Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
56.Perkumpulan bawah.


__ADS_3

Mobil hitam tersebut meninggalkan Resort pantai, diikuti oleh mobil-mobil yang lain.


Sepanjang jalan Bernard terlihat diam, gerahamnya mengetat seakan menahan geram.


Tatapan matanya tajam memandang kedepan, tapi tangannya tidak pernah lepas menggenggam tangan Viona.


Viona melihat kalau mobil mereka tidak menuju kota, tapi lebih jauh keluar kota.


Tidak berapa lama mobil tersebut memasuki area tempat landasan pesawat pribadi.


Sebuah lapangan beraspal yang sangat luas, ditengah lapangan terlihat tiga helikopter dan satu pesawat pribadi terparkir disana.


Mobil yang ditumpangi Viona dan Bernard mendekati satu helikopter, tiga orang pria berpakaian formal sepertinya telah menunggu Bernard sedari tadi.


Setelah Bernard turun, mereka secara serentak memberi hormat pada Bernard dengan menundukkan kepala.


"Selamat datang Tuan Bernard!" sapa mereka serentak.


Bernard tidak menjawab, dia membantu Viona turun dari mobil. Memegang tangan Viona menuju helikopter yang menunggu mereka.


Bernard membantu Viona menaiki helikopter tersebut, lalu membantunya untuk memakai sabuk pengaman.


"Mau kemana kita suamiku?" tanya Viona, dia tidak menyangka suaminya benar-benar tidak terduga.


Suaminya memiliki pesawat pribadi juga, seberapa kaya sebenarnya suaminya, ini membuat lutut Viona gemetar.

__ADS_1


Melihat begitu banyaknya para lelaki kekar tinggi besar menaruh hormat pada suaminya.


Viona merasa dia perlu lebih mengenal lagi suaminya itu, dia harus lebih banyak bertanya lagi mengenai pribadi suaminya.


Bernard menghela nafas mendengar pertanyaan istrinya, dia sebenarnya dari tadi sangat gugup.


Gugup karena akan menyingkapkan siapa dia sebenarnya pada istri tersayangnya.


Sepanjang jalan dia berpikir bagaimana caranya untuk memberitahukan pada istrinya mengenai indentitasnya sebagai Pemimpin jaringan bawah yang diwariskan Kakeknya.


Dia gugup dan juga takut kalau Viona akan menjauhinya setelah tahu siapa dia sebenarnya.


Tapi dia pikir bagaimanapun cepat atau lambat, Viona harus tahu juga siapa dia sebenarnya.


"Istriku..kamu akan mengetahuinya nanti, aku harap jangan terkejut, tetaplah dekat denganku dan selalu mencintaiku, aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku!" kata Bernard menatap mata Viona.


Viona tersenyum mendengar perkataan suaminya, tentu saja dia akan selalu mencintai suaminya.


"Tentu saja suamiku, aku akan selalu mencintaimu, selamanya akan selalu mendampingimu, aku ingin melahirkan anakmu, mana mungkin aku meninggalkanmu suamiku!" kata Viona membalas tatapan mata suaminya.


Bernard memeluk Viona erat setelah mendengar perkataan Viona, dia sangat senang, istrinya ingin melahirkan anaknya.


Bernard sangat bahagia.


"Aku juga mencintaimu istriku!" gumam Bernard ditelinga Viona.

__ADS_1


Viona membalas pelukan Bernard, sesaat mereka saling berpelukan.


Kemudian Bernard pun menyuruh anak buahnya untuk segera berangkat.


Setelah aman memakai alat pengaman, helikopter pun perlahan mulai lepas landas.


Dan beberapa saat kemudian naik ke udara.


Dua helikopter yang tadi dilihat Viona pun ikut terbang juga mengikuti helikopter yang ditumpangi Viona dan Bernard.


Viona melihat keluar jendela helikopter, tampak pemandangan di bawah sana hutan dan gunung.


Mereka sepertinya keluar dari area ibu kota mereka, dan melintasi beberapa kota.


Viona tidak tahu mereka pergi entah kemana, tapi dia tidak takut karena bersama suaminya.


Dia merasa aman Bernard ada disampingnya.


Sementara Bernard selalu menggenggam tangan istrinya, sedikitpun tidak dilepaskannya.


Dia merasa semakin bahagia setelah mendengar perkataan istrinya tadi, ingin melahirkan anaknya.


Bernard merasa hidupnya semakin lengkap, dia akan memiliki anak.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2