Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
166. Viona pembawa kebahagiaan.


__ADS_3

Viona jadi terbatuk-batuk karena nyaris tersedak mendengar Lidia memanggil Jos dengan sebutan 'Josku'.


Dan yang lainnya cepat-cepat mengambil air minum mereka, dan minum dengan sekali teguk.


Bernard juga sibuk mengambil air minum untuk istrinya yang terbatuk-batuk.


Viona menerima gelas air minum yang diberikan suaminya itu, dan meminumnya dengan perlahan.


Bernard mengelus punggung istrinya agar batuknya berhenti setelah selesai minum.


Lidia dan Jos berhenti menyendok sarapan mereka, kepala mereka menoleh memandang Viona dan Bernard.


Viona yang sudah selesai minum memandang kearah Lidia.


"Sejak kapan kamu memanggil Jos dengan sebutan 'Josku'?" tanya Viona penasaran pada Lidia.


"Uhuk..uhukk!"


Gantian Jos yang jadi terbatuk-batuk, mendengar pertanyaan Nyonya nya tersebut.


Dia tersadar, tadi Lidia memanggil namanya dengan kata 'Josku'.


Wajah Jos jadi memerah, dia tidak menyadari mereka berdua jelas sekali menunjukkan saling peduli satu sama lain.


Jos cepat-cepat mengambil air minumnya, dan meminum air sekali teguk.


"Pelan-pelan makannya" kata Lidia mengelus punggung Jos.


Semua mata semakin melotot tidak percaya melihat adegan kemesraan Jos dan Lidia.


Apa yang telah kami lewatkan, sejak kapan dua orang ini bisa saling jatuh cinta! mungkin itulah yang ada di kepala semua orang yang ada dimeja tersebut memandang Jos dan Lidia.

__ADS_1


Lidia tersenyum memandang Viona yang terlihat bengong melihat dia begitu perhatian pada Jos.


"Aku tidak tahu sejak kapan, yang aku tahu...aku merasa nyaman dekat dengan Jos sejak tadi malam!" kata Lidia.


Sementara Jos, wajahnya semakin merona menahan malu.


Bernard memandang kearah Asistennya tersebut, di sudut bibirnya terlihat sedikit berkedut menahan senyuman.


Dia tidak menyangka Asistennya yang kaku dan dingin yang hampir sama sifatnya dengannya, akhirnya mendapatkan seseorang yang istimewa.


Dia tahu selama dua belas tahun mengenal Jos, belum pernah dekat dengan seorang perempuan.


Hidup Jos selalu fokus bekerja padanya dan menjalankan apa yang diperintahkannya.


Mereka berdua ibarat kakak dan adik, di mana ada Bernard, di situ ada Jos.


Dia ingat saat bertemu Jos, Bernar begitu memprihatinkan dan sangat menderita.


Sekarang sudah saatnya Jos berbahagia, menikmati cinta dari seseorang yang peduli padanya.


Semua orang otomatis menoleh kearah Jos.


Yang dipandang jadi salah tingkah, Jos pria kekar berbadan besar bisa juga salah tingkah dan malu-malu.


Semua orang menunggu jawaban Jos.


Terutama Lidia, dia memandang Jos penuh harap.


"A..aku, aku juga merasa nyaman dengan Lidia, sepertinya aku mulai jatuh cinta padanya" kata Jos dengan sedikit gugup.


Tiba-tiba Lidia langsung memeluk Jos.

__ADS_1


Jos terkejut mendapat pelukan dari Lidia, memeluknya tanpa rasa sungkan di depan Tuan dan Nyonyanya.


Jos dengan perasaan gugup dan malu membalas pelukan Lidia, membenamkan wajahnya kebalik leher Lidia.


Semua orang yang memandang mereka, perlahan menyunggingkan senyuman di sudut bibir mereka masing-masing.


Diam-diam Leo melirik kearah Anna, yang tersenyum lebar melihat Jos dan Lidia yang telah mengungkapkan isi hati mereka.


Senyuman Anna terlihat sangat manis.


Tanpa sengaja Anna melirik juga ke arah Leo.


Mereka merasa heran kenapa saling memandang.


Leo cepat-cepat mengalihkan pandangannya, dia merasa dirinya seperti lelaki yang tidak punya sopan santun.


Memandang Anna seperti menyimpan suatu niat tertentu.


Dasar, sungguh memalukan! pikir Leo pada dirinya sendiri.


Dia kembali memandang Lidia dan Jos yang terlihat sangat bahagia.


Bernard merangkul bahu istrinya.


"Kamu memang membawa kebahagiaan dalam hidupku istriku, akhirnya Jos mendapatkan seseorang yang istimewa berkatmu, temanmu ternyata jodoh Jos!" kata Bernard tersenyum senang.


"Aku juga tidak menyangka, Lidia bisa jatuh cinta pada Jos, Lidia cewek pemilih dalam hal mencari jodoh, karena dari dulu dia tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun!" kata Viona.


"Dan tidak tahu nya, ternyata Jos yang bisa meluluhkan hatinya!" Bernard tersenyum lebar.


"Iya benar sekali!"

__ADS_1


Mereka sama-sama tersenyum, lalu Bernard mengecup puncak kepala Viona dengan sayang.


Bersambung....


__ADS_2