
Bernard membawa Viona berkeliling Mall, dia ingin membuat istrinya untuk cuci mata melihat-lihat barang branded.
Kalau ada yang disukai Viona, dia akan langsung beli tanpa melihat harganya.
Viona selalu protes melihat suaminya itu tanpa bertanya dulu, langsung membeli barang yang menurutnya bagus atau cantik, padahal dia hanya melihat tidak ingin membeli.
Tapi bagi Bernard berarti harus di beli.
Viona pun jadi tidak berani untuk melihat-lihat, belanjaan mereka sudah sangat banyak.
Viona bukan istri yang suka boros, dia tahu cari uang itu sangat sulit, dia tidak mau menghambur-hamburkan uang begitu saja.
Kalau dihitung-hitung uang gajinya tidak setimpal dengan belanjaannya tersebut.
Dari tadi belanja baju, sepatu, perhiasan, make-up, tas dan juga keperluan Bernard juga, kalau ditotal pasti sudah mencapai miliaran.
Bodyguard yang membantu membawakan belanjaan mereka bukan dua orang lagi, sudah bertambah dua orang lagi menjadi empat orang sekarang.
Mereka dengan setia mengekor dibelakang Bernard dan Viona membawa paper bag di kedua tangan kiri dan kanan.
Bisa dibayangkan Bodyguard yang memiliki tubuh kekar memakai pakaian formal tanpa segan membawa belanjaan mereka dengan patuh dan dalam diam.
Yang Viona heran dari mana datangnya para Bodyguard tersebut, yang dia tahu Bernard tidak ada kelihatan memanggil para Bodyguard nya tersebut.
"Kenapa?" tanya Bernard melihat istrinya yang seperti kebingungan.
"Dari mana datang nya mereka?" tanya Viona penasaran menunjuk para bodyguard suaminya itu.
__ADS_1
"Mereka menguntit kita..mereka takut kehilangan kita!" kata Bernard dengan nada sedikit bercanda.
"Tidak mungkin!" kata Viona tidak percaya.
"Lihat di sana, dan di sana..!" Bernard menunjuk setiap sudut tidak begitu jauh dari mereka.
Viona memperhatikan daerah yang ditunjuk suaminya itu.
Benar! dia baru memperhatikan kalau Bodyguard Bernard berpencar di setiap Mall untuk melindungi Tuannya.
Astaga! haruskah sampai segitunya menjadi seorang pengawal? pikir Viona, harus selalu berada tidak jauh dari Tuannya.
Para Bodyguard tersebut memakai pakaian formal, berarti mereka sedang bekerja.
"Sudah lihat?" tanya Bernard berbisik ditelinga istrinya.
"Jadi jangan takut mau belanja banyak, ada yang membantu membawakan belanjaan istriku!" kata Bernard tersenyum.
"Tapi belanjaan kita sudah banyak..ayo pulang, aku sudah capek, kaki ku pegal!" kata Viona pura-pura mengeluh.
Dia tidak mau belanja terlalu banyak, bisa-bisa nanti suaminya bangkrut, barang yang dibeli semuanya sangat mahal-mahal.
"Apa cukup segitu?" tanya Bernard memandang belanjaan mereka.
Astaga suamiku! pikir Viona tidak habis pikir, belanja begitu banyak dia bilang 'segitu' berarti itu sedikit menurut dia.
"Sudah cukup, lain kali belanja lagi!" akhirnya Viona menjanjikan akan belanja lain kali saja.
__ADS_1
"Oke!" kata Bernard senang.
Bernard menggenggam tangan Viona untuk meninggalkan Mall.
Mereka menuju lift khusus.
"Wah, lihat siapa ini..adikku yang malang!" seru seseorang pada mereka.
"Kakak..!" panggil Viona.
"Kenapa kalian bisa di Mall khusus orang kaya ini?" tanya Kakak Viona dengan nada mengejek yang ternyata adalah Naira Natasya.
"Kakak sendiri bagaimana? kenapa bisa belanja disini?" tanya Viona balik bertanya.
"Tentu saja bisa..pacarku kan orang kaya!" kata Naira dengan bangga, "Tidak seperti kamu punya suami orang kere!"
"Dia kakakku Naira!" kata Viona pada Bernard.
Bernard memandang Naira, dia membandingkannya dengan istrinya, sungguh jauh berbeda.
Viona sangat cantik dan baik, jauh beda dengan kakaknya yang terlihat lebih sombong dan angkuh.
Sifat Naira kelihatannya anak yang terlalu manja dan ingin menang sendiri.
Untung dia dulu terlihat seperti sampah, kalau tidak bisa jadi wanita yang didepan mereka ini menjadi pengantinnya.
Bersambung.....
__ADS_1