
Viona semakin bingung saja melihat suaminya, yang memeluknya dengan begitu erat dan bahkan sampai menangis.
Dan yang Viona herankan, Bernard menanyakan masa kecilnya.
"Istriku, aku mengenali wajah Mama mertua saat melihat fotonya tadi!" kata Bernard sembari melepaskan pelukannya.
"Kenal?"
"Iya!" angguk Bernard, "Dulu saat di rumah duka, saat Mamaku meninggal?"
Kening Viona berkerut semakin tidak mengerti.
"Aku ingat betul wajah Mama mertua, dia datang melayat Mamaku bersama anak gadisnya yang masih kecil!" kata Bernard mulai bercerita, membuka memori Viona akan masa kecilnya.
"Kenapa Mama bisa kenal dengan Mamanya suamiku?" tanya Viona bingung.
"Bukan Mama mertua, tapi gadis kecil yang dibawanya, dia adalah teman Mamaku!" kata Bernard.
Kening Viona berkerut, dia mencoba mencerna apa yang dimaksud suaminya tersebut.
"Gadis kecil yang di foto itu kan aku!" kata Viona.
Bernard mengangguk.
Sepertinya istrinya tersebut sudah tidak ingat lagi tentang masa kecilnya.
"Istriku, apakah kamu masih ingat tidak tentang ceritaku mengenai gadis kecil yang ada dalam lukisan di ruang galeri di Mansion kita?" tanya Bernard hati-hati.
"Iya!" angguk Viona.
"Aku masih ingat sampai sekarang wajah Mama gadis kecil tersebut!"
__ADS_1
Viona masih belum mengerti.
Bernard membuka kembali foto album Viona, menunjukkan foto Ibu Viona dan dirinya.
"Wanita ini adalah Mama gadis kecil dalam lukisan di ruang galeri di Mansion kita!" kata Bernard, pelan-pelan menjelaskan lagi pada Viona.
Viona mematung mendengar penjelasan suaminya tersebut, raut mukanya mulai berubah.
Gadis kecil dalam lukisan, dan foto yang berdiri disamping Mamanya adalah dirinya.
Jangan katakan, kalau gadis kecil dalam lukisan di ruang galeri suaminya adalah dirinya, pikir Viona.
Tiba-tiba tubuh Viona membeku, ditatapnya suaminya tidak percaya.
Bernard mengangguk, mengiyakan, seperti tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya tersebut.
"Aku ingat wajah Mama mertua, dia datang membawa putrinya untuk melayat Mamaku, saat dia akan pulang, aku memberikan boneka panda kecil berwarna pink padanya!" kata Bernard, "Boneka panda itu Mamaku yang membuatnya khusus untuk sahabat kecilnya"
Potongan-potongan memori mulai di ingat Viona, dia mulai mengingat masa kecilnya yang tidak diingatnya lagi.
Dia ingat! boneka panda kecil berwarna pink itu ada seseorang memberikan nya.
Sebuah tangan terulur memberikan boneka tersebut padanya, matanya begitu sangat senang menerima boneka tersebut.
Dia ingat boneka tersebut di jaganya begitu hati-hati.
Pernah kakaknya Naira mengambil boneka tersebut diam-diam, dan Viona langsung mengamuk, lalu marah-marah pada Naira.
Semenjak itu, Viona tidak memperbolehkan Naira masuk ke dalam kamarnya.
Viona mulai ingat, dulu dia pernah pergi tanpa orang tuanya jalan-jalan dengan orang lain.
__ADS_1
Papanya sangat khawatir waktu itu, karena dia pulang kesorean sampai di rumah.
Dan, Viona ingat, sewaktu kecil pernah pergi ke taman hiburan.
Dia lupa dengan siapa pergi waktu itu.
Tapi dia ingat, dia tertawa senang bersama seseorang.
Orang itu duduk dibelakangnya saat naik kuda-kudaan, menjaganya agar jangan jatuh.
Membantunya turun dari kuda-kudaan, dan dia ingat mereka membeli kembang gula.
Karena ceroboh dia menjatuhkan kembang gulanya, dan seseorang yang bersamanya itu memberikan kembang gulanya pada Viona.
"Terimakasih kak!" dia ingat kata-kata itu dia ucapkan pada orang tersebut.
Tubuh Viona tiba-tiba membeku, memori itu datang dengan jelas ke otaknya.
Viona menatap suaminya tidak percaya, dan gantian sekarang matanya mulai berkabut.
"Kakak..." ucapnya tanpa sadar, matanya tanpa disadarinya mulai berkabut.
Bernard tersenyum melihat Viona sudah mulai mengingat masa kecilnya.
"Kakakk...!" Viona tiba-tiba berteriak, dan menghamburkan dirinya kedalam pelukan suaminya.
Dia pun menangis sama seperti suaminya tadi.
"Kakak...aku rindu!" ucap Viona diantara tangisannya.
Mereka pun saling berpelukan begitu eratnya.
__ADS_1
Bersambung....