Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
169. Keluarga baru.


__ADS_3

Lidia memandang kedua orang tuanya silih berganti.


"Papa sama Mama kasar sekali sama pacarku, tangannya sakit ditarik seperti itu!" sahut Lidia tidak senang.


Kedua orang tua Lidia melepaskan tangan mereka dari memegang tangan Jos, begitu Lidia protes pada mereka.


"Sini Josku!" kata Lidia mengulurkan tangannya pada Jos.


Jos meraih tangan Lidia yang terulur, dan merasakan tangan kecil Lidia menggenggam tangannya.


Kedua orang tua Lidia duduk didepan Lidia dan Jos.


Mereka memandang putrinya yang terlihat mesra duduk bersisian dengan Jos.


Sementara Jos semakin gugup saja di perhatikan oleh orang tua Lidia, keringat dingin mengucur di punggungnya.


Kedua orang tua Lidia melihat tangan Lidia, yang tanpa rasa sungkan pada mereka menggenggam tangan Jos dengan erat.


Mereka berdua diam-diam merasa sangat senang melihat putri mereka akhirnya mempunyai pacar, dan pacarnya sangat tampan dengan tubuh yang kekar dan tinggi.


"Papa sama Mama kenapa melihat terus kearah Josku?" tanya Lidia tidak senang.


Jos semakin kikuk dengan keadaan ini, seperti kata Tuannya, kalau tidak bisa bicara, diam saja.


Ya, diam saja! pikir Jos.


Ibu Lidia tidak tahan lagi, dia berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Perlahan dia berjalan kearah Lidia dan Jos, lalu duduk disamping Jos.


"Mama!" sahut Lidia semakin cemberut melihat Ibunya ingin membuat Jos semakin gugup.


Ibu Lidia tidak memperdulikan protes putrinya tersebut.


"Menantuku...kapan kamu akan menikahi putri kami?" tanya Ibu Lidia tanpa rasa sungkan lagi.


"Iya, lebih cepat lebih baik!" Ayah Lidia tidak mau kalah, dia menyambung perkataan istrinya tersebut.


"Uhuk..uhukk!" Jos sangat terkejut mendengar perkataan kedua orang tua Lidia, sampai tanpa sadar dia terbatuk-batuk.


"Bibii....mana tehnya kenapa lama sekali, menantuku mau minum!" teriak Ibu Lidia tidak sabaran.


"Iya Nya...ini teh nya, sudah datang!" sahut Bibi koki keluarga Lidia, seorang wanita paruh baya yang diperkirakan seumuran dengan Ibu Lidia datang membawa nampan berisi teko kecil dan cangkir kecil.


Lalu menuangkan teh andalan keluarga Lidia kedalam cangkir.


"Silahkan diminum tehnya Tuan!" sahut Bibi koki mempersilahkan Jos untuk minum.


"Terimakasih" ucap Jos.


Jos perlahan meraih cangkir teh yang telah diisi oleh Bibi koki, lalu meminumnya dengan pelan.


Teh tersebut wangi dan terasa nyaman masuk ke tenggorokannya.


Jos tidak mengerti soal teh, tapi dia merasa teh yang disajikan keluarga Lidia sangat enak.

__ADS_1


Setelah Jos meletakkan cangkir kembali ke atas meja, Lidia pun berkata pada orang tuanya.


"Josku, harus kembali lagi, dia hanya mengantarkan aku sebentar saja, Tuan Bernard sedang menunggu di mobil bersama Viona!"


"Oh, cepat sekali...apa tidak perlu makan dulu baru pulang?" tanya Ibu Lidia merasa belum puas mengobrol dengan Jos.


"Lain kali dia akan mampir lagi, Tuan Bernard mau ada urusan lagi, Josku sangat sibuk, banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan, dia harus pergi!" kata Lidia.


"Baiklah...lain kali menginap lah disini Jos!" kata Ibu Lidia penuh harap.


"Baik Nyonya!" angguk Jos, dia masih gugup.


"Panggil saja Mama mertua!" kata Ibu Lidia tersenyum memandang Jos.


"Eh..!" Jos semakin gugup mendengar perkataan Ibu Lidia tersebut.


"Ayo...katakan, kamu harus belajar mulai dari sekarang!" kata Ibu Lidia.


"I..iya, Ma..mama Mertua!" Jos merasa sudah hampir kehabisan nafas untuk mengucapkan kata 'Mama Mertua'.


Keringat dingin terasa terus mengucur di punggungnya.


Jos akhirnya mendapat keluarga lagi selain Bernard, kini dia mendapatkan perhatian dari keluarga Lidia.


Jos tidak menyangka dia akan merasakan bahwa dirinya sangat disukai oleh kedua orang tua Lidia.


Setelah mereka berbasa-basi sebentar, Jos pun pamitan undur diri dari rumah Lidia.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2