
Viona heran kenapa suaminya memeluk dia, dan bahkan menangis.
Bernard memeluk Viona semakin erat, air matanya terus mengalir.
"Suamiku, kamu kenapa?" tanya Viona ikut juga memeluk Bernard semakin erat.
Bernard tidak menjawab pertanyaan Viona, dia hanyut dengan perasaannya sendiri.
Bernard tidak menyangka ternyata istrinya lah teman masa kecilnya yang menghilang setelah kematian Ibunya.
Semenjak Ibunya meninggal gadis kecil itu tidak pernah lagi dilihatnya.
Bernard ingat terakhir kali mereka berpisah, Bernard memberikan boneka panda buatan tangan Ibunya.
Ibunya sebelum meninggal membuatkan boneka panda kecil untuk diberikan kepada Viona, boneka panda berwarna pink.
Bernard kala itu mengatakan pada Ibunya, bahwa warna panda tidak ada yang berwarna pink.
Tapi Ibunya mengatakan, bahwa panda yang dia buat adalah panda lain dari pada yang lain, yaitu panda spesial hanya khusus buat gadis kecil sahabatnya.
Perlahan Bernard melepaskan pelukannya, dengan wajah yang basah oleh air mata, pria itu menatap istrinya dengan lekat.
Dia melihat setiap sudut wajah istrinya tersebut, mengelus wajah Viona dengan jemarinya.
Bernard seakan baru memperhatikan wajah dan bentuk tubuh istrinya, dia seolah merasa belum begitu memperhatikan istrinya semenjak mereka pertama kali bertemu.
Kenapa dia tidak bisa mengenali teman masa kecilnya tersebut, gadis kecil yang selalu berteriak memanggilnya 'Kakak' sembari berlari kepadanya dengan kaki kecilnya tersebut.
Bernard merasa memiliki adik yang sesungguhnya kala itu, saat teman kecilnya selalu memanggilnya 'kakak'.
__ADS_1
Dan gadis kecil itu selalu membagikan makanannya padanya.
"Panda, istriku..apakah kamu memiliki panda berwarna pink?" tanya Bernard untuk lebih memastikan, tubuhnya masih gemetar karena merasa tidak percaya dengan apa yang telah ditemukannya.
"Panda?" Viona merenung sebentar mencerna apa yang ditanyakan oleh suaminya tersebut.
"Iya!" angguk Bernard dengan cepat, dadanya mulai berdebar.
"Apakah panda yang seperti itu?" Viona mengangkat tangannya menunjuk kearah lemari pakaiannya.
Bernard menoleh kearah telunjuk Viona yang menunjuk ke suatu tempat.
Bernard melihat gantungan kunci lemari.
Mata Bernard tidak percaya melihat gantungan kunci tersebut.
Berwarna pink.
Tubuh Bernard tidak bergerak menatap panda kecil berwarna pink tersebut, Viona membuat panda kecil itu menjadi gantungan kunci lemari pakaiannya.
Bernard kembali memeluk Viona erat, dadanya meluap dengan perasaan bahagia.
Tidak salah lagi, istrinya lah gadis kecil itu.
"Istriku!" gumam Bernard begitu bahagia sekali, tangannya mengelus kepala Viona sembari masih memeluk istrinya.
"Iya suamiku" jawab Viona membalas pelukan Bernard.
"Apakah kamu tidak mengenaliku?" tanya Bernard begitu bahagianya, dia seakan kembali ke masa lalu bersama Ibunya.
__ADS_1
"Tentu aku kenal suamiku, pria yang aku sukai dari tujuh tahun yang lalu" jawab Viona.
Bernard melepaskan pelukannya, kemudian memandang wajah Viona dengan intens.
"Sewaktu kamu melihat aku di saat tujuh tahun yang lalu, apakah istriku tidak melihat wajahku sangat familiar?"
Viona bingung dengan pertanyaan suaminya tersebut, diamatinya wajah Bernard dan meneliti nya dengan seksama.
Viona kemudian menggeleng, merasa tidak yakin, dan memang dia tidak tahu.
"Apakah kamu tidak ingat masa kecilmu istriku?" tanya Bernard.
Bernard meraih foto album Viona dari atas tempat tidur.
Bernard membuka di bagian akhir album foto.
"Apakah ini Mama mertua?" tanyanya.
"Iya, ini mendiang almarhum Mama!" kata Viona mengangguk.
"Dan gadis kecil ini adalah istriku bukan?" Bernard menunjuk gadis kecil yang berdiri disamping Ibunya.
"Iya benar!" angguk Viona bingung.
Dada Bernard kembali berdebar, dan kembali memeluk Viona, setelah mendengar pengakuan istrinya tersebut.
Dikecup nya berulang kali puncak kepala Viona, dia sangat bahagia seolah menemukan harta karunnya yang telah lama hilang.
Bersambung....
__ADS_1