
Viona yang melihat kakaknya tidak senang di permalukan oleh Anna, hanya bisa menghela nafas sambil geleng kepala.
Naira sedari kecil memang selalu sangat manja, apapun keinginannya harus diturutin.
Kalau Ayah atau Ibunya tidak turuti apa yang diinginkannya, dia akan berteriak dan menangis tiada henti.
Dan Naira cenderung menginginkan apa yang dimiliki oleh Viona, bahkan panda pink pemberian Almarhum Ibu Bernard juga dia mau.
Sampai Viona bertengkar dengan Naira merebut kembali panda pink tersebut, dan sejak saat itu dia mengunci kamarnya agar Naira tidak sesuka hati masuk ke kamarnya.
Dan bahkan kalau masakan Bibi tidak sesuai seleranya, dia akan membuang makanan tersebut di hadapan Bibi.
Terkadang Viona heran dengan sifat kakaknya tersebut, tidak tahu dari siapa dia bisa memiliki sifat keras kepala seperti itu.
Viona tetap berdiri di tempatnya tidak ingin ikut meladeni kakaknya yang keras kepala tersebut.
Dia membiarkan Leo yang mengurus kakaknya, sebab kalau dia ikut campur membantah perkataan Naira, bisa-bisa nanti Naira malah semakin emosi dan akan menyerangnya.
Viona sedang hamil muda, dia tidak ingin dirinya cedera dan berakibat fatal pada kehamilannya.
Leo memandang Naira lekat-lekat dengan tatapan tajam, seakan ingin melemparkannya keluar salon.
__ADS_1
Naira semakin gemetar dengan tatapan mata Leo yang membuat kakinya lemas.
"Siapa yang memulai keributan, anda atau kami?" tanya Leo dengan tekanan nada yang mengancam.
"Aku..aku yang mulai, tolong jangan pukul aku!" sahut Naira ketakutan.
Saat matanya melihat ke arah Anna, mata Naira terlihat kembali tersulut emosi.
Anna di balik punggung Leo tampak menjulurkan lidahnya mengejek Naira.
Naira mengepalkan tangannya dengan erat, dia terlihat sangat geram, dan ingin sekali menampar Anna.
"Annaa...!" teriak Naira tidak tahan lagi, dia sangat kesal diejek oleh Anna.
Anna yang melihat Naira tersulut emosi karena mengejeknya, tersenyum jahil.
Tiba-tiba di kepalanya terlintas satu ide, dia ingin membuat Naira semakin emosi.
Dan akan membuat Naira pergi secepatnya dari salon tersebut.
"Kamu kenapa? kak Leo...kelihatannya dia semakin aneh, bisa-bisa nanti sepatunya dia lemparkan padaku, lihat! dia sudah mengepalkan tangannya menahan geram!" kata Anna dengan suara yang begitu lembut sembari memegang tangan Leo.
__ADS_1
Leo melihat ke arah tangan Naira, memang benar tangannya terkepal dengan erat.
Naira dengan cepat melepaskan kepalan tangannya karena mata Leo memandang ke arah tangannya yang terkepal.
Anna hampir saja tertawa melihat Naira melepaskan kepalan tangannya, Naira ketakutan dengan aura Leo yang menakutkan.
"Kak Leo, usir dia, kalau dia disini terus, bisa-bisa kami tidak jadi memanjakan diri untuk Manicure dan Pedicure, kasihan Viona kelamaan berdiri, kakinya perlu di massage agar peredaran darahnya lancar" kata Anna dengan suara yang lemah lembut.
Tapi mata dan bibirnya tersenyum mengejek Naira, dan sengaja agak menempel pada Leo agar Naira tahu kalau dia dan Viona memiliki seorang lelaki yang lebih mendengarkan perkataan mereka.
Anna ingin membuat Naira semakin emosi dan membuat Leo secepatnya menarik Naira pergi dari salon tersebut.
Benar saja, Naira semakin emosi, dan Anna semakin bersemangat untuk mengusir Naira dari sana.
Naira menahan geramnya ingin menghajar Anna, dia tidak ingin pergi dari salon tersebut.
Dia sudah pelanggan lama salon itu, jadi dia tidak ingin pergi, salon ini pelayanannya sangat memuaskan.
Tapi Anna ingin memberi pelajaran pada Naira, supaya dia merasakan akibat sikap arogannya yang selalu menindas Viona.
Bersambung....
__ADS_1