
"Titip Arzen dulu Mas." Rena menyerahkan balita tiga tahun yang sejak tadi digendongnya.
"Mau kemana?" tanya Angga.
"Ke toilet sebentar."
Rena melangkah ke toilet yang letaknya tak jauh dari ballroom. Dari kejauhan ia melihat Rosa dan Desi berdiri nampak asik membicarakan sesuatu. Ia pun mempercepat langkah untuk sekedar menyapa. Belum sempat mendekat langkah Rena tersedat ketika telinganya menangkap namanya disebut.
"Muncul juga akhirnya. Tapi aku lama-lama jadi eneg ya lihat Rena! Sok Ikhlas gitu nggak sih!" seru Rosa memasang senyum sinis.
Rena memilih menyembunyikan diri di tembok pembatas yang ada di dekatnya. Ia hanya ingin mendengar apa pendapat dua orang yang dikenalnya itu tentang dirinya.
"Memang ikhlas kali Ros, buktinya lama ilang aku kira depresi, stress, ini malah makin gemuk, seger, wajah makin glowing pula! Nyesel aku sempat simpati sama dia," sahut Desi menanggapi dengan auntusias.
Rena mengelus dada mendengar dua orang saling bersahutan membicarakan dirinya.
"Pemikiran kita kok sama!"
"Memang fakta."
"Alasannya aja mau jadi wanita Solehah. Ikhlas dimadu. Heleh! padahal sekarang ketahuan kan."
__ADS_1
"Yang penting uang bulanan aman! koleksi berlian makin penuh tuh bikin silau mata." Tawa Desi mengaung ditelinga Rena.
"Rumah tambah megah. Dibuatkan toko pula dimana-mana. Kelar! Mau suami nikah lagi ya bodoh amat kali ya!"
Rena menelan ludahnya berat! Hatinya mendadak kebas! Serendah itukah diri nya dimata dua orang yang biasanya bersikap baik jika di depannya itu.
"Sudah cetakan mental babu kali ya, mangkanya kebal. Heran, muka pas-pasan aja Pede ijinkan Mas Angga nikah lagi! Yakin, dia enggak bakalan ditendang."
Hati Rena mulai meradang, ia tak menyangka mulut Desi yang dikenalnya baik dan santun, bisa mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu melebihi Rosa yang memang sudah bermulut cablak.
"Rumah tangga yang bahagia lengkap dengan anak-anaknya aja bisa goyang karena orang ketiga! Apalagi ini?"
Rena masih bisa mendengar Desi membalas dengan tawaan.
"Makanya, istri muda Mas Angga cantiknya natural Ros blesteran belanda gitu, muda, hamil lagi sekarang. Nah Rena, ketolong perawatan laser sama skincare, mana nggak bunting-bunting!"
"ha ha ha! Kita lihat saja nanti!"
"Aku sih yakin paling kalau anaknya udah lahir, pasti langsung ditendang!"
"Ha ha. Jahat banget sih Des. Bertambah dong populasi janda."
__ADS_1
"Gemes sendiri aku sama si Rena! pintar otaknya cuma urusan cuan! Biarlah dia nanti ngenes sendiri karena kepedeannya!"
Jantung Rena berdebar hebat. Jelek sekali doa dua manusia itu! Jari-jari Rena mencengkram dinding tembok hingga kukunya putih. Rasanya tangannya tak sabar ingin menampar mulut orang yang ada disampingnya itu.
Hendak akan melangkah. Rena sadar! Tak pantas dirinya mengotori tangan dan hatinya untuk dua manusia yang tak punya hati dan perasaan itu.
Ia pun berbalik! Menahan amarahnya dan meninggalkan dua manusia itu adalah pilihan yang tepat!
Tangisnya mulai pecah. Ia bukan menangis karena caci makian dua orang bermulut api itu. Ia hanya menangis, apa keluarga suaminya yang lain memandangnya serendah itu saat ini?Tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.
.
.
.
.
.
Bersambung........
__ADS_1
Sori baru bisa up...
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘