
Rena mengantarkan suaminya ke depan pintu rumah usai menyelesaikan sarapan pagi.
"Buku untuk anak magang udah dibawa?" tanya Rena mengingatkan suaminya.
"Udah kok," Angga menunjukkan tas plastik ditangannya.
"Mas hati-hati nyetirnya." Rena mencium punggung tangan Angga. Dibalas Angga yang mencium kening istrinya.
"Mas berangkat, Assalamu'alaikum."
Rena melambaikan tangan ke arah Angga setelah mobil Jeep Wrangler yang di tumpangi suaminya menjauh keluar dari pagar rumah.
Mobil jenis Sedan tua yang mungkin bisa mewah pada masanya berhenti di depan pintu pagar rumah Rena. Rena yang tadinya ingin masuk ke dalam rumah mengurung niatnya dan menunggu siapakah orang yang berhenti itu.
Pria paruh baya dengan setelan kemeja Rapi turun dari mobil itu. Rena perkiraan umur bapak itu sekitar 50an lebih karena perwakannya lebih sedikit muda dari bapak mertuanya.
"Pak Angga Ada," tanyanya.
"Maaf Pak, baru saja keluar ke kantor," balas Rena.
"Padahal lebih enak kalau bicara dirumah," keluh pria paruh bayah itu.
"Ya udah Pi, kita temui di kantornya saja," seru seorang wanita muda dan cantik yang mendekati pria paruh bayah itu.
"Ya Nak, oh ya. Apa ibu adalah ibu Renata istri Pak Angga?" tanya Pria sepuh itu.
"Betul sekali Pak," Jawab Rena santai.
"Saya Bramantyo rekan bisnis Pak Angga, ini putri saya Celine," bapak paruh baya itu menyuruh putrinya menjabat tangan Rena. Pria itu tahu kalau keluarga Angga tidak melakukan kontak fisk dengan lawan jenis.
"Renata," tangan Rena menyambut hangat tangan wanita cantik yang ada di hadapannya. Rena menduga, anak dari pak Bramantyo adalah keturunan blasteran mengingat wajahnya yang begitu oriental.
"Celine, senang bertemu dengan Ibu Renata." Balasnya dengan lembut.
__ADS_1
Entah kenapa Pak Bramantyo ingin menemui suaminya dengan membawa putrinya yang mengagumkan ini. Sudahlah! Rena menepis pikiran buruknya ketika Pak Bramantyo berpamitan untuk pergi.
.
.
.
Sesampai di kantor, Angga langsung berkutat dengan laptop untuk mengerjakan laporan yang masuk ke mejanya. Ia melirik layar ponsel yang sempat bergetar menandakan ada pesan yang masuk.
Mas, tadi pagi ada yang cari ke rumah namanya Pak Bramantyo.
Angga langsung teringat nama itu setelah di sebut istrinya. Ya, salah satu pemilik lahan terbanyak yang sempat di beli oleh Wilson Palm ketika Angga masih berkerja di kantor yang ada di perkebunan. Beliau juga membantu meyakinkan warga yang lain untuk menjual lahannya untuk Wilson Palm karena dianggap tokoh masyarakat.
"Permisi Pak Angga," suara sekertaris yang membuyarkan fokusnya.
"Ya, Dewi."
"Ada yang ingin bertemu dengan bapak, namanya Pak Bramantyo. Pak Angga sudah ada janji," sambung sang sekertaris.
Tak lama, pria paruh baya dan gadis berwajah oriental memasuki ruangan Angga. Angga langsung bangkit dari kursi menyambut pria yang pernah berperan membantu karirnya itu.
"Pak Angga, sekarang sudah jadi orang penting ya," kata pria bernama Pak Bramantyo itu sambil menepuk-nepuk punggung Angga.
"Pak Bram, lama tidak bertemu apa kabar? Panggil Angga saja Pak," sahut Angga sopan.
"Baik Pak Angga, bagaimana setelah pindah kantor di perkotaan?" basa-basi Pak Bram.
"Kadang suka kangen sama ular kobra di perkebunan Pak," canda Angga.
Keduanya tertawa lepas. Angga kemudian melirik ke arah wanita yang bersama kawan bisnisnya itu.
"Oh ya ampun. Pak Angga, apa anda masih ingat putriku." Pak Bram mengandeng Wanita bermata hazel itu mendekati Angga.
__ADS_1
Angga mencoba mengingat. Ingatan sepuluh tahun lalu menyeruak pada bocah kecil yang terlihat lebih mencolok daripada teman-tema. sesuainya.
"Celina?" ucap Angga melihat ke arah wanita itu.
"Ustadz Angga kan?" balas Celine, yang teryata dugaannya benar pria yang di temuinya kemarin di toko buku adalah Angga.
"Ya ampun Celine, kamu sekarang jadi Segede ini." Angga masih tak percaya muridnya waktu mengajar mengaji di perkebunan sudah tubuh jadi gadis perawan yang bisa di bilang cantik.
"Ya, ustazd Angga, Inget kan dulu sering Celine godain," katanya mencoba akrab masih memakai panggilan masa bocahnya.
"Kamu murid jahil," Angga mencoba kembali ke masa itu ketika mengagas dan mengajar TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) di sebuah masjid sekitar kantor Wilson Palm di perkebunan.
"Panggil saja Angga, saya bukan ustazd. Lagipula dulu saya ngajar hanya mengisi waktu luang di perkebunan untuk hal bermanfaat karena belum ada istri."
Ya, Celine yang berdarah campuran Belanda dan pribumi, membuat dirinya lebih dominan dengan wajah kebule-bulean mewarisi gen si ibu. Wajar jika Celine terlihat paling mencolok dulu ketika masih bocah. Biasanya, seseorang yang memiliki wajah blasteran, memiliki kriteria cantik tersendiri untuk penduduk negeri ini.
"Ayo kita duduk," Angga mempersilahkan tamunya menempati sofa setelah saling bertegur sapa mengulas masa lalu.
"Bagaimana Pak Bram, apa yang mendasari bapak tiba-tiba ingin bertemu saya?"
"Saya ingin meminta tolong pada Pak Angga," seru pria matang itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....