Kakek tidak menuliskan dalam surat wasiatnya mengenai harta warisan perkumpulan bawahnya pada Ayahnya.
Surat itu terpisah, dan tidak dibacakan didepan umum.
Surat itu secara langsung telah diberikan Kakek sebelum meninggal kepada Bernard.
Tok! Tok! tok!
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya ada yang mengetuk, Bernard memandang ke arah pintu.
Perlahan pintu terbuka, dan muncullah wajah cantik istrinya dari balik pintu.
Bernard yang tadi sangat sedih mengingat masa lalu Ibunya, begitu melihat wajah istrinya yang cantik, senyuman senang mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Suamiku, sudah malam, Ayo makan!" Viona masuk kedalam ruang kerja Bernard seraya menutup pintu dibelakangnya.
"Kemari lah!" Bernard merentangkan tangannya lebar-lebar.
Viona berjalan menghampiri suaminya, dan Viona pun masuk kedalam pelukan Bernard.
Bernard menaikkan Viona keatas pangkuannya, lalu mendekap tubuh mungil istrinya dengan erat.
"Sayang..." gumam Bernard meletakkan dagunya di bahu Viona, "Aku ingin makan yang pedas-pedas, kamu saja yang masak makan malam kita ya?"
Sejak pagi kemarin Bernard selalu meminta Viona memasak untuk makan mereka, dia akan mual memakan masakan Bibi Rose.
Viona jadi heran melihat tingkah suaminya tersebut, tidak seperti biasanya, dia terlihat jadi begitu manja pada Viona.
Selalu meminta Viona yang membuatkan apa yang ingin dimakannya.
"Baiklah aku akan masak yang pedas malam ini!" kata Viona menyetujui keinginan Bernard.
"Ayo, kita lihat bahan apa di kulkas untuk dimasak pedas" kata Viona
Viona turun dari pangkuan suaminya, tapi Bernard menahan pinggang istrinya tersebut.
"Ada apa lagi kak?" tanya Viona heran.
"Sebentar!" Bernard menarik tengkuk Viona.
Bernard mengecup bibir Viona, dia sangat bahagia memiliki istri yang baik dan pengertian.
Bernard kembali mengecup bibir Viona dan mengulumnya sebentar, lalu melepaskannya tanpa memberi Viona untuk membalas ciumannya.
__ADS_1
Dia tidak tahan kalau Viona mencoba membalas ciumannya, bisa-bisa mereka tidak jadi untuk makan malam.
Bernard hanya ingin mengecup sebentar saja bibir istrinya yang lembut, dia rindu untuk merasakannya.
Bernard mengusap bibir istrinya yang basah dengan jempolnya.
"Ayo!" Bernard mengangkat tubuh Viona untuk turun dari pangkuannya.
Setelah memasukkan kembali berkas didalam map kedalam laci dan menguncinya, Bernard dan Viona keluar dari ruang kerja tersebut.
Sesampainya di dapur, Viona memeriksa bahan makanan yang akan di masaknya.
Viona mengeluarkan daging ayam, ikan dan tiga macam sayuran, dia memutuskan memasak dua macam lauk dan tiga macam sayur.
Viona memasak dua macam lauk dengan pedas, dan sayuran tidak terlalu pedas.
Viona memasak dalam tiga puluh menit, aroma pedas tercium di dapur Mansion.
Bibi Rose dan pelayan lain terdengar terbatuk-batuk karena mencium aroma pedas yang menyengat.
Bernard begitu senang melihat warna merah terhidang didepannya, dia menerima piring yang telah diisi Viona dengan nasi putih.
Dan Bernard pun mulai mencicipi masakan pedas tersebut.
Bernard terlihat sangat menikmati, sampai terdengar suara berdecak saat mengunyah makanannya yang pedas tersebut.
Tapi sedikitpun dia tidak berusaha untuk berhenti makan, Bernard makan dengan lahap sampai wajahnya merona kepedasan.
Dan keringat mengucur dari kepalanya.
__ADS_1
Bersambung......