
Bernard ingat saat pertama bertemu dengan Viona dia sangat terpesona dengan wajah cantik Viona.
Tapi dia tetap datar saja untuk menyimpan rasa terpesona nya kala itu, karena dia merasa tidak percaya gadis muda dan secantik Viona mau dinikahkan padanya seorang yang di anggap sampah.
Dan, kenyataannya Viona mau bersedia untuk menikah dengannya.
Bernard memegang tangan gadis muda yang sekarang menjadi istrinya, tangan kecil yang menempel di ke dua pipinya.
Bibirnya semakin lebar tersenyum, matanya terlihat berbinar-binar karena bahagia.
"Istriku..terimakasih sudah mencintai ku, berkatmu sekarang aku memiliki tempat untuk pulang..memiliki keluarga untuk ku jaga dan ku lindungi!" ucapnya dengan lembut.
Viona pun tersenyum menjawab perkataan Bernard.
"Iya suamiku" Viona mengelus tangan Bernard, "Ayo kita tidur..sudah larut malam, aku sudah mulai mengantuk!"
Viona merebahkan badannya ke tempat tidur.
" Iya..ayo!"
Bernard memandang Viona menarik bantal untuk tempat berbaring kepalanya.
Bernard pun ikut membaringkan tubuhnya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Sesaat Bernard merasa ada yang kurang, dia sudah mengetahui isi hati istrinya yang sebenarnya.
Tapi, istrinya tidak ada pertanyaan yang di ajukan untuk dirinya.
Bernard merasa seakan di abaikan, walau dia bahagia telah mengetahui ternyata Viona mencintainya.
__ADS_1
Bernard menoleh ke arah Viona, tampak Viona sudah memejamkan matanya.
Malah Bernard yang sekarang tidak bisa tidur.
Kenapa istriku tidak bertanya tentang perasaanku? pikir Bernard merasa tidak tenang.
Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus Viona, tampaknya dia sudah tidur nyenyak.
Bernard menarik Viona kedalam pelukannya, dan dia pun mencoba untuk tidur.
Bernard pun akhirnya tidur dengan memeluk istrinya dalam pelukannya.
Viona terbangun esoknya merasakan sinar matahari masuk ke celah-celah jendela kaca balkon.
Dia menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal, dia masih dalam dekapan suaminya.
Dia melihat wajah Bernard yang sangat tenang, Viona mengangkat tangannya.
Berlahan Viona mengecup ujung bibir Bernard, lalu mengelus bibir suaminya tersebut.
Lalu Viona kemudian mencoba untuk keluar dari kungkungan tangan suaminya.
Sangat sulit, Bernard malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Mau kemana" gumam suara serak Bernard, menarik Viona lebih rapat lagi.
"Sudah siang suamiku..aku mau masak sarapan kita!" kata Viona tercekat, tubuhnya ditekan Bernard semakin menempel ke dalam dekapannya.
"Sebentar lagi..aku masih ngantuk, aku masih ingin memeluk istriku" kata Bernard membenamkan wajahnya ke lekukan leher Viona.
__ADS_1
"Tapi matahari sudah mulai tinggi suamiku!" kata Viona.
"Sebentar saja"
Viona terpaksa mengalah, dia menempelkan wajahnya ke dada Bernard. Melingkar kan tangannya ke pinggang suaminya, lalu memeluknya dengan erat juga.
Bernard tersenyum senang dengan tindakan istrinya.
Setengah jam mereka tertidur dengan posisi seperti itu.
Dan kemudian mereka pun akhirnya bangun, Bernard melepaskan pelukannya.
Viona menggeliat untuk bangkit dari tidur nya, turun dari tempat tidur, lalu pergi masuk kamar mandi.
Setelah menyikat gigi, Viona mulai membersihkan badan.
Saat dia mandi di bawah shower, pintu kamar mandi terbuka.
Bernard masuk ke dalam kamar mandi, dia menyikat gigi.
Lalu bergabung bersama Viona mandi dibawah shower.
Viona tersentak saat suaminya memeluk tubuhnya yang polos dari belakang.
"Suamiku!" sahutnya kaget.
"Iya istriku!" jawabnya tersenyum nakal.
Viona sudah mulai curiga melihat senyuman Bernard tersebut.
__ADS_1
Bersambung....