
Tak jauh berbeda dengan masa kecilnya, malam di kawasan pekebunan selalu saja sepi. Para pekerja yang berada di komplek ini sepertinnya langsung masuk ke dalam mes masing-masing untuk melepas lelah ketika hari gelap.
Celin menutup jendela kamarnya karena tak tahan hawa dingin yang menusuk kulit tubuhnya. Bersyukur di mes ini ia mendapat fasilitas sinyal internet yang kuat, sehingga ia bisa bermain ponsel dan bertukar pesan dengan Angga untuk memberi kabar.
Ia akan mulai membuat rancangan penelitian untuk besok. Wanita bermata hazel itu mencari benda pipih yang ia tenteng ketika di mobil. Beberapa kali membongkar isi tas, Celin masih belum bisa menemukan laptopnya.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan pintu mengagetkan Celin, karena sejak tadi yang ia dengar hanya suara hewan-hewan malam dari arah perkebunan.
"Celin," kata wanita matang yang berdiri dari balik pintu.
"Ya," seru Celin.
"Saya pengurus Mes disini. Penghuni kamar ini akan datang malam ini, jadi Mbak Celin akan pindah kamar di Mes dekat rumah direktur IC," ujar wanita itu.
"Oh iya tidak apa-apa, saya akan ambil barang saya dulu."
Celin bergegas masuk ke dalam kamar, memungut kembali pakaian yang tadi sempat di keluarkan untuk mencari laptop.
Ia mengikuti langkah wanita itu menuju kamar barunya. Bisa di bilang bangunan kamar barunya lebih bagus dari kamar sebelumnya. Tapi sepertinya bangunan yang terdapat tiga kamar ini kosong, berbeda dengan kamar sebelumnya.
__ADS_1
"Kalau butuh sesuatu, hubungi saya." Celin mengangguk.
Wanita itu pamit dan Celin membiaskan diri dengan kamar barunya lagi yang lebih bagus dari sebelumnya.
Karena lelah, ia memilih untuk mandi terlebih dulu sebelum tidur. Ia bersyukur kamar mandi di kamar barunya di lengkapi shower air panas.
Ia segara menguyur tubuhnya dengan air hangat, rasanya lelah melewati perjalanan seharian seperti hilang. Celin meraih handuk karena merasa sudah cukup menyudahi ritual mandinya.
Bertepatan dengan tangannya yang meraih handuk untuk melilit tubuhnya. Lampu kamar mandinya mendadak gelap.
Jantung Celin berdegup kencang. Takut! Iya dia sangat takut, di tempat yang gelap dan sepi. Ia mencoba menenangkan diri dan berpikir ini gangguan teknis dari listrik. Ia pun keluar, dengan lampu kamarnya yang juga gelap.
langkah kaki terdengar mendekat dengan lancar meskipun ruangan sangat minim cahaya.
Celin semakin menyudut ketakutan di tembok, menutup handuknya kuat-kuat. Tangan kasar menyentuh dagunya dalam gelap. Ia juga merasakan hembusan nafas di sekitar wajahnya,
"Saya benar-benar tidak menyangka, pria yang alim seperti Angga juga punya simpanan premium seperti dirimu."
"Siapa kamu! Jangan sentuh aku!" Celin sekuat tenaga menepis tangan kasar itu.
"Layani aku malam ini, aku akan beri uang yang jauh lebih banyak dari Angga! itu kan yang diinginkan mahasiswa cantik sepertimu,"
__ADS_1
"Tutup mulut kotormu itu!" Celine ketakutan setengah mati, ia rasanya ingin meraih benda apapun untuk menyingkirkan tangan pria aneh yang ada di depannya ini.
"Lepaskan aku, aku akan berteriak!"
"Teriak saja sampai urat lehermu putus, tidak akan yang mendengarmu sayang, ruangan ini kedap suara!"
Celin semakin ketakutan dengan pria yang ada di hadapannya. Ia mendorong dan mencoba berlari dalam gelap, tapi pria itu justru tertawa dan kembali menarik tangan Celin.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1