Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Cemburu Menghinggapi Hati


__ADS_3

Rena mengulas senyum ketika melihat dua bocah laki-laki yang ada di hadapannya. Bocah yang pemberani dan pintar. Anak laki-laki empat tahun itu memberikan permen di meja lounge tunggu bandara padanya.


"Terimakasih," seru Rena gemas. Ia membayangkan kelak juga bisa di karuniai anak-anak yang lucu. Meksipun ia harus melihat dulu anaknya dari adik madunya.


Matanya kini kembali melihat layar iPad untuk mengamati lokasi yang akan menjadi toko baru ke empatnya di kota Balikpapan.


Setelah empat hari berada di rumah sakit, kondisi Celin sudah mulai membaik. Karena kondisi Celin yang masih harus bedrest beberapa hari ke depan, ia dan suaminya terpaksa tak ikut serta membawa Celin untuk berkunjung ke rumah ibunya. Kebetulan di hari yang sama akan ada acara keluarga Angga yang harus didatangi Rena.


Mata yang mulai jenuh memandangi layar 10 inch, membuat Rena mendongak mengalihkan pandangan ke arah pengunjung yang memenuhi Lounge, mereka mungkin juga merasa bosan menunggu keberangkatan pesawat yang sedang delay seperti dirinya.


Alih-alih mencoba berpaling, tapi netra Rena justru kembali memperhatikan pengunjung Lounge yang menarik perhatiannya. Ia memastikan pengelihatan tidak salah. Ia bertemu lagi dengan pria itu setelah terakhir bertemu di Samarinda. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya setelah tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu.


Tentu saja Rena tak buta, ia bisa melirik dari ujung matanya pria itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Assalamu'alaikum, nggak nyangka ketemu lagi disini," sapanya langsung duduk saja disofa di depan Rena.


"Eh Ya, Wa'alaikumusalam," jawab Rena terkejut pasti. Ia mencoba mengulas senyum, untungnya jarak sofa yang berhadapan lebih dari satu meter.


"Disini kosong 'kan?" tanya pria itu.


"Ya kosong, disana juga banyak yang kosong," jawab Rena menunjuk deretan kursi di depannya.


Pria itu memutar kepalanya memperhatikan arah telunjuk Rena.


"Kayaknya lebih nyaman disini," balasnya menumpukan salah satu kaki di lutut, menyadarkan punggung menyamankan posisi duduknya.


"Ya terserah kamu, kamu juga yang bayar 'kan." Rena kembali fokus melihat iPad. Ia merasa sedikit risih teman masa kuliahnya itu terus memandanginya. Ya bagaimana tidak! Mereka duduk berhadapan, seperti tidak ada tempat duduk lain saja.


"Mau kemana?" tanya Farhan yang merasa aneh harus diam saja bertemu orang yang dikenalnya itu.


"Mau ke Balikpapan, tapi delay karena cuaca buruk."


"Sama dong, jangan - jangan kita satu pesawat," serunya.


"Kayaknya sih iya, penerbangan pagi cuma satu kali untuk maskapai ini." Rena terpaksa menanggapi.

__ADS_1


Pria yang memakai setelan casual kaos polo itu hanya mangut-mangut. "Kamu sendirian?" tanyanya lagi.


"Enggak! Sama suamiku," balas Rena lantang.


Sebenarnya ia juga senang saja bertemu teman lama. Terlebih sekarang Farhan jadi pelanggan setia Rengga bread yang memesan ribuan roti setiap Jumat untuk kegiatan jumat berkah di masjid-masjid.


Tapi sebagai seorang wanita berbicara dengan lawan jenis tetaplah tak membuatnya merasa tenang. Terlebih sekarang ia sudah berstatus istri dan sedang bersama suaminya. Rena tentu merasa tak nyaman dengan keberadaan Farhan di dekatnya. Terlebih pria itu terus mengajak bicara untuk mencoba kembali akrab.


"Oh, berarti angkatan UKM kita kayaknya aku saja yang masih sendiri?"


"Masa sih!" Rena terpaksa merespon lawan bicaranya ketika menyebut organisasinya di masa lalu.


"Serius!" jawabnya.


"Apa yang salah dari Farhan Ratara Jasa hingga jodohnya tak kunjung datang," canda Rena. Mana mungkin kan seseorang yang tampan dan mapan, baik pula tak punya daya tarik untuk kaum hawa.


"Selera sih Ren," jawab pria itu enteng.


Sementara di dekat jendela tempat Lounge yang menghadap landasan pacu pesawat yang basah karena tetesan air hujan, Angga masih sibuk menerima telepon dari kantor. Sungguh, kantor tak membiarkannya libur di hari kerja meskipun hanya satu hari. Semua masalah perusahaan selalu di konsultasikan padanya, begini resiko menjadi kaki tangan Presdirnya. Padahal bisa saja mereka berbicara langsung pada Miranda Wilson, tapi mereka enggan untuk itu, mereka lebih mempercayai dirinya.


Dadanya mendadak panas, hingga giginya mengerat geram melihat istrinya yang sempat melempar tawa pada pria yang terlihat lebih muda darinya itu.


"Tolong! Hubungi aku setelah tiba di kota tujuanku." Angga mematikan sambungan teleponnya. Ada yang lebih penting dari urusan kantor, yaitu urusan hati!


Dengan langkah kilat Angga menghampiri istrinya.


"Hmmm," dehem Angga menghentikan bicara pria berparas tampan beralis tebal itu.


"Mas!" Rena langsung berdiri merangkul lengan suaminya. Pandangan langsung ke arah pria yang sedari tadi berbicara dengan istrinya.


"Oh Ya, Mas ini teman satu organisasi Rena yang pernah ku ceritakan. Kebetulan kita ketemu disini. Dia sekarang jadi pelanggan setia Roti kita loh."


Pria berperawakan tinggi itu berdiri mengulurkan tangan pada Angga. "Farhan."


"Angga, suami Renata!" jelas Angga penuh penekan menahan rasa panas yang tiba-tiba langsung menghantam jantungnya. Nama itu tentu tak asing untuk Angga. Nama itu yang kerap kali menghubungi istrinya.

__ADS_1


"Dia anaknya Pak Yunus Ratarajasa Mas." Rena memperjelas status temannya.


Angga hanya mengangguk, tentu saja ia sangat tahu siapa keluarga Ratarajasa. Jika di kotanya ada keluarga Adiguna yang sudah terkenal kaya raya dengan membuat acara-acara mewah bertabur bintang, salah satu persaingnya mungkin adalah keluarga Ratarajasa. Keluarga ini dikenal kaya dengan cara yang berbeda, karena pernah menjadi salah satu menyumbang dana kampanye satu calon terpilih ketika itu. Keluarga Ratarajasa juga lebih sering dikenal mengadakan acara pengajian yang mengundang tokoh-tokoh agama tersohor.


"Maaf Farhan. Saya ingin mengajak istri saya pindah kesana." Angga menunjuk barisan sofa dekat jendela.


"Oh Ya, silahkan. Senang bertemu Mas Angga dan Rena." Farhan mundur satu langkah membuka jalan untuk pasangan suami istri itu.


"Sampai ketemu lagi dikota kita," sambung Farhan. Rena hanya mengangguk dan tersenyum menghormati.


"Permisi assalamu'alaikum," jawab Angga.


"Wa'alaikumusalam," balas Farhan masih melihat pasangan suami-istri yang perlahan menjauhinya.


Ia langsung melingkarkan tangan di pinggang Rena. Rasa panasnya masih belum padam meskipun sudah jauh beberapa meter dari pria itu. Rena hanya bisa menurut karena suaminya mendadak diam dan wajahnya terlihat kesal.


Angga merapatkan duduk di sebelah Rena ketika sampai di sofa yang maksud. Ia tak mau lagi berjauhan dari istrinya yang membuat kesempatan pria asing untuk bicara dengan istrinya.


"Lain kali kalau ada orang yang ngajak ngobrol apalagi laki-laki, Adek cepat-cepat datangin Mas," seru Angga ketus.


"Dia temanku Mas, lagipula ini tempat umum kita bisa ketemu siapa saja kan," balas Rena.


Angga malas menanggapi. Ia tak mau membahas lebih lanjut orang yang dimaksud teman istrinya itu.


.


.


.


.


Bersambung .....


Panjang nih....

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘


__ADS_2