Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
158. Jos marah lagi.


__ADS_3

Viona dan Anna saling pandang mendengar apa yang dikatakan oleh Darius.


Viona heran kenapa Darius langsung datang ke pantai setelah Anna memposting liburan mereka.


Biasanya juga mereka suka memposting sesuatu, atau tempat yang mereka sukai, tapi Darius tidak pernah menanggapi apa yang mereka posting dimedia sosial.


"Lidia dimana?" tanya Darius.


"Di dalam kamar, kakinya sakit jadi dia tidak bisa keluar kamar, perlu dibantu!" kata Anna.


"Aku menginap dikamar sebelah sana!" kata Darius seraya menunjuk lokasi kamarnya.


"Oh!" jawab Viona dan Anna.


"Jadi kamu mau apa didepan pintu kamar kami?" tanya Anna.


"Ingin mengajak kalian gabung bersamaku, kita reunian lagi, mumpung ngumpul sama disini!" kata Darius.


"Kayaknya aku tidak bisa, kalian saja kalau mau reunian!" kata Viona menolak, lalu dia melangkah pergi.


"Sama, aku juga tidak bisa kumpul dengan kamu, aku ikut gabung dengan Viona bersama suaminya!" kata Anna, lalu mengikuti Viona pergi dari sana.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Lidia, apakah dia ikut gabung dengan kalian?" sahut Darius pada Viona dan Anna yang sudah melangkah pergi.


"Tanya dia saja, kamu telepon saja dia untuk menanyakan!" sahut Anna.


Darius merogoh ponselnya dari saku celananya, lalu menekan nomor Lidia.


Ponselnya terhubung, beberapa detik kemudian tersambung.


"Halo Lidia, kata Viona dan Anna kaki kamu sakit ya, apakah perlu aku bantu?" tanya Darius, "Aku sekarang lagi di Resort tempat kalian liburan, apakah kamu mau gabung dengan ku, kebetulan aku datang sendirian, ingin mengajak kamu reunian!"


Darius terdiam beberapa detik mendengarkan Lidia bicara.


"Bagaimana kalau aku bantu kamu untuk jalan keluar kamar, sekarang aku sudah ada didepan pintu kamar kamu!" kata Darius menatap pintu kamar yang tertutup.


Darius berjalan kedepan pintu, menunggu Lidia membuka pintu kamarnya.


"Siapa kamu?!" terdengar suara seorang pria dibelakang Darius bertanya dengan nada yang tajam.


Darius spontan menoleh kebelakang, dia melihat seorang pria berpakaian formal dengan tubuh besar memandangnya dengan tajam.


Darius berpikir pria itu pasti pengawas Resort tersebut, jadi curiga padanya karena berdiri didepan pintu kamar pengunjung wanita.

__ADS_1


"Halo, saya pengunjung Resort juga, ini kamar teman saya, dia terluka, kakinya tidak bisa untuk berjalan, jadi saya datang untuk membantunya keluar kamar, saya mau mengajaknya makan malam!" kata Darius ramah pada pria yang diperkirakannya seorang pengawas Resort, yang auranya terasa sangat dingin sekali.


Membuat Darius sedikit merinding juga.


"Menyingkir dari sana!" kata pria tersebut dengan nada yang terasa mendominasi.


"Maaf, ini kamar teman saya, saya tidak bisa menyingkir, saya mau membantunya untuk keluar kamar!" kata Darius tidak ingin pergi dari depan pintu.


Dia merasa heran dengan pengawas Resort tersebut, apakah tidak boleh berdiri didepan pintu kamar seorang wanita di Resort ini? pikir Darius bingung.


Pintu kamar Resort terbuka, lalu wajah Lidia muncul dari dalam kamar.


Darius dan pria tersebut menoleh kearah pintu yang terbuka.


Lidia semakin lebar membuka daun pintu kamar, terlihat kakinya terangkat satu memakai gips.


"Jos!" sahut Lidia memandang pria yang dikira Darius seorang pengawas Resort.


"Hai Lidia, ternyata kakimu parah juga ya, oh iya...coba kamu jelaskan pada Tuan ini, dia salah paham padaku!" kata Darius mendekati Lidia yang berdiri diambang pintu kamar.


"Berhenti!" bentak Jos dengan nada tajam.

__ADS_1


Wajahnya terlihat menggelap, tangannya terkepal dengan eratnya.


Bersambung.....


__ADS_2