Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
87. Kejadian dimasa kecil.


__ADS_3

"Sakit? sakit apa?" tanya Bernard.


"Iya, aku jatuh dari tangga"


Bernard terkejut, seolah-olah Viona baru saja terjatuh.


Bernard melepaskan pelukannya, lalu memeriksa tubuh Viona, memutar tubuh Viona untuk melihat dimana yang luka.


"Di bagian kepala"


"Apa? dimana?" Bernard melihat kepala Viona.


Viona membuka rambutnya, di bagian kepala dekat pelipis ada bekas luka jahitan.


Luka lama yang telah memudar, hanya terlihat samar.


Bernard mengelus luka tersebut.


"Apakah sakit?"


Viona mengangguk.


"Delapan jahitan, karena itu aku tidak mengenal wajah orang disekitar ku, Dokter mengatakan aku terkena penyakit Prosopagnosia akibat cedera ini"


Bernard tidak menyangka istrinya mendapat penyakit seperti itu.


Bernard membayangkan gadis kecil yang terjatuh dari tangga dan mengalami luka di kepalanya.


Dan itu pasti sangat menyakitkan bagi anak kecil mempunyai tubuh yang mungil.

__ADS_1


Bernard kembali membawa Viona kedalam dekapannya.


"Untung aku masih mengingat wajah Mama mertua, mungkin kita selamanya tidak menyadari ternyata kita pernah menjadi teman dimasa kecil dulu"


"Iya, dan karena itulah Papa punya hutang budi pada Kakeknya kakak, Papa sangat takut kalau aku tidak bisa diselamatkan"


"Papa akan melakukan apapun agar aku bisa sembuh, dan membuat perjanjian pada Kakek Peter sambil memohon-mohon"


"Papa berjanji akan menikahkan salah satu dari kami, bila kelak telah cukup umur untuk menikah, akan di nikahkan pada salah satu cucu Kakek Peter, asalkan aku bisa sembuh dari penyakitku"


"Dan Kakek Peter pun membantu membayarkan hutang Papa yang sangat banyak, dan dapat melanjutkan pengobatanku sampai sembuh"


Bernard akhirnya mengetahui hutang budi yang dijanjikan Ayah mertuanya pada Kakeknya.


Untung hanya dia yang belum menikah.


Tapi itu tidak mungkin karena Viona kan diam-diam mencintai aku? pikir Bernard lagi.


Entah kenapa Bernard tidak rela memikirkan Viona bersama lelaki lain.


Memikirkan tangan Viona disentuh saja, Bernard sudah emosi, padahal belum pernah sekali pun Bernard melihat lelaki lain menyentuh tangan istrinya tersebut.


Viona adalah miliknya, dan akan menjadi miliknya seumur hidupnya.


"Aku banyak melakukan terapi untuk mengembalikan ingatan ku, kadang aku bisa tidur dengan sangat lama sekali"


Bernard mengelus kepala Viona mendengar cerita istrinya itu.


"Bisa tidur seharian, dan saat bangun aku seperti orang yang linglung tidak bisa mengenali Papa ataupun

__ADS_1


Mama"


"Istriku, kamu pasti sangat menderita, syukur lah Kakek mau menolong Ayah mertua, berarti sesuatu yang mungkin kamu lupakan harus diingatkan lagi supaya ingatan itu masuk kembali ke memori otakmu istriku" kata Bernard sembari mengelus pipi istrinya.


"Iya, kenangan yang sudah lama sekali terkadang aku tidak bisa mengingatnya"


Bernard menarik Viona kembali ke dalam pelukannya.


Dia begitu senang, sekarang istrinya baik-baik saja.


Bernard mengangkat dagu Viona, lalu mengecup bibir istrinya sekilas.


"Terimakasih sudah mencintaiku dan memperhatikan ku diam-diam, aku sangat beruntung akhirnya bisa mencintai gadis kecil yang imut itu sekarang, dan menjadi istriku" kata Bernard tersenyum, jemarinya mencubit lembut pipi Viona.


Viona meringis manja, lalu mengusap pipinya yang dicubit suaminya.


Bernard sangat suka mendengar suara rengekan manja istrinya tersebut, seperti anak kecil.


"Apakah Papa mertua sudah selesai makan, kira-kira apakah kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Bernard.


"Baik, ayo kak, kita tanyakan!" tanpa sadar Viona kembali lagi memanggil Bernard dengan panggilan 'kakak'


Bernard tersenyum mendengar istrinya tersebut memanggilnya Kakak, dia senang mendengar mau apapun istrinya memanggil dirinya.


Semua itu memang sebutan untuk dirinya.


Sewaktu kecil Viona memanggilnya 'kakak', setelah mereka berkeluarga Viona memanggilnya 'suamiku'.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2