
Ayah Viona sangat senang bisa menikmati masakan putrinya lagi.
"Papa yakin tidak mau ke rumah sakit?" tanya Viona.
"Tidak, Papa sekarang sudah sembuh, mungkin karena rindu padamu dan masakanmu makanya Papa sakit" kata Tuan Philip.
"Baiklah, kalau Papa tidak mau pergi ke rumah sakit, jika ada sesuatu hal, telepon saja aku pa" kata Viona.
"Iya putriku" angguk Tuan Philip.
"Kami pergi dulu Papa mertua" sahut Bernard berpamitan pada Ayah Viona.
"Iya" angguk Tuan Philip, "Terimakasih sudah menjaga putriku dengan baik, maaf sebelumnya kalau aku sudah salah menilai mu menantuku" kata Tuan Philip pelan, dia merasa malu.
"Tidak apa-apa Papa Mertua, justru aku yang seharusnya mengucapkan terimakasih pada Papa Mertua, karena telah merestui pernikahan kami" kata Bernard.
"Itu karena Viona juga, dia yang ingin menikah dengan mu, dia memaksa aku agar menikahkan dirinya dengan mu!" kata Tuan Philip menjelaskan.
"Oh...!" wajah Bernard tiba-tiba merona mendengar perkataan Ayah Mertuanya.
Ternyata istrinya yang memaksa ingin menikah dengan dirinya.
"Iya..dia yang mau, dan keinginan ku semoga kalian cepat dapat punya anak, aku sudah semakin tua, rasanya sangat ingin menggendong cucu" kata Tuan Philip.
Hati Bernard berbunga-bunga mendengar perkataan Ayah Mertuanya tersebut, dia menatap istrinya yang tampak malu-malu.
__ADS_1
Anak?
Tentu saja dia mau, itu salah satu impian Bernard yang ingin dia wujud kan.
Bernard tersenyum gemas melihat istrinya yang tampak semakin malu, dia ingin memeluk istrinya tersebut dan menciumnya dengan menggebu-gebu.
Perasaannya sangat senang, Ayah Mertuanya ingin punya cucu.
Mereka pun meninggalkan rumah Ayah Viona.
"Istriku" panggil Bernard setelah mobil meninggalkan halaman rumah Ayah Viona.
"Iya kak..eh suamiku" Viona menutup mulutnya spontan karena salah panggil.
Bernard tertawa melihat istrinya jadi salah memanggil dirinya setelah mengetahui masa lalu mereka.
"Baiklah kak.." kata Viona malu-malu.
Bernard sangat gemas melihat wajah istrinya yang malu-malu, sangat imut.
"Kemari lah sayang...istriku" kata Bernard menarik Viona dekat padanya, lalu mengangkat tubuh mungil istrinya ke atas pangkuannya.
"Kamu sangat menggemaskan istriku, terimakasih sudah mau menikah denganku, ternyata kamu memang tidak terpaksa menikah denganku, kamu menyerahkan hidupmu padaku dengan suka rela, aku sangat bahagia mendengarnya sayang" gumam Bernard, lalu mencium pipi Viona yang merona.
"Itu karena aku sangat mencintai suamiku" kata Viona tersenyum malu.
__ADS_1
"Oh sayangku, terimakasih banyak" gumam Bernard.
Dipeluk nya Viona dengan erat, dia sangat bahagia.
"Dan kita harus mengabulkan keinginan Papa Mertua, kita harus sering melakukannya istriku" bisik Bernard ditelinga Viona.
Wajah Viona semakin merah mendengar perkataan suaminya tersebut.
"I..itu, kita kan sudah melakukannya suamiku" kata Viona menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bernard.
"Harus lebih sering lagi sayangku..istriku, supaya Bernard junior bertumbuh disini" kata Bernard sembari mengelus perut rata istrinya.
Viona tidak bisa menjawab kata-kata suaminya itu lagi, dia diam saja.
Dia sangat malu, suaminya terlalu berterus-terang.
"Apakah kamu tidak mau untuk membuat Bernard junior? agar Papa Mertua senang?" gumam Bernard tersenyum menggoda istrinya.
Viona merasa suaminya sangat bersemangat membahas masalah baby, bukankah semenjak mereka pertama kali saling terbuka sudah melakukannya?
Viona merasakan tangan suaminya mengelus kepalanya, dan memeluknya lebih erat.
"Kalau kamu tidak ingin cepat mendapat baby, tidak apa-apa istriku" kata Bernard mengecup kepala Viona.
"Aku mau!" kata Viona spontan.
__ADS_1
Senyuman Bernard semakin merekah, dia sangat senang mendengar perkataan istrinya tersebut.
Bersambung....