Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
107. Tentang balas budi.


__ADS_3

Bernard membiarkan saja Morgan berbicara mengenai balas budi, dia memandang Morgan dengan pandangan tajam.


Morgan masih belum menyadari situasi, masih saja membicarakan tentang balas budi Ibunya yang merawat Bernard sedari kecil, membicarakan bagaimana mereka menerima Bernard di keluarga mereka.


Sementara itu Ramses dan Paul sudah semakin merasakan aura membunuh yang terlihat jelas pada Bernard.


Mereka mengutuk Morgan didalam hati dengan sumpah serapah yang tidak layak didengar orang banyak.


"Setidaknya kamu memberikan gedung Mall ini untuk kami kelola, kalau dipikir-pikir ini masih terlalu sedikit mengingat kamu tinggal di keluarga Antonius sudah cukup lama!" kata Morgan.


Sementara itu William wajahnya sudah semakin hijau menahan malu.


Inilah anak yang diperjuangkannya dan terlalu di manjanya, sehingga tidak punya pemikiran yang dewasa.


Dia ingat bagaimana dengan penuh percaya diri dia mengusir Bernard dari rumahnya.


William sungguh sangat malu.


Sementara itu Bernard semakin puas melihat begitu arogannya Morgan berbicara didepan Ayahnya, mengingatkan dia akan balas budi.


Wajah dingin Bernard terus memandang Morgan, mendengarkan ocehannya yang tidak masuk akal.

__ADS_1


"Aku merasa tidak punya hutang budi kepada kalian!" kata Bernard dengan datar.


"Apa katamu?! tidak ada?!" Morgan tidak senang mendengar perkataan Bernard.


"Sedari kecil seingat ku hanya Kakek lah yang merawat ku, bukan Mamamu!" kata Bernard masih dengan nada yang datar.


"Apa katamu?! wah, kamu memang pantas tidak perlu dikasihani, apakah kamu tidak sadar kalau Kakek Peter adalah Kakek kami juga!!" kata Morgan mulai emosi.


"Iya memang benar, tetapi kalian tidak pernah memperdulikannya, bukankah Mamamu tidak menyukai Kakek Peter?" tanya Bernard dengan santai masih dengan nadanya yang datar.


"A..apa maksudmu?!" sahut William pada Bernard, dia terkejut mendengar kalau istrinya tidak menyukai Ayahnya, seingat dia istrinya sangat baik pada Ayahnya.


"Kamu jangan memfitnah Mamaku ya! Mamaku sangat memperhatikan Kakek, Mamaku adalah menantu yang berbakti!" sahut Andreas marah.


"Itu kalau ada didepan kalian dan Tuan William, dia terlihat menantu yang berbakti!" kata Bernard masih dengan tenangnya.


"Kamu..jangan menghina Mamaku!" teriak Morgan marah.


William masih tidak percaya apa yang dikatakan oleh Bernard mengenai istrinya yang tidak menyukai Ayahnya


"Sedari kecil aku tinggal bersama Mamaku di rumah Kakek, tentu aku tahu seperti apa Mama kalian itu!" kata Bernard dengan tenangnya.

__ADS_1


"Dia selalu datang ke rumah Kakek untuk membahas masalah harta warisan, dan selalu mengatakan Kakek sudah cukup tua, tidak perlu lagi untuk mengelola perusahaan!" kata Bernard lagi.


"Bohong! tidak mungkin! Mamaku Sangat baik pada Kakek!" sahut Morgan dengan kencang.


"Bukankah kamu ada waktu itu disaat Mamamu membentak Kakek?" tanya Bernard.


"Tidak! tidak pernah!" Morgan terkejut mendengar penjelasan Bernard.


Dia masih ingat? padahal waktu itu dia masih kecil sekali! pikir Morgan, wajahnya sudah mulai berubah.


"Yang ada dalam ingatanku saat itu, Tante Lisa mengatakan kalau Kakek jangan mengatur dirinya, dan juga mengatakan jangan ikut campur masalah perusahaan lagi!" kata Bernard.


"Tidak! Mama tidak pernah mengatakan itu, kamu memfitnah Mamaku!" teriak Andreas.


"Kalau kalian tidak mengakuinya terserah, yang jelas aku tidak punya hutang budi pada keluarga Antonius, jadi aku sarankan padamu! jangan coba-coba bicara yang tidak masuk di akal!" kata Bernard menunjuk Morgan dengan telunjuknya.


"Oh benarkah? jangan salahkan kalau aku bersikap kasar padamu!" kata Morgan tersenyum sinis.


Bernard juga tersenyum sinis, terlihat sangat dingin sampai membuat Ramses dan Paul gugup ditempat mereka berdiri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2