
Sepanjang jalan menuju kamar setelah Jos menjawab pertanyaan Lidia seputar tentang orang tuanya, Lidia jadi melamun merasa simpati pada kehidupan Jos.
Sedari kecil hidup dipanti asuhan pasti kehidupan Jos sangatlah keras, dan banyak mengalami penderitaan.
Ada rasa yang sulit diungkapkan Lidia tiba-tiba datang dari hatinya, tangannya rasanya ingin dia letakkan dikepala Jos untuk membelai rambut Jos.
Dia membayangkan Jos kecil dengan wajah sedih melihat setiap anak yang bersama orang tua mereka, dan membuat Jos kecil sangat mendambakan juga kasih sayang orang tuanya.
Lidia juga membayangkan Jos kecil, setiap malam akan tidur sendirian tanpa pelukan dari orang tuanya.
Dan Jos kecil yang selalu kesepian tanpa orang tuanya.
Mata Lidia berkabut membayangkan Jos kecil yang bertubuh kecil, dan ringkih menjalani kehidupan yang keras, dan juga pasti Jos kecil bayak menghadapi penindasan dan kekerasan.
Tidak seperti dia yang penuh dengan kasih sayang dari orang tuanya, sedari kecil selalu dimanjakan oleh Ayahnya.
Apapun yang diinginkan Lidia selalu diberikan orang tuanya.
Dia hanya memiliki seorang kakak dan mereka selalu diperlakukan orang tua mereka tidak pilih kasih.
Lidia membayangkan kehidupan Jos kecil yang keras dipanti asuhan dengan banyaknya anak-anak lain pasti tidak akan mendapatkan perhatian khusus.
Mata Lidia semakin berkabut, dia tidak tahu kenapa bisa begini.
Dia sangat tersentuh memikirkan kehidupan Jos kecil tanpa orang tuanya.
__ADS_1
Bahu Lidia bergetar, air matanya mulai mengalir.
Diam-diam dia menangis, keningnya perlahan turun dan menempel ditengkuk Jos.
Jos yang menggendong Lidia merasakan kalau ada sesuatu yang membuat Lidia tidak nyaman.
"Kenapa Nona? apakah bahu anda masih terasa sakit?" tanya Jos berhenti melangkah.
Pertanyaan Jos yang penuh perhatian itu malah membuat Lidia semakin menagis, air matanya malah semakin deras turun.
"Nona? apakah ada perkataanku yang membuat anda tidak nyaman?" tanya Jos semakin tidak enak, dia memutar kepalanya kesamping memperlihatkan wajahnya sebelah untuk melihat Lidia yang tidak bisa dilihatnya.
Lidia semakin menangis, tanpa bisa dibendungnya lagi, Lidia mengalungkan tangannya dileher Jos dan meletakkan keningnya dikepala Jos.
Jos diam tidak bergerak, dia merasakan kalau Lidia semakin menangis.
Dan dia merasakan tangan Lidia semakin erat memeluk lehernya, dan kening Lidia semakin ditekan dikepalanya.
Dada Jos berdegup kencang, dia tidak tahu harus bagaimana untuk menenangkan Lidia.
"Nona" panggil Jos pelan, dadanya semakin berdegup kencang.
Lidia semakin merapatkan pelukannya dipunggung Jos, dan Jos merasakan benda lembut menempel di punggungnya.
Jos tidak berani bergerak, lututnya sedikit gemetar merasakan tubuh Lidia menempel di punggungnya.
__ADS_1
Ini pengalaman pertamanya menghadapi seorang wanita yang peduli dengan kehidupannya, dan memeluknya dengan terharu.
Jos tetap diam ditempatnya tidak berani bergerak, dia menunggu Lidia untuk tenang kembali.
Lidia akhirnya mulai tenang, air matanya telah membasahi jas hitam Jos.
"Maaf" gumam Lidia parau karena hidungnya sengau akibat menangis.
"Apakah anda sudah tenang?" tanya Jos.
"Iya" jawab Lidia menganggukkan kepalanya.
Jos kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Lidia.
Sesampainya dikamar, ternyata Anna sedang dikamar mandi membersihkan diri.
Jos meletakkan Lidia perlahan disofa kamar Resort.
Lidia memandang Jos, matanya terlihat bengkak akibat menangis tadi.
Jos juga memandang Lidia, dia melihat mata Lidia yang membengkak.
Mereka saling diam beberapa detik saling memandang.
Bersambung.....
__ADS_1