
Angga hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai di depan rumah istri keduanya. Perjalanan paling singkat yang ia tempuh menuju rumah keduanya. Kobaran amarah yang mengaliri kakinya membuatnya dengan cepat menginjak pedal gas. Hatinya terasa sakit ketika Rena menyodorkan syarat gugutan perceraian dari pengacaranya. Matanya merah tersulut kepedihan dan amarah. Pria itu sedih, marah dan kecewa.
Langkah kakinya kini setengah berlari masuk rumah isrti keduanya.
“Ngga.” Wanita paruh baya setengah berlari mencegah putranya yang akan menaiki tangga.
Angga berhenti, ia menoleh ke arah sang ibu yang terlihat panik.
“Inget Ngga istrimu lagi hamil!” Tangan yang mulai keriput itu merangkul lengan Angga untuk menghentikan langkahnya.
“Bu! Tolong bu, kali ini aku minta jangan ikut-ikut mencampuri masalah rumah tanggaku. Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya. Biarkan aku yang mengajari dan mendidik istri-istriku!” Dengan pelan Angga menurunkan tangga sang Ibu dari lengannya.
Bu Sinta pun terdiam, ia tak pernah melihat Angga semarah itu, tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menatap cemas anaknya yang berlari menaiki tangga. Wanita paruh bayah itu hanya berharap semuanya akan baik – baik saja.
Angga langsung menuju kamar yang biasanya ia gunakan untuk bermalam di rumah istrinya.
Celin mengusapkan kedua tangannya ke wajah sebagai penutup rangkaian ibadah sholat isyanya. Wanita itu membuka mukena yang usai dikenakan kemudian melipatnya rapi di atas sajadah. Ia berusaha bangun dengan pelan menahan bobot perutnya yang semakin besar. Perut besarnya sekarang membuat pengerakannya menjadi sempit dan punggungnya nyeri jika bergerak spontan.
Mata coklatnya langsung membulat ketika mendapati suaminya yang sudah ada di belakangnya. Sungguh ia tak menyadari kapan suaminya itu masuk ke dalam kamar.
“Sudah berapa kali Mas bilang Cel, sabar! Sabar!” bentak Angga yang langsung menyiutkan hati Celin.
Wanita muda itu membeku tak mampu berkutik mendengar bentakan suaminya. Tentu Celin paham, jika suaminya murka mengetahui pertengkarannya dengan kakak madunya siang tadi. Hal itu tergambar jelas di raut wajah suaminya yang pernah Celin lihat selama ia menikah.
“Kenapa kamu nggak taat Cel! Nggak bisa nurut! Apa susahnya buat kamu untuk menahan diri tak membalas setiap perkataaan yang dilontarkan Renata!”
Air mata Celin mulai tumpah. Kali ini semua orang menyalahkan dirinya untuk tuduhan yang tak pernah ia ketahui. Ia merasa tak punya lagi tempat untuk berlindung. Airmata yang ia keluarkan rasanya tak mampu lagi membuatnya suaminya berbelas kasih padanya.
“Kamu tahu dampak dari perkataan kamu itu Cel! Kamu harusnya mengerti tidak mungkin Rena menuduh kamu tanpa alasan! Kamu juga harusnya bisa menyadari apa penyebab kemarahan Rena!”
Celin tak sanggup lagi menompang bobot tubuh dan pikiranya yang berat. Ia mejatuhkan tubuhya di ranjang dengan lelehan air mata yang tak berhenti membasahi wajahnya.
__ADS_1
“Jadi Rena itu nggak gampang Cel! Ia harus menerima kamu dengan paksa untuk hadir ditengah kita! Ia harus menata hati, membiasakan diri karena hadirnya kamu. Dia harus menahan cemburu, sakit ketika Mas menjalankan tugas sebagai suami yang punya dua istri. Terlebih dia pasti merasa iri dengan kamu karena memiliki apa yang belum dia miliki. Mas setengah mati menjaga perasaan Renata tapi kamu justru malah dengan mudah menjatuhkannya Cel! Sakit Mas mendengarnya Cel! Apa susahnya untuk kamu diam Cel!”
Wanita itu hanya terisak tak menyangka akan terjadi seperti ini, ia tak bisa melakukan apapun kecuali mengucapkan kata maaf berkali-kali.
“Kamu banyak berhutang budi pada Rena Cel! Kalau bukan karena dia yang terdesak memberi ijin Mas untuk menikahi kamu, apa ini semua akan terjadi!
Rena juga yang meminta mas berlaku adil dan memberikan tempat yang layak untuk kamu Cel! Kamu juga harusnya berterimah kasih pada Rena, karena dia yang menyuruh Mas melegalkan pernikahan kita! Jika bukan karena Rena apa kamu bisa hidup dengan tenang tanpa hinaaan warga seperti ini Cel! Tapi apa balasan kamu! Semakin menorehkan luka di hatinya karena kamu merasa di atas awan bisa mendapatkan perhatian lebih dari Mas. Kamu bisa berkata seenaknya di hadapan Rena apa karena bisa lebih dulu hamil!”
Wanita bermata hazel itu mengeleng. Isakan Celin semakin keras tak kalah ketika Angga juga berbicara semakin tinggi.
“Kamu pikir Mas tenang dengan hidup seperti ini. Mas seperti memakan buah simalakama Cel. Mas hanya menjalanakan kewajiban dan tanggung jawab Mas sebagai seorang suami pelaku poligami. Selebihnya Mas sangat mencintai Renata!”
Celin memegang dadanya yang terasa nyeri. Tapi ia tak bisa berkutik hanya untuk sekedar membela diri. Ia hanya bisa mengucapakan penyesalan lewat air mata.
“Pakai kerudung kamu! Ikut Mas Cel!” Angga mengambil asal kerudung yang mengantung dan menyerahkan pada istrinya.
Tanpa menjawab atau bertanya, wanita berambut coklat itu langsung mengenakan kerudungnya. Angga menarik tangan istrinya, kesabaran Angga seolah tertutupi kekecewaan.
Ibunya adalah orang pertama yang Angga lihat ketika menuruni tangga.
“Mau kemana malam-malam Ngga!” tanya Bu Sinta yang sejak tadi cemas menunggu di ruang tamu.
Angga langsung mengangkat tangan mencegah sang ibu untuk menegur apa yang akan dilakukannya.
“Ini urusan rumah tanggaku Bu, aku yang akan menyelasaikannya,” ucap Angga
Bu Sinta terpukul mundur ucapan putranya, wanita paruh bayah itu tak berani mencegah meskipun ia begitu mencemaskan keadaan menantunya yang hamil juga terlihat kacau.
Hanya keheningan dan isakan tangis yang ada didalam mobil. Celin tak tahu suaminya akan membawanya kemana? Ada perasaan wa-was menghinggapi hatinya sejak ia keluar dari rumah.
“Mas nggak bisa kehilangan Rena Cel. Sudah cukup Rena merasakan sakit dan air mata. Mas tidak bisa mempertahankan apa yang sudah menyakiti hati Rena!” Kalimat pertama yang diucapkan Angga selama perjalanan.
__ADS_1
Rongga Dada Celin kembali semakin sesak dan tangisnya semakin kencang entah apa yang akan terjadi setelah ini. Mobil Angga berhenti dipelataran rumah klasik bercat putih. Angga turun dari mobil membuka pintu untuk Celin. Tubuh wanita itu semakin lemas mendapati suamimya yang membawanya ke rumah Papinya.
“Pak Angga, Celin?” pria paruh bayah itu terkejut setelah membuka pintu mendapati kedua orang di depannya. Pak Bramantyo langsung menyuruh masuk anak dan menantunya itu. Perasaan sedikit cemas melihat keadaan putrinya yang kacau.
“Ada apa ini malam-malam tanpa memberi kabar?” tanya pria itu.
“Beberapa waktu lalu anda sendiri yang menikahkan saya dengan Celin.”
“Ya, kenapa ini Pak Angga?” Pria paruh bayah itu merangkul putrinya yang terisak.
“Sudah cukup sampai disini kesabaran Rena menahan sakit yang ternyata karena hasutan seseorang. Sudah cukup air mata yang dikeluarkan Rena, saya tak bisa lagi mempertahankan ini semua! Saya pulangkan Celin kepada Anda Pak Bram.”
Pria ini langsung melotot ke arah Angga. “Pak Angga!” bentak pria itu.
“Saya tak akan pernah melepaskan tanggung jawab kepada darah daging saya, saya tetap akan memenuhi hak anak kandung saya.” Angga menatap kearah Celin yang semakin terisak keras.
“Maaf Cel, mulai sekarang Mas bukan suamimu lagi.” Seperti petir yang menyambar, kaki Celin mendadak lumpuh. Beruntung ada sang ayah yang sama kagetnya dengan sigap menahan tubuhnya.
Angga segera pergi keluar rumah dengan langkah panjang meninggalkan rumah itu. Pria itu tak menyadari ada sesuatu bertumpah darah terjadi di belakangnya.
Bersambung ...........
Kalimat terakhir Angga?
Sudah sah jatuh talak ya dear
Dari Ibnu Umar RA Bahwa ia pernah menalak istrinya dalam keadaan haid. Kemudian Umar bin Khatthab RA menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi. Lantas beliau pun berkata kepada Umar bin Khatthab RA, ‘Perintah kepada dia (Ibnu Umar RA) untuk *kembali kepada istrinya, baru kemudian t***alaklah dia dalam keadaan suci atau hamil**,” (HR Muslim).
Ketika istri ditalak dalam keadaan hamil. Masa Iddahnya sampai istri melahirkan. Bisa dirujuk kembali selama masa Iddah tersebut.
Wa'allahualam bishawab.... sumber (channel YouTube ceramah singkat)
__ADS_1
Stay sampai ending ya dear😘
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘