
Angga langsung menunju ke lokasi komplek mes karyawan tanpa melewati gerbang utama. Ia memburu waktu yang semakin larut. Ia tak ingin terjadi fitnah yang menimbul persepsi tidak baik menemui seorang gadis di malam hari meskipun ia adalah bosnya.
Angga sangat mengerti para pekerja berkerja keras pada siang hari. Mungkin mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu istirahat yang berharga. Terbukti baru pukul sembilan saja mes sudah sangat sepi ditinggal penghuninya dibalik tembok.
Ia mengetuk pintu kamar Celin. Beberapa kali ia mengetuk tak ada sahutan dari dalam kamar. Angga meraih ponselnya untuk menghubungi gadis itu. Sialnya! Ia lupa mengisi daya ponselnya.
Angga mencoba sekali lagi untuk mengetuk pintu kamar Celin, mungkin gadis itu terlalu lelap tidur hingga tak mendengar kebisingan dari luar. Usaha yang sia-sia, bukannya Celin yang keluar malah tetangga kamarnya yang terbangun.
"Pak Angga, Bapak cari siapa?" tegur pria muda itu dengan sopan karena tahu Angga adalah atasan dari atasannya.
"Saya mencari Celin, mahasiswa yang tadi pagi menghuni kamar ini.
"Kamar sebelah sepertinya dari tadi kosong Pak," seru pria itu.
"Kosong?" Angga binggung. Kalau sebelah kosong, dimana Celin sekarang?
"Siapa nama kamu?" tanya Angga.
"Salim Pak," jawabnya sopan.
"Salim sekarang kamu cari atau hubungi pengurus mes suruh temui saya sekarang juga!" titah Angga.
"Baik Pak," pria itu pergi meninggalkan Angga mengerjakan perintahnya.
Angga menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia memegangi keningnya yang mulai pusing memikirkan keberadaan Celin. Pikirannya mulai tidak tenang. Kemana gadis itu pergi malam-malam di pekebunan yang sepi seperti ini?
Tak lama setelah pergi, pria muda Kembali dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Pak, Bu Imah keluar, ini saya hanya bisa menelpon saja." Pria itu menyerahkan ponselnya pada Angga.
Angga langsung meraih ponsel pemuda itu.
"Bapak mencari saya," suara sopan pada Angga dari ponsel.
"Bu Imah, dimana Celin? Kenapa dia tidak ada di kamarnya!" tanya Angga sedikit emosional.
"Maaf Pak, saya dapat perintah dari kantor untuk memindahkan Celin karena penghuni kamar akan datang. Dan kata orang kantor Celin harus pindah ke kamar khusus, itu perintah langsung dari pak Angga karena Celin orang istimewa Pak Angga."
"Orang istimewa! Fasilitas yang di berikan pada Celin sama dengan yang lain!"
"Maaf Pak Angga kalau saya salah, saya hanya menjalankan perintah dari orang kantor," nada bicara di ponsel terdengar takut.
"Lain kali pastikan siapa orang yang menyuruh! Sekarang urusan di kantor yang ada di pekebunan kewenangan IC bukan saya! Sekarang Celin ada kamar mana!" Angga mulai naik pitam namanya di salah gunakan untuk orang lain. Terlebih kali ini targetnya kenapa harus Celin, mahasiswa yang belum mengenal apapun lingkungan kantor ini.
"Blok satu!" Angga mulai curiga.
"Ya!" Angga menutup telepon, ia menyerahkan ponsel pada pemuda itu dengan buru-buru.
Ia bergegas ke kamar blok satu yang berada di 3 gang dari tempatnya. Mobilnya bergerak menuju beberapa meter ke depan.
Angga mendadak cemas. Siapa yang menyuruh Celin pindah ke kamar blok satu yang khusus di huni petinggi perusahaan. Seingatnya kamar itu lama kosong beberapa bulan karena belum menemukan posisi senior Manager baru untuk kantor perkebunan.
Angga menginjak rem kasar ketika sudah sampai tujuannya. Benar saja! tiga kamar itu terlihat kosong. Ia bergerak menuju kamar ke tiga sesuai petunjuk pengurus mes. Kamar ketiga yang berada di ujung terlihat seperti tak berpenghuni. Bahkan terlihat gelap di bandingkan dua kamar yang lain yang masih menyalakan lampu depan.
Apa mungkin Celine ada di dalam? Angga tampak ragu dan akan berbalik memastikan kembali ucapan pengurus Mes benar Celin ada di kamar itu.
__ADS_1
Tapi baru beberapa langkah, ia samar mendengar seseorang meminta tolong. Angga yang mulai curiga kembali lagi ke depan pintu kamar memastikan suara itu dari balik daun pintu. Samar suara tangisan terdengar dari dalam. Kecurigaannya semakin kokoh setelah memperhatikan hanya kamar yang di tempati Celin sekring listrinnya turun. Angga menaikan sekringnya dengan sekejap lampu didalam dan diluar ruangan menyala.
Tok ... tok ... tok.
"Celin! Kamu di dalam!" teriak Angga sambil mengedor pintu.
"CELIN!" teriaknya lagi karena tak mendapat jawaban.
"Pak Angga!" Angga mendengar dengan jelas sekarang suara serak memanggil namanya.
"Celin, kamu di dalam! Buka pintunya Celin!" Angga mendadak Panik tidak mendapat jawaban dari dalam. Ia hanya mendengar jelas kali ini Celin terus memanggil namanya. Celin pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Celin, sekarang kamu minggir jika berada di belakang pintu, saya akan dobrak pintunya!" Kakinya mulai menendang-nendang pintu keras itu untuk memastikan keadaan Celin di dalam sana.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .....