
Viona mengalungkan tangannya ke leher Bernard, karena badannya yang pendek 156cm, kaki Viona terpaksa jinjit untuk memperdalam ciumannya.
Bernard merapatkan pelukannya, menikmati bibir istrinya yang terasa sangat lembut di bibirnya.
Mencari lidah istrinya, mengulumnya dengan lembut.
Bernard memejamkan matanya merasakan betapa sangat enaknya merasakan bibir istrinya itu.
Tangannya satu menahan tengkuk Viona, tangan satu lagi memeluk pinggul istrinya.
Viona sampai mendesah merasakan ciuman suaminya yang lembut.
Bernard selalu tidak tahan bila memulai menyentuh istrinya, dia tidak bisa berhenti karena begitu menyenangkan.
Ereksinya mulai bereaksi.
Tangan Bernard berlahan meremas bokong istrinya, menekannya semakin merapat ke tubuhnya.
Viona merasakan nafas suaminya sudah mulai memburu, dan dia merasakan ereksi suaminya menekan perutnya.
Bernard melepaskan ciuman mereka, nafas mereka sama-sama memburu.
Bibir Viona membengkak, dan basah oleh air liur Bernard.
Dan bibir Bernard juga basah oleh air liur Viona.
Wajah mereka memerah karena rangsangan yang mereka buat.
"Istriku" gumam Bernard parau.
Dia kembali menundukkan wajahnya, menggesekkan lidahnya dibibir istrinya untuk mengelap air liurnya yang menempel di sana.
Viona memejamkan matanya menikmati tindakan Bernard itu, merasakan lidah suaminya di bibirnya.
Setelah tidak merasakan lagi gesekan lidah Bernard, Viona berlahan membuka matanya.
Mereka kemudian kembali saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Istriku, kamu selalu menggairahkan, aku tidak pernah merasa bosan untuk terus ingin merasakan mu" gumam Bernard membelai pipi Viona dengan jempolnya.
Viona merona mendengar perkataan suaminya tersebut, bibirnya tersenyum malu.
"Coba kamu rasakan" Bernard membawa tangan Viona ke dadanya.
Viona menempelkan tangannya di dada Bernard.
Dia merasakan degup jantung suaminya begitu kencang.
"Aku selalu berdebar-debar bila sudah menyentuhmu istriku, aku sangat mencintaimu istriku" gumam Bernard, satu tangannya kembali meraih tengkuk Viona.
Bernard kembali mengulum bibir istrinya, menciumnya dalam-dalam.
Viona membuka mulutnya, membalas ciuman Bernard.
Kali ini tangan Bernard mulai masuk kebalik baju Viona, membelai kulit punggung istrinya.
Lalu menjalar membelai tulang rusuk Viona, dan naik keatas menyentuh dada Viona.
Melepaskannya, dan kemudian membuangnya sembarangan ke lantai.
Bibir Bernard perlahan turun menelusuri leher Viona, mengecup di setiap tempat.
Viona mendongakkan kepalanya keatas akibat ulah suaminya tersebut.
Suara desahannya pun terdengar menikmati sensasi yang dilakukan suaminya.
Kenapa istriku begitu mempesona, aku seperti terobsesi ingin terus menciumnya, ini benar-benar sangat menggairahkan, pikir Bernard merasa senang.
Bibirnya berlahan semakin turun, lalu mengecup dada istrinya dengan lembut.
Tubuh Viona lemas merasakan ciuman yang diberikan suaminya pada dadanya.
Kakinya jadi ikut lemas juga, dia tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya.
Bernard merasakan tubuh istrinya melemas akibat perbuatannya.
__ADS_1
Dengan sigap dia membopong istrinya menuju meja kerjanya.
Meletakkan tubuh Viona duduk diatas meja, lalu perlahan membaringkan tubuh istrinya itu diatas meja.
Viona diam saja apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
Bernard menyesap ujung dada Viona, kemudian memainkannya dengan lidahnya.
Sontak membuat tubuh Viona seperti terkena setrum, dan melengkungkan tubuhnya keatas seperti busur yang siap di panahkan.
Tangan Bernard menjalar turun kebawah, membelai perut ramping istrinya dengan lembut.
Dan tindakan Bernard tersebut semakin membuat Viona semakin melayang.
Ini memang diluar rencana mereka, tidak ada terpikir akan memadu kasih didalam kantor Bernard.
Di karenakan suasana yang begitu mesra diantara mereka tadi, jadilah mereka melampiaskan rasa cinta mereka diatas meja kantor Bernard.
Bernard menyatukan dirinya kedalam istrinya, mereka saling berciuman sambil merasakan gerakan Bernard dibawah sana.
Suara manja Viona sangat terdengar merdu ditelinga Bernard.
Dia ingin melakukannya dengan puas, karena istrinya yang selalu menggairahkan.
Tapi Bernard tidak bisa berlama-lama melakukannya, mereka tidak berada diatas tempat tidur.
Dia takut gesekan kulit istrinya diatas meja akan menimbulkan lecet.
Dengan cepat dia menuntaskan kesenangan mereka, suara mendesah mereka terdengar memenuhi ruang kantor Bernard.
Kemudian mereka saling berpelukan.
Beberapa saat mereka seperti itu untuk menetralkan nafas mereka yang memburu.
Bernard mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.
Bersambung....
__ADS_1