
Malam semakin larut, acara resepsi pun selesai.
Jos langsung memboyong Lidia ke Panthouse nya, mengemudikan sendiri mobil pengantin menuju gedung apartemen nya.
Saat akan pergi tadi, Ibu Lidia masih tetap terharu sambil menangis melepaskan putrinya saat Jos membopongnya menuju mobilnya.
"Putriku baik-baik dengan menantu Jos ya, cepat berikan Mamamu ini cucu ya...Mama sudah tua, ingin cepat-cepat menggendong cucu!" kata Ibu Lidia sambil mengelap air matanya dengan sapu tangan.
"Aduh, Istriku...kamu ini ada-ada saja, langsung minta cucu, itu kan perlu proses...jangan bebani putriku untuk cepat-cepat punya bayi...biarkan saja dulu mereka menikmati kebersamaan mereka, baru setelah itu memikirkan untuk punya bayi!" kata Ayah Lidia sambil mengelus punggung Istrinya dengan lembut.
Ibu Lidia malah tambah menangis mendengar perkataan suaminya tersebut.
Membuat Ayah Lidia gelagapan menenangkan istrinya yang histeris menangis.
"Cup..cup..cup, istriku yang cantik...sudah jangan menangis lagi, nanti putri kita jadi kepikiran terus mendengarkan kamu merengek minta cucu, dia kan masih muda...biarkanlah mereka saling mengenal dulu satu sama lain...mereka kan belum cukup lama saling mengenal!" ujar Ayah Lidia sambil terus mengelus punggung istrinya tersebut untuk menghiburnya.
"Eh..,iya benar juga..mereka baru pacaran sudah kita suruh menikah, baiklah...aku tidak akan menuntut mereka memberikan kita cucu, biarlah mereka bersenang-senang dulu beberapa bulan untuk berbulan madu..biar puas untuk saling mengenal satu sama lain!" kata Ibu Lidia akhirnya mengerti juga apa yang dikatakan suaminya tersebut.
"Pintar! istriku ternyata cepat tanggap juga akhirnya!" ujar Ayah Lidia sambil masih terus mengelus punggung istrinya tersebut.
Lidia yang melihat Ibunya menangis minta cucu, hanya bisa menghela nafas sambil geleng kepala merasa heran melihat sikap Ibunya yang seperti anak kecil.
"Kami pergi dulu...mama kan sudah punya cucu dari kak Marlon, jadi jangan nangis lagi, kami pergi dulu...aku capek!" kata Lidia menutup pintu mobil.
"Baiklah, cepatlah pergi...istirahat lah, ini sudah larut malam, hati-hati mengemudi menantuku!" sahut Ibu Lidia kepada Jos.
"Baik Mama mertua, kami pergi dulu!" sahut Jos.
Kedua orang tua Lidia dan yang lainnya melambaikan tangan saat mobil pengantin perlahan meninggalkan lobby pelataran gedung hotel.
Jos perlahan memasuki basement parkiran gedung apartemennya, memarkirkan mobil ditempat biasa mobil tersebut parkir.
Setelah mesin dimatikan Jos, dia keluar untuk membantu Lidia keluar dari dalam mobil.
Jos dan Lidia masih mengenakan pakaian pengantin mereka.
Setelah Lidia keluar dari dalam mobil, dan pintu mobil tertutup Jos mengangkat Lidia.
__ADS_1
Membopong istrinya tersebut masuk kedalam lift tidak jauh dari lokasi mobil terparkir.
Jos meletakkan Lidia dengan lembut untuk berdiri setelah berada di dalam lift, lalu menekan nomor apartemen yang paling atas.
Lidia merapatkan tubuhnya pada Jos, dia merasa tumit kakinya agak perih, mungkin ada sedikit lecet karena seharian memakai sepatu heels.
Tangannya melingkar memeluk lengan Jos erat, dan Jos memegang lengannya istrinya tersebut dengan erat juga.
Dia tahu kaki Lidia sudah tidak tahan untuk berdiri lama.
"Nanti akan aku oles obat kakinya setelah membersihkan badan, sabar..kita sudah sampai sayang" ucap Jos mengelus lengan Lidia lembut.
Ting!
Lift pun terbuka, mereka sampai dilantai teratas apartemen tersebut.
Jos dengan sigap mengangkat tubuh Lidia, membopongnya masuk kedalam Panthouse nya.
Lidia melihat Panthouse Jos berbeda dengan waktu kemarin dia datang.
Suasana Panthouse terlihat penuh dengan bunga mawar putih, dan suasana terlihat bernuansa putih.
Lidia tersenyum melihat ke seluruh ruang Panthouse.
"Sangat indah" gumamnya.
"Kamu suka?" tanya Jos.
" Iya" angguk Lidia tersenyum.
Perlahan Jos membawa Lidia naik kekamar mereka, dan suasana kamar terlihat lebih indah lagi.
Kelopak bunga mawar yang berwarna-warni terlihat ditaburkan diatas tempat tidur, terlihat begitu romantis dengan lampu yang sedikit temaram.
Dan ada beberapa balon ucapan selamat pengantin baru diletakkan di sisi dekat tempat tidur berwarna pink.
"Sini, aku bantu buka gaun pengantinmu sayang...lalu pergilah mandi, biar terasa segar" kata Jos meletakkan Lidia dengan lembut ke lantai setelah membawa Lidia kedalam kamar mereka.
__ADS_1
"Aku akan buka hiasan kepala dulu Josku" kata Lidia menarik mahkota berlian yang ada dikepalanya.
"Oh iya, mari aku yang melakukannya" Jos mengangkat mahkota berlian tersebut dengan hati-hati dari kepala Lidia.
Setelah segala sesuatu yang ada dikepala Lidia lepas, barulah Lidia memberikan punggungnya menghadap Jos.
Dan jemari Jos kemudian perlahan membuka resleting gaun pengantin Lidia.
Terlihatlah kulit punggung Lidia yang putih bersih saat resleting tersebut terbuka lebar, sungguh sangat indah dipandang Jos.
"Sudah sayang, pergilah mandi" kata Jos.
Lidia memegang gaunnya yang hampir melorot tersebut, dan berjalan masuk kekamar mandi.
Setelah Lidia masuk kedalam kamar mandi, Jos membereskan pernak-pernik hiasan dikepala Lidia keatas meja rias.
Meletakkannya disana dengan rapi.
Lalu dia keluar dari kamar menuju kamar satu lagi untuk membersihkan diri.
Lidia menghabiskan waktu duapuluh menit didalam kamar mandi.
Sementara Jos sudah selesai mandi dari kamar sebelah, dan sekarang telah duduk ditempat tidur menunggu istrinya selesai membersihkan badan dari kamar mandi.
Jos bersandar dikepala tempat tidur sambil membaca chat dari beberapa teman seprofesi nya mengucapkan selamat padanya.
Dan tiga menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, Lidia muncul hanya mengenakan Bathrobe.
Dia terlihat sudah segar dengan rambut yang digulung dengan handuk.
Jos jadi tidak fokus membaca chat di layar ponselnya, dia tertegun melihat istrinya yang begitu cantik.
Tanpa sadar Jos menelan ludahnya gugup, itu istrinya, wanita yang sangat cantik.
Dia masih seperti mimpi bisa menikahi seorang wanita yang cantik, dan berkelas, tidak seperti dirinya yang tidak pernah mengenyam sekolah sampai Universitas.
Lidia berjalan ketempat tidur, lalu duduk didekat kaki Jos di tepi tempat tidur.
__ADS_1
Bersambung......