Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Memaafkan 2


__ADS_3

Rena mengambil nampan kopi dari tangan Sri. Ia akan mengantar sendiri dua cangkir kopi untuk orang yang belum saling bicara itu.


Kehadiran Rena memecah ketegangan dua pria yang saling pandang tanpa bicara itu.


“Silahkan,” ucap Rena hendak akan pergi. Tangan besar langsung menghalaginya.


Suaminya memberi intruksi agar ia duduk disebelahnya. Suasana semakin terasa panas, tidak raut keakraban disini.


“Pak Angga, Bu Renata. Kepergian Celin benar-benar menguncang saya. Kita sempat berpisah tapi untuk sementara. Tapi sekarang, putriku sudah pergi, tapi untuk selamanya.” Katanya dengan tenang tapi penuh arti yang tidak bisa di artikan Angga maupun Rena.


“Kita semua merasakan kehilangan Celin Pak Bram,” balas Rena santun. Walau kebencian sempat meracuni kepalanya pada pria itu, pria paruh baya itu tetaplah seorang ayah yang kehilangan orang yang paling disayangi di dunia.


Pria paruh bayah itu membenarkan posisi duduknya. Tetap dengan raut wajahnya yang tenang.


“Bu Renata, dengan segala kerendahan hati. Saya sungguh-sungguh ingin meminta maaf dengan semua kejadian yang ada. Saya sadar maaf saja tak akan cukup menebus semua kesalahan yang terjadi."


Rena langsung membulatkan mata. Ia tak pernah menyangka, orang yang bisa saja bernegosiasi dengan berbagai kalangan itu mengakhiri kalimat dengan kata maaf. Bisa saja dia kerahkan LSM untuk memperdaya lagi suaminya. Bisa juga pria itu melakukan hal nekat lainnya untuk menjatuhkan dirinya dan suaminya. Tapi kematian putrinya apa benar-benar membuatnya menyesal!


"Saya sebenarnya sangat marah! Tapi apa gunanya saya marah. Siapa yang saya salahkan! Semuanya terjadi begitu cepat! Saya sungguh menyesalkan semuanya jika kepergian Celin yang harus jadi imbalannya," lanjut Pria itu menunduk.


"Saya menyesal! Waktu itu saya hanya tak ingin Celin jatuh di tangan pria yang tidak tepat."


"Tapi apa Anda tidak berpikir jika akan ada rumah tangga lain yang akan terbelah!" Angga terpancing untuk bicara. Pria di depannya memberikan alasan yang bukan seharusnya.


"Anda sama saja menumbalkan Celin di bawah sikap baik Renata! Ada sudah menyakiti dua wanita yang ingin berjuang untuk orang yang disayangi! Rena memperjuangkan harga diri suaminya. Sedangkan Celin mengorbankan harga dirinya untuk ayahnya yang seolah berjuang menjaga kehormatannya!

__ADS_1


Dan Anda tahu! Bagaimana rasanya ketika merasa menjadi orang paling buruk di dunia ketika ia tak mampu menyelaraskan dua hati untuk saling seirama. Anda tak akan tahu, Bagaimana rasanya ingin berbuat adil sesuai dengan perintahNya, tapi tak pernah bisa sesuai harapan.


Apakah Anda pernah memikirkan kebahagiaan putri Anda dengan pernikahannya yang seperti itu!"


Rena mengengam tangan suaminya, ia mencegah suaminya untuk tak lagi bicara jika dengan keadaan marah. Angga mengusap rambutnya kasar, merendam debaran dadanya yang mendadak berdegup luar biasa.


"Sekali lagi tolong maafkan segala kesalahan masa lalu ini. Jangan ada lagi ada perselisihan. Biarkan putri tenang disana. Biarkan apa yang yang menjadi masalahnya di dunia bisa terselesaikan," balas Pria Bayah itu menundukkan wajahnya memperlihatkan ketulusan.


"Setiap manusia yang hidup tak akan pernah lepas dari kesalahan. Pak Bram benar. Biarkanlah yang telah pergi tenang disana. Saya dengan segala kerelaan hati saya memaafkan semua kesalahan yang terjadi." Angga menatap Rena. Rena berbalas menatap suaminya yang terlihat kaget.


"Begitupun dengan suami saya," balas Rena berusaha meyakinkan hati suaminya.


Manusia pasti tidak pernah luput dengan apa yang namanya kesalahan dan dosa. Terlepas dari perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.


Bagi Rena memaafkan sekaligus melupakan kesalahan orang lain yang telah menyakiti hati, memang tidaklah mudah. Rena sadar sebagai manusia biasa, pastinya tidak dapat melupakan kesalahan orang yang meyakitinya begitu saja. Tapi hal tersebut tentu sangat bertentangan dengan apa yang ia tangkap dalam kajian yang ia dengar.


Rena melakukan hal ini, tak lebih mengharap ridho Allah dari memaafkan orang lain yang telah menyakitinya. Rena sadar bahwa menyimpan dendam merusak hatinya.


Rena dan Angga mengantar kepulangan Pak Bram hingga depan pintu utama. Rena bisa melihat pria itu pulang dengan wajah penuh kelegaan.


"Pak Angga, Bu Renata sekali terima kasih. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana membalas kebaikan kalian," ucap pria itu menoleh sebelum memasuki mobil.


Rena hanya melemparkan senyum. Begitu pun Angga yang terpaksa mengikuti istrinya tersenyum.


"Setiap Minggu saya akan datang mengunjungi Shafiyah."

__ADS_1


"Silahkan Pak Bram dia adalah cucu Anda," balas Rena.


Kedua masuk kembali ke dalam rumah ketika pria itu sudah masuk ke dalam Mercedes tua.


"Terbuat dari apa hati kamu dek," Angga merangkul Rena dengan bangga.


"Mas yang buat aku jadi kuat begini, udah terlatih sabar hati Rena!" balas Rena memukul dada suaminya.


"Maaf Dek, Nggak akan ada lagi seperti kemarin. Mas nggak akan pernah mau lagi!" ucap Pria itu.


"Kalau terjadi lagi, nggak ada lagi kesempatan kedua!" ketus Rena dengan nada mengancam mendorong dada suaminya dengan telunjuk.


"Nggak akan dek, cuma Adek bidadari Mas dunia akhirat." Angga langsung menangkap tubuh istrinya seolah tak akan pernah membiarkan lagi istrinya jauh darinya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2