Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Rasa Yang Bergejolak


__ADS_3

Rena sudah berada di ruangan lain di hotel ini. Ia bersama teman masa lalunya sudah duduk di resto hotel yang letaknya di rooftop hotel. Meski ia tempat ini ramai, tapi sungguh rasanya begitu aneh duduk berdua dengan seorang pria. Terlebih suasana di tempat ini lebih di dominasi pasangan yang ingin menghabiskan waktu malam bersama.


Rena menebalkan keyakinan, bahwa ini tak lebih dari sekedar formalitas dari bagian pekerjaannya.


Farhan pun menurut Rena juga bersikap profesional. Ia sama sekali tak menunjukkan sikap diluar kewajaran lebih dari seorang teman.


Tak lama seorang berpakaian putih membawakan nampan di tangannya. Pria itu menyajikan dengan ramah menu yang di hidangkan, kemudian pergi.


Rena tentu tak asing dengan hidangan yang menjadi kudapan favorit menu sarapan di kota ini. Bedanya permukaan kue itu berwarna kuning, Rena sudah bisa menebak ciri khas kue ini yang biasa menggunakan gula merah sudah di variasi.


"Coba Ren," seru Farhan yang sudah siap dengam garpunya.


Rena pun melakukan hal yang sama, ia mulai merasakan di mulutnya ada sensasi yang berbeda ketika merasakan kue talam ini. Ia merasakan ada rasa durian yang tajam. Enak! satu kata yang bisa Renata ingin ucapakan setelah menelan kudapan ini.


"Gimana?"


"Enak! Aku nggak peres. Kalau enak aku bilang begitu. Soalnya lidah aku nggak bisa bohong."


Farhan tersenyum teduh, "Ini makanan buatan Mama yang paling aku suka."


Rena mangut-mangut, ternyata wanita yang cintai temannya itu adalah Ibunya. Manis sekali, semua anak laki-laki pasti dekat dengan Ibunya. "Salam buat ibu kamu kalau begitu. Ini enak."


"Mama aku udah meninggal Ren, tiga tahun lalu," seru pria itu.


"Maaf," ucap Rena yang memang tak terlalu tahu masalah pribadi keluarga kaya itu.


"Nggak apa-apa. Sekarang ibu aku hanya Chika," lanjut pria itu.


"Chika? Kakak tingkat kita?" tanya Rena.

__ADS_1


Farhan mengangguk. Jadi ayahnya menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda. Rena memilih jadi pendengar yang baik untuk Farhan kali ini.


"Mamaku danial paling hebat. Berhadapan didepan semua orang, ia selalu menampakkan senyum termanisnya seolah tak terjadi apa-apa. Tapi setelah ia sendiri rasa sakit dan air matanyalah yang hanya bisa berbicara."


"Mulutnya selalu berkata iklhas, tapi hati dan raganya bagai disayat. Ia pasti sakit hati dan raganya meskipun ia selalu di kuncurkan ribuan berlian sekalipun. Bagaimana bisa kesetianya bertahun-tahun di balas dengan ke tamakan seseorang laki-laki dengan dalih bisa berbuat adil. Cih!"


Rena mengambil nafas dalam. Kenapa Farhan menceritakan hal ini padanya. Itu hanya akan membuat matanya kini mengenang mengingat keadaan dirinya meskipun konteksnya berbeda.


"Kadang seorang wanita lebih memikirkan harinya daripada logika. Jika hatinya teguh pada suatu pendirian maka ia akan bertahan sekencang apapun badai yang akan menghantam," ucap Rena.


Farhan tersenyum miris, "Sebagai seorang anak yang selalu melihat ibunya menghabiskan hari tanpa menangis. Aku sangat yakin Ren, tidak ada satupun wanita yang ikhlas berbagi cinta suaminya dengan Wanita lain."


Rena tak bisa lagi membendung air matanya. Kenapa arah pembicaraan justru membawanya pada duka yang selalu ia pendam.


Farhan menyodorkan sapu tangan untuk Rena. "Ini bersih, belum aku pakai sama sekali."


"Nanti aku cuci terus kembalikan," seru Rena mengambil sapu tangan itu.


"Nggak perlu di kembalikan Ren," seru pria itu.


"Maaf! cerita kamu mengharukan," elak Renata. "Kalau kamu nggak keberatan aku bisa pamit sekarang? Sepertinya hari mulai gelap." Rena beranjak berdiri. Ia tak ingin lama-lama berbicara dengan pria yang bisa membuatnya lepas kendali untuk ikut bercerita perihal rumah tangganya.


"Ren tunggu sebentar! Aku mau tanya sama kamu sebentar saja!" Rena kembali duduk untuk menghormati.


Farhan ikut duduk, mengambil nafas berusaha meredam gejolak rasa yang tiba-tiba menyerang dirinya. "Ren! Jika diberi sebuah pilihan! Pantaskah seseorang bertahan untuk sesuatu yang hanya akan membuat terus mengeluarkan air mata seperti ibuku?"


"Ketika ada laki-laki yang bersumpah kepada RabbNya atas namanya. Disitulah Sang Wanita akan berikrar untuk berbakti dan setia kepadanya hingga mautlah yang akan memisahkan keduanya," balas Rena.


Farhan tak bisa lagi membalas perkataan Rena yang lugas dan tak goyah.

__ADS_1


Rena berdiri. "Maaf Farhan, aku harus pergi sekarang."


"Ya Ren, sekali lagi terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mencoba menu baru untuk Resto ini." Pria itu ikut berdiri.


Rena mengangguk, Farhan pun membiarkan wanita yang di anggapnya teguh itu, melengos pergi begitu saja. Ia tak mau lagi berbasa-basi yang hanya akan membuat rasa aneh dalam dirinya semakin menjadi.


Salahkan yang dilakukannya ini, mengharapkan sesuatu yang lebih untuk seorang wanita yang sudah bersuami?


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .....


Sori baru bisa up 🙏 🙏🙏


Kira-kira sudah ada gambaran nggak dear gimana endingnya 😁😁


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2