
Bernard mengangkat Viona, menggendongnya masuk ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari sana.
Ruangan itu ternyata ruang kantor Bernard, dia membaringkan Viona disofa.
"Istriku, maaf membuat mu terkejut!" kata Bernard mengusap kepala Viona.
Viona memandang wajah suaminya, melihat ada darah disudut bibir nya.
"Apakah sakit?" tanya Viona menyentuh luka disudut bibir Bernard.
"Iya, sedikit, ini tidak apa-apa aku sudah terbiasa, aku tidak merasakannya!" kata Bernard tersenyum.
Digenggamannya jemari Viona yang menyentuh lukanya tersebut.
"Itu sangat mengerikan suamiku!" kata Viona tercekat, mungkin karena dia baru pertama kali melihat adegan kekerasan yang dilakukan suaminya.
Apalagi sampai terluka dan berdarah, sungguh ngeri melihatnya.
"Ini adalah pekerjaanku, Kakek mewariskannya padaku!" kata Bernard.
Diwariskan? Viona bingung.
"Kakek Peter, dulu sewaktu dia masih hidup selalu diam-diam membawaku kesini untuk melihat pekerjaan rahasianya, ini dijalankannya sejak dari muda, Papa tidak tahu!" kata Bernard mulai menjelaskan pada Viona.
__ADS_1
"Kakek melihat kalau Papa tidak cocok dengan pekerjaan ini, jadi dia tidak memberitahukan pada Papa tentang jaringan bawah yang telah dijalankannya semenjak dari muda!"
"Kakek melihat sifat Papa tidak sama dengannya, begitu juga dengan kakak tiri lainnya!"
"Saat aku dibawa Mama masuk ke keluarga Papa, Kakek langsung menyukaiku, Kakek yang menerima aku masuk ke keluarga Antonius!"
"Mama sangat dibenci Papa, jadi Mama tidak di ijinkan masuk kekeluarga Antonius, tapi Kakek merawat aku, menyekolahkan aku, Kakek seperti terobsesi padaku, dia selalu ingin dekat dengan ku!"
"Dia punya maksud tujuan padaku, saat aku berumur limabelas tahun, Kakek sering membawaku kepulau ini, awalnya aku sangat takut, melihat orang-orang yang berkelahi sampai berdarah, sangat mengerikan!"
"Walaupun mengerikan, tapi pekerjaan ini menghasilkan uang yang cukup besar, perekrutan Bodyguard untuk jadi Pengawal biayanya sangat mahal!"
Viona mendengarkan penjelasan suaminya dengan seksama, ternyata seperti ini perjalanan hidup suaminya.
"Sebelum Kakek meninggal, dia memberikan semua asetnya padaku, Papa hanya mendapat warisan Perusahaan Antonius Group saja, karena Papa hanya cocok dibidang Pengembangan Perhotelan!"
"Dari hasil pekerjaan yang diwariskan Kakek, aku berhasil membangun beberapa gedung, dan mengembangkan nya dengan menyewakan pada para Pembisnis"
"Dan aku juga berhasil merenovasi pulau ini, agar semakin berkembang"
Viona menatap suaminya, menyimak setiap penjelasannya. Ternyata kehidupan suaminya sangat keras, sedari kecil tidak pernah dicintai Ayah kandungnya.
Untung dia punya Kakek Peter Antonius, jadi dia tidak merasa seperti anak terbuang.
__ADS_1
"Kakek berpesan padaku harus tetap merahasiakan pekerjaan ini pada Papa, sebagaimana Kakek juga merahasiakannya pada keluarganya"
Viona mengelus dada suaminya, memperhatikan tato yang tergambar disana.
"Karena itulah suamiku memiliki tato ini?" tanya Viona sambil jemarinya menelusuri kulit tubuh Bernard yang bertato.
"Iya!" angguk Bernard tersenyum.
"Apakah tidak sakit?" tanya Viona iba, dia membayangkan Bernard meringis merasakan jarum tato mengenai kulitnya.
"Awalnya iya, lama kelamaan tidak lagi!" kata Bernard mengelus pipi istrinya.
Dia senang istrinya mengkhawatirkan dia, selama ini tidak pernah ada orang yang khwatir pada dirinya.
Dia sangat bersyukur menemukan jodoh yang sayang padanya, Bernard menunduk mencium istrinya.
"Terimakasih sudah khawatir padaku istriku!" gumamnya dekat diwajah Viona.
Viona mengangguk menjawab perkataan suaminya, dia tersenyum mengelus pipi suaminya itu.
Perasaan Viona sudah tenang, sekarang dia sudah tahu siapa suaminya sebenarnya.
Sekarang dia harus beradaptasi dengan pekerjaan suaminya.
__ADS_1
Bersambung.....