
Akhirnya sidang pun selesai, Hakim ketua dan dua Hakim pembantu dan beberapa juri sidang memasuki kamar musyawarah untuk memutuskan hukuman yang akan diterima Lisa.
Lisa terus saja menangis, dia tidak menyangka bisa terjebak dengan pertanyaan pengacara Penggugat sehingga mengakui perbuatannya.
Dia tidak berani memandang kearah suami dan anak-anak nya, dia sangat malu.
Lisa menunduk merenungi kehidupannya yang akan dilalui dipenjara atau mendapat hukuman mati.
Tidak berapa lama pintu kamar ruang musyawarah terbuka, Hakim ketua dan yang lain kembali duduk ketempat mereka.
Ruang sidang kemudian hening.
Hakim membuka berkas hasil musyawarah.
Lalu mulai membaca hasil putusan sidang untuk hukuman yang akan diterima Lisa.
"Terdakwa telah terbukti melakukan tindak kejahatan pembunuhan berencana dengan bukti-bukti yang kuat dan akurat, dan telah menghilangkan tiga nyawa, oleh karena itu hasil putusan sidang memutuskan terdakwa akan dijatuhi hukuman SEUMUR HIDUP dan ditempatkan dipenjara Tengah Laut!!"
Tok! tok! tok!
"Sidang ditutup!"
"Tidakkk!!" Lisa berteriak histeris mendengar putusan sidang.
Penjara Tengah Laut, semua orang tahu tempat itu.
Penjara khusus bagi pembunuh kelas kakap, sistem barbar dan siapa yang paling kuat dialah yang memimpin.
Itulah gambaran tentang penjara ditengah lautan yang menyeramkan, siapapun tidak bisa melarikan diri dari sana.
__ADS_1
Dan akan mendapatkan hukuman sengatan listrik kalau melakukan kesalahan.
Siapapun yang masuk kesana akan mendapatkan hidup yang suram.
Senior-senior tawanan akan menindas dan menyiksa tawanan junior.
Dan siapa yang tidak tahan, besoknya pasti akan ditemukan telah meninggal didalam selnya.
Dan mayatnya akan dibuang kelautan.
Lisa menjerit tidak terima atas putusan Hakim ketua atas hukuman yang diterimanya.
Petugas Polisi membawa Lisa yang berontak dan menjerit kembali ke selnya.
"Suamiku tolong aku!!" teriak Lisa meminta pertolongan William.
Dia benar-benar sakit hati pada Lisa, dia telah menghancurkan segalanya.
Ayahnya, Bella dan juga putranya Bernard yang sekarang telah membencinya.
Dia mengabaikan teriakan Lisa tersebut.
Sementara itu Bernard puas atas hukuman yang diterima Lisa, dia lega ternyata Hakim sangat jeli dalam mengambil keputusan.
Bernard akan membawa Viona berlibur untuk menghilangkan pikiran dan tubuh yang penat, mereka perlu bersantai.
Bernard menggenggam tangan istrinya keluar dari ruang sidang, dan diikuti oleh empat Pengacaranya.
"Nak!" suara seseorang memanggil Bernard.
__ADS_1
Bernard menghentikan langkahnya, dan menoleh pada orang tersebut.
Tampak William berdiri tidak jauh dari mereka, memandang Bernard dengan tatapan sendu.
Bernard memandang Ayahnya tersebut dengan tatapan heran, dia tidak menunjukkan rasa terkejut karena William memanggilnya dengan lirih.
"Apakah anda memerlukan sesuatu?" tanya Bernard datar.
"Maafkan aku, selama ini tidak memperhatikan mu, nak!"
"Tidak masalah!" kata Bernard masih dengan nada datar, "Apakah ada yang lain? aku ingin membawa istriku ke suatu tempat!"
"Tidak ada lagi!"
"Kalau begitu...permisi, kami pergi dulu!" kata Bernard dengan datar.
Bernard menarik tangan Viona pergi dari hadapan William.
"Terimakasih telah menyayangi Bernard!" sahut William pada Viona.
Viona kaget mendengar perkataan Ayah mertuanya tersebut, apakah dia sudah menyesali semuanya? pikir Viona.
Baguslah kalau dia sudah berubah, bisik hati Viona mencuri pandang melihat Ayah mertuanya tersebut sembari ditarik Bernard pergi dari sana.
"Abaikan saja dia!" kata Bernard pada Viona.
Bernard menarik Viona mendekat padanya, kemudian setelah itu merangkul pinggang Viona agar jangan mencuri-curi pandang lagi melihat Ayahnya.
Bersambung......
__ADS_1