Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Farhan Ratara Jasa


__ADS_3

Mobilnya sudah berhenti di salah satu hotel. Ia memenuhi janjinya pada sang ayah untuk hadir makan malam bersama diperkumpulan teman ayahnya sesama pengusaha.


Sebenarnya ia malas ikut acara-acara seperti ini. Farhan tahu apa saja yang dibahas. Ia lebih suka bermain piano atau gitar untuk mengusir kejenuhan. Terlebih lokasi pertemuan kali ini letaknya jauh diluar kota.


Ia segera menghampiri kerumunan orang yang sudah yang melambaikan tangan padanya, salah satunya adalah ayahnya.


"Penerus Ratara jasa sudah datang. Sini-sini," bapak usia paruh bayah itu membuka kursi untuknya.


"Gimana - gimana, betah nggak sekarang jadi bos," tanya salah satu orang yang lainnya.


"Ya, begitulah Om, betah nggak betah. Harus bisa jadi pemimpin yang baik, berusaha sebaik mungkin untuk mampu bersaing dengan kompetitor yang ada dan tetap memberikan kesejahteraan aset berharga kita yaitu karyawan."


"Mantap nih putra Pak Yunus memang cocok jadi pengganti ayahnya. Malah lebih ambisius sepertinya," sahut yang lain.


"Bukan ambisius Om, tapi lebih bertanggung jawab dengan apa yang sudah ambil," sanggah Farhan tak terima di samakan dengan ayahnya.


Bapak-bapak itu mengancungkan jempol dan menepuk pundak pria bersetelan casual itu dengan bangga.


"Ngomong-ngomong bener kemarin habis deal Aventador?" tanya pria paling kepo dengan Farhan bernama Om Wisnu.


"Bukan deal sih Om, di paksa Papa beli," jawab Farhan jujur melirik ke arah orang yang di maksud.


"Dapat harga berapa?" tanyanya lagi serius.


"Ada delapan belasan," jawab sang ayah santai.


"Beda tipis lah kemaren aku juga nambah isi bagasi McLaren," balas Om Wisnu.


"Berapa Om?" tanya Farhan mecoba menanggapi.


"Sekitar sepuluhan, sebelum-sebelumnya aku juga sempat beli Aventador," balasnya lagi membanggakan diri.


Farhan mengelengkan kepala. Ia malah lebih berpikir untuk membeli kendaraan bus yang jauh lebih bermanfaat untuk orang banyak, daripada supercar yang hanya bisa nongkrong digarasi untuk bahan unjuk diri.


"Tetap saja om cuma nongkrong di garasi, paling - paling keluar sama keluarga juga pakai mobil kota. Mobilnya cuma muat dua orang itu yang kadang aku sayangkan terkesan mubazir."


"Dipakai lah muter-muter, buat narik perhatian cewek - cewek muda. Biar bahagia dan tetap awet muda," sindir salah satu pria disitu, disusul gelak tawa orang yang ada disitu.


"Bisa aja, buat self reward lah sama untuk bujuk istri kalau lagi merajuk ketahuan habis bawa yang muda," balas Om Wisnu bangga. Gelegar tawa kembali terdengar di mejanya itu.


Inilah yang tidak ia suka jika ada acara perkumpulan teman-teman ayahnya. Bahasan paling tak jauh-jauh dari pamer keunggulan dan wanita. Meskipun tak jarang berbagi kiat sukses, tapi itu sangat jarang di bahas dan lebih senang membahas hal tak penting seperti yang dibahas saat ini.

__ADS_1


"Belajar Han, banyak - banyak kumpul dengan orang-orang sukses seperti mereka. Perbanyak link untuk rekan bisnis. Korek ilmunya biar ketularan. Ikuti selanya biar nggak keteteran," seru papanya.


Farhan hanya manggut-manggut saja mengiyakan ucapan ayahnya. Apa yang bisa ia pelajari dari teman - teman ayahnya, memubazirkan uang, perbanyak wanita simpanan atau menambah istri muda? hanya itu pembicaraan yang sejak tadi ia tangkap.


"Tuan rumah kita datang!" seru salah satu orang yang berdiri menyambut pria berbeda usia yang baru saja datang.


"Terima kasih Pak Wisnu, Pak Yunus sudah mengundang saya." Pria itu menjabat tangan Om Wisnu dan Papanya.


Sungguh sangat kebetulan. Ia masih bisa mengenali pria yang baru saja menjabat tangannya dengan santun. Ia bertemu kembali dengan suami teman lamanya yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya. Ia juga yakin pria itu masih mengenalinya sebagai teman istrinya.


Tapi manik matanya langsung tertuju pada tangan pria itu. Ia sungguh kaget bukan main.


Pria yang ia kenal sebagai suami temannya itu, mengandeng tangan wanita cantik berkerudung coklat yang ia tebak sedang hamil karena perutnya terlihat besar.


Dimana Renata? Bukankah beberapa waktu lalu ia masih bertemu mereka sedang bersama di airport. Mendadak hatinya begitu ingin marah, tapi ia tak mau asal menunduh sebelum tahu kebenaran.


"Sini, sini Pak Angga. The next Miranda Wilson nih, Mbaknya silahkan duduk," Om Wisnu membuka kursi untuk dua orang yang baru bergabung itu seolah sudah tahu siapa wanita bersama suami temannya itu.


Mata Farhan tentu tak bisa lepas menyorot dua pasangan itu.


"Tapi maaf saya tidak bisa lama bapak-bapak, saya harus mengantar istri saya."


Mata elang langsung Farhan tunjukkan pada pria itu. Istri!


"Ya Pak Angga, santai dulu. Makan dulu sedikit pamali orang Kaltim bilang kalau sudah datang tapi nggak makan," ucap Om Wisnu antusias.


Wanita berhijab coklat itu pergi berpamitan kemana? Para pria langsung memberondong pria itu dengan beberapa sindiran.


"Hmmm ... dibawa Keluar juga pak Angga Nyonya mudanya," seru salah satu orang yang ada di situ menepuk pundak pria itu.


"Ya Pak sekali-kali ajak jalan-jalan lagi hamil juga," jawab pria itu membalas dengan senyuman.


"Untungnya berita pelecehan cepat di klarifikasi. Orang keciduk sama istri sendiri," seru orang yang lain menyahut.


"Alhamdulillah Pak," balas pria berkemeja biru itu.


"Pantesan ya Pak Angga tambah bugar, jarang datang ke perkumpulan. Yang baru asli Jos Pak!" sindir Om Wisnu.


"Ya tambah lagi sana resmikan kayak Pak Angga, jangan di simpan aja banyak-banyak," sindir salah satu teman papanya disusul gelak tawa semua orang.


Tentu telinga Farhan tak tahan dengan ucapan para pria di meja ini. Hatinya mendadak panas mengingat kejadian masa lalu yang tiba-tiba menyeruak di pikirannya.

__ADS_1


"Maaf saya permisi sebentar." Farhan beranjak. Ia memilih untuk menjauh sebentar dari orang-orang yang akan menjadi rekan bisnisnya.


Ia memilih duduk di sofa lobby hotel. Ia mengeluarkan ponsel dan melihat kembali dari layar pipih itu wanita paruh bayah yang masih terlihat segar. Senyum tersungging di ujung bibirnya.


Ia adalah saksi perjuangan sang ibu yang menjalani pernikahan poligami. Ibunya awalnya adalah wanita yang ceria dan penyabar. Ketika mengetahui ayahnya menikah lagi dengan wanita yang seumuran dengannya, disitu senyum ibunya ia lihat perlahan memudar. Meskipun pada akhirnya sang ibu menerima keputusan sang ayah.


Mata Farhan tentu saja tak buta, ia sering melihat ibunya menangis setiap malam meskipun beliau selalu bilang baik-baik saja. Ia merasakan banyak kepedihan di mata sang ini ibu.


Ia juga tak bisa pungkiri jika ibunya jatuh sakit akibat memikirkan sang ayah meskipun beliau selalu berdalih bahwa sakit adalah cobaan dari Allah.


Hingga akhirnya wanita paling berharga dalam hidupnya itu meninggal karena sakit-sakitan semenjak kejadian itu.


Ia menepis bulir bening dari ujung matanya. Jika waktu bisa diputar kembali, Ia sungguh tak ingin seperti ini, ibunya sungguh wanita yang sangat baik. Percuma ibunya di kucurkan banyak harta jika hatinya sakit dan terluka ! Itu semua tidaklah ada artinya.


Farhan sebenernya sudah ingin pergi dari rumah dan tak peduli dengan semuanya jika bukan karena amanah terakhir sang ibu yang ingin agar dirinya tetap bersama ayahnya dan menjaganya.


Pikirannya kini justru menjurus pada wanita masa lalu yang akhir-akhir ini menganggu pikirkannya. Wanita di masa lalu yang berhasil mencuri perhatiannya di antara banyak wanita yang mengejarnya hanya karena harta.


Ia kembali memutar ponsel, melihat lagi di laman sosial medianya lima tahun silam saat masih mengenakan almamater berwarna Orange berlogo HMF.


"Apa kabar perasaan kamu sekarang Ren, Aku tak ingin kamu bernasib seperti ibuku."


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...........


Ini part Ei panjangin sori baru up ....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘


__ADS_2