Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Ada Apa?


__ADS_3

"Pak Angga!" suara seseorang yang mengangetkan Angga yang beberapa langkah lagi menuju mobilnya.


Kedua pria itu langsung memasang raut wajah aneh. Tatapan penuh kecurigaan dua pria yang Angga kenal dan sekuriti kantor. Dalam pikiran Angga pasti kedua orang itu berburuk sangka melihat keadaannya dan Celin.


"Celin membutuhkan pertolongan! Dia pingsan! Dimana klinik terdekat selain klinik punya perusahaan," seru Angga sedikit berteriak.


"Tunggu! Apa yang pak Angga lakukan dengan gadis muda itu hingga pingsan," ujar pria bernama Dion itu.


"Pak Dion, saya hanya menolong Celin karena ada seseorang di kantor kita melakukan tindakan tak bermoral!"


"Apa maksud Pak Angga ada orang yang bertindak tak bermoral! Maaf Pak Angga, anda memang atasan kita. Tapi melihat hanya ada Anda dan gadis muda ini. Selain kita, apa ada orang yang akan percaya?"


"Tunggu Pak Dion, bapak menuduh saya telah berbuat tak senonoh dengan Celin!" Angga terdengar emosi.


"Saya tidak menuduh Pak Angga, saya hanya bicara berdasarkan apa yang saya lihat! Jika Pak Angga ingin menolong, kenapa Pak Angga sempat melepaskan baju dan memberikan pada gadis muda itu! Lihatlah Pak Angga sekarang."


"Hentikan tuduhan tak berdasar ini Pak Dion! Justru saya harus bicara pada Pak Dion dan petugas keamanan karena bisa ada kejadian seperti ini dalam lingkungan perkantoran!"


"Maaf Pak Angga kami selalu memeriksa setiap orang yang akan keluar masuk, kita juga berkeliling! Ketika Pak Dion melaporkan mendengar ada yang suara orang meminta tolong, saya dan tim sedang berpencar untuk mencari," bela si sekuriti.


"Maaf Pak Angga, kenapa malah Pak Angga menyalahkan orang lain? Apa Pak Angga ingin menutupi kesalahan Pak Angga dengan mencari-cari kesalahan orang lain?"


"Pak Dion sekali lagi, ini salah paham! Jangan menuduh saya yang berbuat tak pantas dengan Celin! Karena itu tidak mungkin! kejadian memalukan ini harusnya menjadi tanggung jawab Anda di kantor ini!"


Pria bernama Dion itu merangkul Angga menghindari sekuriti membisikan sesuatu di telinga Angga. "Pak Angga tidak perlu terlalu cemas, kita tahu bagaimana petinggi perusahaan. Sealim-alim mereka, tidak akan tahan jika tidak memiliki wanita simpanan. Makanya Pak Angga cari tempat aman di perkebunan. Kita tidak usah ributkan masalah malam ini, kita lupakan kejadian malam ini, dengan begitu saya dan Pak Angga tidak akan terkena masalah."


"Pak Dion! Jaga ucapan Anda!" Angga semakin marah dengan ucapan Dion.

__ADS_1


"Tenang Pak Angga," ucap pria itu.


"Saya tidak ada waktu untuk berdebat, kita tetap bicara hal ini besok pagi! Saya akan membawa Celin ke klinik!"


"Pak Angga sebaiknya Anda tidak pergi ke klinik desa, saya kuatir ada warga desa yang akan melihat Anda dengan keadaan seperti ini," cegah sekuriti itu


"Saya tidak melakukan apapun! Kenapa saya harus takut dengan warga." Angga melewati kedua orang itu masuk ke dalam mobilnya.


"Pak Angga pikirkanlah baik-baik," ucap Dion mendekati Angga di jendela mobil.


Angga malah mengalihkan pandangannya ke arah depan bersiap akan menjalankan mobilnya.


Ia tak akan bernegosiasi dengan siapapun, ia akan tetap mencari orang yang berusaha merenggut kehormatan Celin. Orang dengan kelakuan tidak bermoral sepeti itu tidak akan lagi ada di perusahaan Wilson Palm jika terbukti.


Dengan pelan Angga mengemudi mobilnya memasuki perkampungan yang ada di dekat perkebunan. Angga terpaksa memilih klinik terdekat untuk memeriksa kondisi Celin, karena klinik kesehatan milik Wilson Palm hanya akan buka pada siang hari. Di dalam perkampungan ada fasilitas kesehatan yang buka 24 jam untuk menangani pasien darurat.


Dua orang perawat langsung bergegas membawa brankar melihat Angga yang mengendong seseorang yang tak sadarkan diri.


"Dia pingsan, tolong bantu Dok,"


"Ia Pak, kita akan periksa." Perawat bersiap mendorong brankar masuk ke dalam ruangan.


"Saya akan tunggu di luar,"


Angga bisa bernafas lega, Celin akhirnya mendapat pertolongan. Ia duduk di kursi panjang dekat ruangan itu, tak lama salah satu perawat menyerahkan kemeja Angga.


"Kami sudah menganti baju pasien yang lebih layak dengan baju klinik."

__ADS_1


"Terima kasih. Bagaimana keadaan Celin Dok," ujar Angga.


"Pasien sudah sadarkan diri Pak, kondisinya berangsur mulai stabil. Hanya saja masih ada kecemasan pada pasien. Silahkan masuk jika ingin melihat keadaannya."


"Ya Dok."


Belum sempat Angga masuk untuk melihat keadaan Celin saat ini. Ada suara beberapa orang memecah keheningan malam yang sunyi di perkampungan. Mereka berbondong-bondong menuju ke klinik kesehatan desa ini. Angga mengurungkan niatnya untuk menemui Celin. Ia penasaran kenapa banyak orang dengan wajah marah dan mulut yang terus berkomat-kamit mendekat ke tempatnya berpijak.


"Itu orangnya!" salah satu warga dengan suara keras menunjuk ke arahnya dari jarak beberapa meter.


Angga yang sudah bingung dengan keadaan Celin, ditambah lagi banyak orang yang mendekati dirinya. Ia mencoba tenang menunggu kerumunan orang yang mulai mendekat dengan tatapan marah.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .......

__ADS_1


__ADS_2