Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
163. Akhirnya berciuman.


__ADS_3

Lidia cepat-cepat mengalihkan pandangannya, kembali fokus pada makanannya.


Dia jadi malu merasakan kalau wajahnya jadi semakin memerah.


Jos yang melihat wajah Lidia merona, kembali sudut bibirnya bergerak sedikit menyunggingkan senyuman.


Lidia terlihat jadi imut dengan wajah yang merona.


Tidak terasa waktu makan malam mereka pun telah selesai.


"Jos, antarlah terlebih dahulu Nona Lidia ke kamar mereka, setelah itu temui aku diruang kantorku!" sahut Bernard.


"Baik Tuan!" angguk Jos.


"Pergilah kekamar lebih dulu, biar kami yang membereskan semuanya!" ujar Anna pada Lidia kepada Lidia.


"Oke!" jawab Lidia.


Jos perlahan memutar kursi Lidia menghadap ke arahnya.


"Nona...mari kubawa kembali kekamar!" kata Jos pelan.


"Baik!" jawab Lidia.


Lidia mengulurkan tangannya untuk memeluk leher Jos.


Jos dengan hati-hati mengangkat tubuh Lidia, menggendong tubuh wanita yang telah membuat hatinya berdebar-debar, dan yang telah mengubah dirinya jadi pria melankolis.


Lidia membenamkan wajahnya ke ceruk leher Jos, dan dengan erat memeluk leher Jos agar tidak jatuh.


Perlahan Jos melangkah membawa Lidia dengan hati-hati menuju kamar Lidia dan Anna.


Sepanjang jalan menuju kamar, mereka berdua diam satu sama lain.


Jos merasakan nafas Lidia berhembus di lehernya, dan aroma tubuh Lidia terhirup hidungnya.


Sesampainya di depan pintu kamar Lidia, mereka harus membuka pintu dengan kartu akses.


Lidia merogoh saku rok nya untuk mengambil kunci kamar.


Jos perlahan mendekatkan Lidia kedepan pintu kamar.


Lidia menempelkan kartu akses ke kunci sensor.


Klik!


Pintu pun terbuka.

__ADS_1


Jos mendorong pintu dengan tubuhnya, lalu membawa Lidia masuk ke dalam kamar.


Kamar terlihat temaram karena cahaya lampu Resort dari luar tembok kaca yang masuk kedalam kamar.


Jos melangkah menuju tempat tidur Lidia.


Dan perlahan meletakkan tubuh Lidia ke atas tempat tidur.


Tangan Lidia yang memeluk leher Jos seakan menempel di leher pria itu.


Lidia begitu enggan untuk melepaskannya.


Jos yang telah melepaskan tubuh Lidia keatas tempat tidur, masih menunduk karena tangan Lidia belum lepas dari merangkul lehernya.


"Nona!" sahut Jos.


Lidia sama seperti tadi sore, tidak ingin melepaskannya, Jos jadi serba salah.


Mereka saling memandang satu sama lain, mata mereka begitu lekat terpaku saling menatap.


"Nona" gumam Jos.


Dan tanpa sadar menelan air ludahnya, Jos merasakan ada reaksi dari tubuhnya karena aroma tubuh Lidia terhirup oleh hidungnya.


"Hmmm" jawab Lidia masih tidak mau melepaskan Jos.


"Nona, anda mau apa?" tanya Jos pelan, jantungnya sudah mulai berdegup kencang lagi.


Lidia pun bingung, dia mau apa sebenarnya.


Hanya saja instingnya menginginkan Jos dekat dengan dirinya.


Perlahan Lidia menegakkan badannya untuk duduk, tanpa melepaskan tangannya memeluk leher Jos.


Dan otomatis tanpa sengaja wajah mereka jadi bersentuhan.


Hidung Lidia menyentuh hidung Jos, dan kening mereka menempel.


"Nona" gumam Jos, suaranya terdengar serak.


Jos begitu gugup dan semakin berdebar.


Lidia juga semakin tidak tahu diri, semakin erat merangkul leher Jos.


Perasaan nyamannya sangat kuat, tanpa sadar Lidia semakin ingin memeluk Jos.


"Nona" gumam Jos lagi.

__ADS_1


"Hmmm" jawab Lidia dengan nada yang begitu lembut.


Nafas mereka saling menerpa wajah mereka, dan terasa hangat dikulit wajah mereka masing-masing.


Bibir Lidia terbuka sedikit, dan itu terlihat begitu menggoda.


Membuat Jos ingin menempelkan bibirnya pada bibir Lidia.


Rasa itu sangat kuat, Jos tidak bisa mengontrol dirinya.


Perlahan Jos tanpa sadar, mendekatkan bibirnya untuk merasakan bibir Lidia yang terlihat begitu menggoda.


Keinginan yang kuat itupun terjadi, dan bibir Jos menyentuh bibir Lidia.


Sekujur tubuhnya terasa bergetar, dia belum pernah mencium seorang wanita sebelumnya.


Ini luar biasa, ternyata terasa begitu lembut disentuh oleh bibirnya.


Lidia begitu senang merasakan bibir Jos menempel dibibirnya, perlahan gadis itu pun memejamkan matanya.


Lidia dengan perasaan bahagia menerima ciuman Jos, dan menginginkan Jos menciumnya lebih dalam lagi.


Ini ciuman pertamanya, Lidia membiarkan saja Jos menekan bibirnya dengan lembut.


Dan, Lidia diam saja tidak tahu mau berbuat apa, karena ini yang pertama dan belum berpengalaman untuk melakukan apa selanjutnya.


Tapi, perlahan dengan insting mereka, tanpa sadar mereka bergerak sendiri untuk merasakan lebih lagi ciuman yang semakin dalam.


Jos perlahan mengulum bibir Lidia, merasakan betapa lembutnya bibir Lidia dalam ciumannya.


Sampai mereka kehabisan nafas, barulah Jos melepaskan ciumannya.


Nafas mereka memburu, Jos menempelkan keningnya ke kening Lidia.


"Nona..maaf" gumam Jos serak.


"Jangan minta maaf Jos, ini keinginan kita berdua, aku menyukai ciumanmu, dan aku juga menyukaimu" gumam Lidia dengan suara serak juga, dan tanpa ada rasa sungkan atau malu untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Nona!" Jos merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lidia.


"Jangan panggil aku Nona, kamu lebih tua usianya dari aku, panggil namaku saja!" kata Lidia sembari mengelus kepala Jos dengan tangannya yang masih melingkar di leher pria bertubuh kekar itu.


Jos menjauhkan keningnya dari kening Lidia, menatap wajah Lidia lekat-lekat.


Nafas mereka mulai berangsur-angsur normal kembali.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2