
Rena sudah menata masakan yang buru-buru ia masak setelah pulang dari toko. Meskipun Angga tidak ingat sama sekali ini hari jadi pernikahannya, tapi apa salahnya Rena secara sepihak membuat acara makan malam sederhana untuk mengenang hari paling indah dalam hidupnya itu.
Dipandanginya pigura mahar pernikahan yang masih utuh terpajang di dinding dekat ruang tamu. Mahar pernikahannya berupa uang Dinar dengan bentuk Masjidil haram, tempat impian mereka yang Qodarullah sudah pernah ia datangi beberapa kali untuk ibadah umrah dan menjalankan rukun Islam yang kelima.
Meskipun empat tahun mengarungi bahtera rumah tangga dirinya belum di karuniai seorang anak, tidak ada yang berubah dari perhatian dan kasih sayang yang di curahkan suaminya padanya.
Kadang Rena merasa iri pada orang-orang yang baru menikah beberapa bulan sudah bisa hamil. Seperti tadi siang, karyawan yang baru menikah beberapa bulan lalu, ijin cuti lantaran kondisi morning sickness parah karena kehamilan. Sedangkan ia sudah melakukan beberapa program kehamilan, dirinya masih juga tak kunjung hamil.
"Astaghfirullahaladzim," Rena mengelus dadanya atas kekhilafan pikirannya.
Ia menggelengkan kepalanya merasa jadi hamba yang tak bersyukur dan tak berkhunudzonbillah atas qadar Allah.
Ia kembali fokus melihat jam tangan menunggu suaminya. Menurut jam penerbangan yang diinfokan Angga. Harusnya suaminya akan sampai di rumah 10 sampai 15 menit lagi.
Rena mencicipi kembali rendang kesukaan suaminya.
Masih enak! Buru-buru ia tutup agar tetap hangat saat di sajikan.
Tak lama suara mesin mobil terdengar berhenti di halaman rumahnya. Rena bergegas bangkit dari kursi meja makan untuk membuka pintu.
"Assalamu'alaikum," suara yang sangat dirindukan Rena meskipun Angga baru sehari di kota Balikpapan.
"Wa'alaikumusalam," Rena langsung meraih punggung tangan suaminya. Di balas oleh Angga kecupan di kening istrinya.
Rena langsung berhambur memeluk suaminya ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Kangen," ucap Rena lirih di dada Angga.
"Masa, untung tadi Mas bisa pulang, harusnya rapatnya tiga hari," goda Angga.
"Mas Angga!" Rena memukul pelan dada suaminya. Angga hanya membalas dengan tawa renyah.
"Ade siapkan makan malam dulu," ucap Rena melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Rena melangkah dengan sedikit merasa kecewa kali ini, Angga benar-benar lupa hari jadi pernikahannya.
Disela ia menata piring, tangan kelar melingkar di perutnya.
"Mas ...," Rena merasa geli karena Angga mengigit daun telinga meskipun tertutup kerudung.
"Tumben masaknya banyak, ada rendang lagi," tanya Angga menunjuk ke daging berbumbu itu.
Rena hanya tersenyum, "Oh ya Mas, kayaknya mahar pernikahan kita ada sedikit retak di ujung, nanti kita ganti frame ya!" sindir Rena yang kesal, kedatangan suaminya tak seperti harapannya.
__ADS_1
"Masa sih, perasaan kemarin baik - baik aja," balas Angga.
"Coba Mas cek sebentar deh, di pojok kanan bawah!" tekan Rena menunjuk arah frame yang ada coretan tanggal.
Angga pun menurut, Rena duduk terlebih dulu di meja makan masih kesal karena suaminya tak kunjung peka.
Rena merasakan ada sesuatu yang dilingkarkan di lehernya tak lama ia duduk. Tangannya meraba buliran lingkaran itu dengan perasan yang tak bisa dijabarkan.
"Happy anniversary istri cantik dan Sholehahku," bisik Angga lirih ditelinga istrinya. Kini ia juga menghujani pipi Rena dengan kecupan berkali-kali. Angga sengaja mengoda istrinya agar kesal dulu.
Mata Rena berkaca-kaca haru, ternyata suaminya mengingat hari ini tanggal jadi pernikahannya. Meskipun terdengar konyol merayakan hari ulang tahun pernikahan tanpa anak. Tapi Rena ingin mengingat kembali tahun demi tahun pernikahan.
"Mas ingat," tanya Rena masih dengan perasaan haru.
"Ingat dong De, hari dimana Mas bisa membuat bidadari surga iri karena memiliki istri Sholehah seperti Ade. makanya Mas bela-belain cepat pulang karena pasti istriku ini udah siapkan semuanya." Angga mencubit hidung Rena.
Rena tak bisa lagi berkata apa-apa selain perasan bahagia meskipun Angga tidak memberi hadiah sekalipun.
"Terima kasih kalungnya Mas," Rena memeganginya kalung putih dengan tiga manik berlian.
"Alhamdulillah kalau Ade suka," Angga mengecup singkat bibir istrinya.
"Suka banget," balas Rena memeluk suaminya.
Rena dengan sigap meletakan masakan yang dibuatnya di piring suaminya. Angga selalu suka apapun masakan yang dibuat Rena, ia begitu menikmati hingga sendok terakhir.
"Mas, Rena tadi juga buat desert spesial untuk anniversary kita." Rena bangkit menuju ke kulkas.
Reni kembali ke meja makan dengan kue bulat di tangannya.
"Cantik Sayang, Ade yang buat sendiri?" puji Angga memperhatikan kue dengan lapisan kream mocca bertuliskan happy anniversary.
"Iya, ini rencananya akan jadi menu baru di toko."
"Jadi Mas jadi kelinci percobaan di anniversary kita," protes Angga.
Rena tertawa, "Ih Mas, justru Mas pertama yang mencoba menu low sugar ini." Rena memotong irisan kuenya menyodorkan pada suaminya.
"Suapin," rengek Angga. Rena pun menurut memberikan satu suapan pada Angga.
Rena menunggu respon Angga yang berlaga seperti chef di acara kompetisi memasak.
"Apapun yang dari tangan kamu selalu enak De."
__ADS_1
"Yang objektif," Rena protes.
"Serius ini enak," balas Angga sekarang menyuap sendiri kuenya.
Rena tersenyum puas. Meskipun malam ini begitu hangat tapi tetap saja ada yang kurang dari rumah tangganya. Lagi-lagi rasa bersalah itu muncul di benaknya ditengah rasa bahagia.
"De, Sayang. Kenapa?" tanya Angga lirih melihat istrinya yang tiba-tiba diam melamun tak cerewet seperti biasa ketika ia protes.
"Mas, maaf, di tahun keempat pernikahan kita, Ade masih belum bisa beri hal paling penting dalam berumah tangga yaitu anak."
"Ssstt ...," Angga menutup mulut Rena dengan jari telunjuknya. "Sayang, anak bukanlah satu-satunya tujuan dari penikahan. Pernikahan bukan hanya masalah anak, tapi saling memahami, saling menjaga satu sama lain, memperlancar ibadah kita. Mungkin sekarang Allah belum mengabulkan doa kita untuk di beri amanah bukan tanpa maksud. Mungkin Allah ingin kita bisa lebih banyak waktu berdua untuk semakin giat beribadah, mungkin Allah memberi kesempatan untuk kita lebih bisa berbagi kepada anak-anak yang membutuhkan."
Rena hanya mengangguk, tak sanggup membendung air matanya yang sudah mengenang.
Angga menghapus air mata istrinya yang menetes, Angga tahu Rena sangat sensitif ketika bersinggungan masalah anak.
"Sayang, anak itu hak Allah, hanya Allah yang berhak memberikan keturunan pada makhluk yang di kehendakinya. Kita harus terus berkhunudzonbillah dengan rencana Allah. Kita hanya perlu terus berdoa, tawakal, beriktiar karena tidak ada yang bisa merubah qadar kecuali dengan Doa."
"Ya Mas," jawab Rena lirih.
"Tidak ada doa yang sia-sia Sayang, jika doa kita belum terkabul sekarang, maka itu akan jadi tabungan kita di akhirat nanti." Angga kini mengecup kening Rena.
Rena sangat bersyukur mempunyai suami yang begitu sabar seperti Angga. "Ya Mas, kita harus banyak berdoa pada Allah agar keinginan kita segera di kabulkan, kesabaran kita berbuah manis."
"Amin. So, menu makan malam spesial udah, cobain kue kamu juga sudah. Sekarang Mas mau coba menu yang paling istimewa." Angga berdiri dan sekarang mengangkat tubuh istrinya dengan gaya bridal.
"Mas! Masih sore," pekik Rena masih saja malu kalau suaminya mengajak melakukan hubungan suami-istri.
"Jangan memubazirkan waktu," goda Angga.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
Adem ya ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like komen vote 😘 biar Ei rajin Up 😘