Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Memaafkan


__ADS_3

Satu pekan yang berat telah dilewati. Sanak saudara masih berkumpul dirumah Celin.


Rena melangkah keluar rumah. Pemandangan pertama yang Rena saksikan adalah beberapa orang membersihkan karangan bunga. Puluhan karangan bunga yang memenuhi halaman dua rumah yang bersebelahan ini. Rena turun menuju ke halaman. Ia menyapa dan memberi sedikit arahan pada orang-orang yang berjasa mengkondisikan kembali halaman rumahnya.


Langkahnya sempat terhenti ketika memperhatikan nama salah satu karangan bunga yang menarik perhatiannya. Kenapa tidak menggunakan nama instansi atau perusahaan seperti yang lainnya.


Entahlah.


Farhan Ratarajasa. Pria yang tak lagi berkomukasi dengannya beberapa minggu terakhir. Rena tak tahu apakah pria itu datang bertakziah atau tidak di rumah duka. Rena larut dalam kesedihan hingga tak bisa memperhatikan orang-orang yang menyampaikan bela sungkawa padanya. Intinya Rena senang karena sahabatnya itu mau bersimpati.


Seperti yang ia tahu, pria itu dan suaminya sedang berselisih. Rena hanya ingin keduanya kembali damai. Mereka adalah rekan bisnis, tak baik terlalu lama terjadi perselisihan karena kesalahpahaman.


“Ibu!” suara yang membuat Rena menoleh seketika.


“Teryata disini, dicari sama Bu Sinta,” ucap Mbak Sri yang sekarang berada di depan Rena dengan terburu-buru.


“Ya Mbak Sri.” Rena mengandeng lengan ART itu untuk bersama-sama masuk ke dalam rumah.


Bu Sinta juga tak kalah terpukul dengan kepergian Celin. Bahkan ia sempat tak bisa sadarkan diri ketika tahu ibu dari cucunya itu telah pergi untuk selamanya. Ibu mertuanya juga sempat mendiamkan dirinya suaminya beberapa waktu, sebelum akhirnya sama-sama menyadari bahwa semua sudah menjadi garis takdir Tuhan.


“Ren, jam berapa kamu nanti ke tempat Shafi,” tanya wanita paruh bayah itu.

__ADS_1


“Kayaknya sore bu,” jawab Rena kini bergabung duduk di sofa bersama ibu mertuanya.


“Ibu sudah bereskan baju-bajunya Shafi,” Bu Sinta menyerahkan tas berwarna pink itu.


Rena menerima tas itu dari ibu mertuanya.


“Ibu benar-benar nggak nyangka waktu itu saat terakhir kita pergi bersama-sama ke kajian dengan bundanya Shafi.” Raut wajah ibu mertuanya berubah murung.


Rena mengambil tangan ibu mertuanya, mengenggam erat tangan ibu mertuanya. “Bu, semua sudah ada garis hidup masing-masing. Semua sudah di catat jauh sebelum kita lahir. Takdir manusia sudah di tetapkan di Lauh Mahfudz. Jika waktu bisa diulang, Renalah orang yang paling ingin itu terjadi Bu.”


Ibu mertuanya memeluk Rena.


“Bu. Rena sudah mengangap Shafi seperti anak Rena sendiri Bu. Ibu tak perlu meragukan Rena untuk hal itu.”


“Ibu percaya Ren. Semoga Shafi juga bisa membantu jadi pancingan untuk adeknya nanti.” Bu Sinta mengelus perut Rena.


“Amin,” balas Rena dengan senyum teduh.


“Maaf bu,” sela Mbak Sri. Kedua wanita itu menoleh bersamaan.


“Ada Pak Bram cari bapak Bu,” jawab Mbak Sri menunjuk kearah ruang tamu.

__ADS_1


“Panggilkan saja Angga Ren, mau apa Pak Bram kesisni,” usul Bu Sinta.


Rena mengambil nafas dalam.


Suaminya mungkin masih bersitegang dengan mantan mertuanya itu. Pak Bram juga tak terlihat saling menguatkan dengan suaminya ketika pemakaman. Mereka bahkan tak saling bicara selama acara pemakaman berlangsung.


Rena sudah terganggu pikirannya sejak semalam. Diamnya Pak Bram justru membuatnya merasa aneh! Lebih baik pria itu marah, kerahkan semua anak buahnya untuk menghakimi saja itu jauh lebih baik.


“Suruh tunggu Mbak Sri, Saya panggilkan Mas Angga.”


.


.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2