Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
66. Teman masa kecil yang sebenarnya.


__ADS_3

"Dimana sekarang gadis kecil itu?" tanya Viona.


"Tidak tahu, Mama selalu bertemu dengannya dipersimpangan jalan sekolahnya, karena Mama selalu pergi kerja melewati sekolah gadis kecil itu!" kata Bernard.


"Pasti dia sekarang sudah menjadi seorang gadis besar!" kata Viona memandang gadis kecil dalam lukisan tersebut.


"Iya!" angguk Bernard, "Mama sangat menyukai lukisan ini, dia menyimpan nya dengan baik, ini gambar Mama terakhir kali sebelum meninggal , jadi aku menjaganya sebaik mungkin, ini foto kenangan terakhir Mama..sebelum dia sakit!"


"Apakah gadis kecil tersebut mengetahui Mama suamiku telah meninggal?"


"Ya, dia diantar oleh Mamanya datang untuk terakhir kali saat Mamaku meninggal, dan setelah itu dia tidak pernah terlihat lagi!" kata Bernard, ada nada sedih dalam suaranya.


"Sepertinya kamu merasa sedih karena tidak pernah melihat dia lagi suamiku" kata Viona merasakan kalau suaminya tersebut merasa kehilangan.


"Dia gadis kecil yang lucu, sangat ramah, suka tersenyum, dia adalah teman pertamaku yang selalu membawakan makanan padaku saat Mama bertemu dengannya...dulu aku suka berlama-lama melihat lukisan ini untuk melepas rindu, rindu kenangan bersama Mama dan rindu pada gadis kecil lucu yang selalu berteriak memanggilku 'kakak' sambil menenteng makanan yang sengaja disisakan nya untukku!" kata Bernard sembari menatap lukisan itu, menatap gadis kecil yang tersenyum manis.


"Gadis kecil yang beruntung, dia pasti senang kalau mengetahui bahwa kamu selalu teringat padanya suamiku" kata Viona ikut merasakan kesedihan suaminya tersebut.


"Iya semoga saja, dimanapun dia sekarang aku harap dia sehat-sehat saja" kata Bernard.


"Dan Irina, bukankah dia teman masa kecil suamiku juga?" tanya Viona.

__ADS_1


"Ya, tapi saat aku sudah duduk bangku menengah atas, dia adik kelasku!"


" Oh.."


"Dia selalu mendekatiku, aku berusaha untuk menjaga jarak dengannya, tetapi dia selalu berupaya untuk mendekatiku!" kata Bernard.


Tangan Bernard meraih tangan Viona, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Mari kita berenang, jangan lagi membahas tentang Irina, aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya!" kata Bernard.


Ditariknya tangan Viona keluar dari ruang galeri, membawanya kembali ke halaman belakang Mansion.


"Aku belum pakai baju renang" kata Viona menahan tangannya yang ditarik oleh Bernard.


Viona mengganti pakaiannya dengan baju renang.


Bernard mengambil bathrobe untuk dipakai Viona menutupi tubuhnya yang telah memakai baju renang.


Mereka pun kembali kekolam renang, hari masih jam sepuluh lewat.


Waktunya belum jam makan siang, jadi mereka akan berenang dulu untuk meregangkan otot-otot tubuh.

__ADS_1


Bernard sangat menyukai bentuk tubuh istrinya yang ramping, selama mereka berenang dia tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari istrinya yang cantik.


Dan sesekali dengan jahil menepuk bokong istrinya, membuat Viona spontan terlonjak kaget.


Dan Bernard tertawa senang melihat wajah istrinya yang bersemu merah karena kejahilannya.


Bernard menarik Viona kedalam pelukannya, mengecup leher istrinya tersebut dengan gemas.


Viona berontak dan mencoba melarikan diri dari dekapan Bernard.


Mereka saling mengejar, dan pemenangnya tentu saja Bernard, menangkap tubuh istrinya, dan lalu memeluk Viona sembari tertawa senang.


Mengecup pipi istrinya dengan gemas, lalu mengangkatnya dalam gendongannya.


Viona tertawa dengan kejahilan suaminya itu, dia merasa sangat geli Bernard menggigit telinganya dengan gemas.


Viona jadi lelah karena tertawa terus.


"Suamiku..sudah, capek!" kata Viona berusaha melepaskan diri.


"Baiklah, ayo kita naik!" Bernard membawa Viona keatas, membaringkan tubuh istrinya tersebut keatas kursi santai di tepi kolam renang.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2