Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
153. Lidia merasa iba.


__ADS_3

Viona merasakan kalau ciuman Bernard semakin bersemangat, tapi diapun entah kenapa tidak bisa berhenti juga.


Jemarinya yang mengelus perut Bernard yang berotot rasanya sangat menyenangkan, rasanya begitu nyaman sekali.


Kakinya yang berada diantara kaki Bernard, juga ikut bergerak mengelus kaki suaminya itu.


Sampai lututnya tanpa sadar bergesekan dengan daerah sensitif Bernard.


Sementara itu Lidia dan Anna heran melihat beberapa wanita menyingkir dari lokasi mereka bersantai.


Mereka jadi merasa penasaran ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya, Lidia menegakkan tubuhnya untuk duduk tegak.


Begitu juga dengan Anna, mereka menoleh ke arah tempat Viona dan Bernard bersantai.


Tapi mendadak Lidia tidak bisa melihat ke arah yang ingin dilihatnya, ada seseorang menghalangi pandangannya.


Lidia memandang siapa kiranya yang menghalanginya untuk melihat apa yang terjadi.


Jos! ternyata Jos yang menghalangi pandangan matanya.


Jos berdiri tidak jauh darinya, mendekati Lidia dan membawa sesuatu dalam tangannya.


Jos menarik satu kursi dan duduk dekat kursi malas Lidia.


"Apakah anda mau makan buah Nona?" tanyanya menawarkan buah semangka yang telah dipotong didalam wadah.


"Oh iya, mau!" jawab Lidia menerima buah yang diberikan Jos, dan dia pun jadi tidak berniat lagi untuk melihat apa yang terjadi.


Sementara Anna juga sama seperti Lidia, tidak bisa melihat apa yang terjadi, pandangan matanya dihalangi oleh Leo.

__ADS_1


Leo datang dan duduk disampingnya membawa buah semangka.


Akhirnya mereka berempat makan buah semangka bersama.


Viona dan Bernard akhirnya menghentikan adegan romantis mereka.


Bernard tersenyum senang melihat wajah istrinya yang merona, dia mengelap bibir Viona yang basah dengan jempolnya.


"Semuanya sudah menyingkir, mereka melarikan diri!" kata Bernard senang.


Dipeluknya tubuh mungil istrinya dengan perasaan sayang, cara Viona tadi mengelus tubuhnya sangat disukainya.


Bernard mengelus perut Viona dengan lembut, dia harus menahan diri mulai sekarang mengingat diperut istrinya telah tumbuh hasil buah cinta mereka.


Kalau tidak dia sudah membawa istrinya sekarang kekamar untuk menuntaskan keinginannya.


Bernard mengecup puncak kepala Viona, dia harus mengutamakan kesehatan istrinya agar bayi mereka sehat.


Itu hari yang paling membahagiakan, Bernard melamun memikirkannya.


Tiga jam mereka dipantai, bersantai menikmati indahnya pantai dan angin pantai.


Sudah saatnya untuk kembali kekamar Resort untuk membersihkan diri dan sebentar lagi akan makan malam.


Bernard merangkul bahu istrinya dan menyampirkan jaket ke bahunya.


Mereka pelan-pelan menyusuri pantai yang berpasir menuju kamar mereka.


Anna dibantu Leo membawakan barang-barangnya.

__ADS_1


Sementara Lidia harus dibantu sama Jos lagi.


Jos berjongkok untuk memberikan punggungnya dinaiki Lidia.


Perlahan Lidia naik keatas punggung Jos, dan memegang bahu Jos dari belakang.


Jos memegang siku lutut Lidia, dan perlahan diapun tegak berdiri.


Dengan langkah pelan kaki panjang Jos hati-hati membawa Lidia kembali kekamar Lidia.


Lidia merasa kalau diantara mereka sudah kenal dan akrab beberapa hari ini, jadi dia ingin mengobrol untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.


"Jos, apakah kamu masih tinggal dengan orang tua?" tanya Lidia basa-basi.


"Saya sudah tidak mempunyai orang tua lagi Nona!" jawab Jos, entah kenapa pria kekar itu sudah merasa enakan mengobrol dengan Lidia.


"Oh, maaf Jos...aku turut sedih mendengarnya, apakah mereka sudah lama meninggal?" tanya Lidia lagi.


"Tidak tahu Nona, aku dibesarkan dipanti asuhan!" jawab Jos lagi.


"Oh!" Lidia terkejut mendengar perkataan Jos tersebut.


Lidia merasa iba pada Jos, ternyata Jos sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang.


Tanpa sadar tangan Lidia yang memegang bahu Jos, meremas bahu pria itu.


Lidia memandang Jos, karena dia berada di punggung Jos, alhasil yang dia lihat hanya rambut bagian belakang Jos.


Dia merasa bersimpati pada Jos, karena memiliki kehidupan yang sulit sedari kecil.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2