
Bernard terlihat puas setelah menghabiskan makan malam pedasnya.
"Apakah perutmu tidak apa-apa kak?" tanya Viona khawatir, dia hanya makan sedikit saja lauk pedas tersebut.
"Sangat enak, tidak begitu pedas" kata Bernard puas.
Viona tersenyum melihat wajah suaminya yang memerah karena kepedasan, dia merasa heran, ada apa dengan suaminya!
Viona memberikan minuman jus pada Bernard, dan langsung diminum Bernard sekali teguk.
"Aku sangat kenyang, terimakasih sayang" sahut Bernard.
"Iya kak" jawab Viona.
"Aku akan bantu untuk membersihkan piring kotor" kata Bernard seraya bangkit dan kemudian membantu Viona bersih-bersih.
Setelah Bernard selesai membantu Viona membersihkan dapur, dia pergi ke ruang Gym.
Dia akan berolahraga sebentar untuk menurunkan kalori ditubuhnya, tubuhnya harus dia jaga agar perutnya tidak membuncit.
Kalau berat tubuhnya membengkak, dia akan sulit untuk bergerak dan akan sulit untuk melatih anggota baru di perkumpulan bawah.
Viona baru tahu bagaimana tubuh suaminya tersebut bisa terjaga tetap kekar dan berotot.
Suaminya selalu melakukan olahraga rutin untuk menjaga bentuk tubuhnya.
Ada kira-kira dua jam suaminya tersebut berolahraga diruang Gym, tubuhnya yang bertato banjir keringat.
Terlihat sangat mengkilap membuat dia semakin tampan saja, dengan tubuh liatnya.
__ADS_1
Viona membawakan handuk kering dan air minum pada Bernard.
Dia merasa suaminya sudah terlalu lama diruang Gym.
"Terimakasih sayang" ucap Bernard menerima air minum yang dibawa istrinya tersebut.
Viona membantu Bernard mengelap tubuhnya yang berkeringat, mengelap punggungnya yang basah.
"Satu hari lagi kita akan berlibur ke pantai sesuai keinginan istriku" kata Bernard.
Viona tersenyum mendengar berlibur ke pantai, dia sangat senang menantikan hari itu segera tiba.
"Tidak usah membawa apapun, di sana sudah tersedia semuanya" kata Bernard.
"Baiklah" jawab Viona.
"Ayo, sudah malam, kita harus beristirahat, besok ada pekerjaan yang harus ku selesaikan" kata Bernard, merangkul istrinya keluar dari ruang Gym.
Sementara Bernard membersihkan diri, Viona mengambil baju tidur suaminya dari dalam walk in closet.
Besoknya, di kota di Mansion keluarga Antonius.
Semua anggota keluarga, sengaja dikumpulkan William diruang keluarganya.
Hasil tes DNA sudah ada ditangannya.
Morgan terlihat gelisah tidak tenang, istrinya menenangkannya dengan menggenggam tangan Morgan.
Sementara Lisa sudah pucat, lututnya gemetar. Kali ini habislah dia! semua usahanya sia-sia.
__ADS_1
William menghela nafas terlebih dulu untuk menenangkan perasaannya yang sudah menduga kalau Morgan bukan anak kandungnya.
Dia mengeluarkan berkas hasil tes DNA tersebut, lalu melihat hasilnya.
Tangan William gemetar membaca hasil tes DNA tersebut, hasil mengatakan bahwa dirinya dan Morgan tidak memiliki keterikatan sama sekali.
Hasilnya Nol, tidak ada ikatan darah.
William menghampiri Lisa. Dan...
Plakk!!
Satu tamparan mendarat di pipi Lisa.
"Bertahun-tahun aku telah dibohongi oleh perempuan murahan sepertimu! bodohnya aku percaya oleh kehamilanmu!!" teriak William emosi.
"Suamiku...tidak, aku dijebak, maafkan aku!"
"Apa kamu bilang dijebak? aku yang kamu jebak, sialan! mau apa lagi alasanmu, hah?!" teriak William dengan kencangnya.
"Tidak, suamiku...maafkan aku!" sahut Lisa dengan memelas, dia menangis dengan air mata membanjiri pipinya.
Sementara itu Morgan duduk diam dengan kepala menunduk, dia juga tidak percaya dengan hasil tes tersebut, bahwa William bukan Ayah kandungnya.
Andreas dan Lidia shock dengan hasil tes DNA tersebut, Morgan bukan kakak kandung mereka.
Ternyata Ibu mereka bukan Ibu yang seperti diperlihatkan Lisa selama ini, seperti Ibu yang setia dan terhormat.
Ternyata Ibu mereka memiliki masa lalu yang memalukan.
__ADS_1
Bersambung.....